Jumat, 04 Desember 2015

MOTIVASI BELAJAR DALAM AL QUR’AN

Dalam kamus besar bahasa Indonesia motivasi adalah, “suatu dorongan yang timbul pada seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.” Perbuatan pencapaian tujuan ini melahirkan kepuasan pada diri seseorang.  Tidak bisa dipungkiri, setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu dimulai dengan motivasi (niat) sebagaimana sabda Rasulullah saw,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ[1]

Sesungguhnya setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan.

Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri pembelajar yang menimbulkan perbuatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari perbuatan belajar dan yang memberikan arah pada perbuatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh pembelajar itu dapat tercapai.

Al Qur’an memotivasi dan mengarahkan setiap manusia untuk belajar, diantaranya tertera dalam surat al An’am ayat ke 50 dan 160,

قل لا أقول لكم عندي خزآئن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم إني ملك إن أتبع إلا ما يوحى إلي قل هل يستوي الأعمى والبصير أفلا تتفكرون

Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)

من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسيئة فلا يجزى إلا مثلها وهم لا يظلمون

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya /dirugikan.”

AL QUR’AN DAN PERADABAN INTELEKTUAL

Menurut az Zuhaili, ayat 50 surat al an’am ini terkait dengan perilaku orang-orang musyrik yang meminta kepada Rasulullah saw sebuah tanda kenabiannya dalam bentuk “معجزات ماديّة قاهرة[2] kemukjizatan bersifat kebendaan yang luar biasa. Hal ini merupakan kebodohan terhadap keutamaan di utusnya Rasulullah saw serta risalah yang dibawanya.

Rasulullah saw menegaskan bahwa wahyu yang diterimanya berupa al Qur’an adalah mukjizat, sebagaimana mukjizat yang diterima setiap nabi. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ[3]

Tidak ada seorang nabipun dari pada nabi-nabi kecuali diberikan kepada mereka (mukjizat) yang serupa agar orang-orang beriman kepadanya, dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku berharap pengikutku yang paling banyak

Mukjizat adalah sebuah kejadian yang luar biasa yang disertai dengan sikap penentangan, sehingga dengan adanya mukjizat tersebut menjadi landasan keselamatan dari para penentang. Sebagian besar mukjizat-mukjizat yang ditunjukkan kepada bani Israil bersifat indrawi dan kebendaan, hal ini mungkin disebabkan ketidak sanggupan akal dan rendahnya pengetahuan yang mereka miliki.

Berbeda dengan hal tersebut, as Suyuti berkata, “أَكْثَرُ مُعْجِزَاتِ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَقْلِيَّةٌ لِفَرْطِ ذَكَائِهِمْ وَكَمَالِ أَفْهَامِهِمْ وَلِأَنَّ هَذِهِ الشَّرِيعَةَ لَمَّا كَانَتْ بَاقِيَةً عَلَى صَفَحَاتِ الدَّهْرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ خُصَّتْ بِالْمُعْجِزَةِ الْعَقْلِيَّةِ الْبَاقِيَةِ لِيَرَاهَا ذَوُو البصائر[4] sebagian besar mukjizat bagi ummat ini bersifat intelektual dikarenakan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman mereka. Dikarenakan pula syari’at ini akan tertulis abadi sepanjang masa hingga hari kebangkitan. Dikhususkannya mukjizat intelektual yang abadi ini agar dapat diketahui oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan.

Berdasarkan pemikiran tersebut dapat kita fahami adalah bahwa mukjizat yang bersifat indrawi dan kebendaan akan lenyap bersama lenyapnya bangsa-bangsa tersebut dan tidak ada lagi yang dapat menyaksikan kejadian tersebut kecuali mereka yang hidup pada masa itu. Sedangkan mukjizat al Qur’an abadi, senantiasa menginspirasi manusia dan menjawab tantangan hidup mereka dari generasi ke generasi. Dari Ali bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

«سَتَكُونُ فِتَنٌ» . قُلْتُ: وَمَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا؟ قَالَ: " كِتَابُ اللَّهِ، كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا قَبْلَكُمْ، وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ[5]
Akan terjadi fitnah, maka dikatakan, apakah ada jalan keluar darinya? Beliau bersabda: kitabullah di dalamnya terdapat penjelasan tentang pendahulu kalian dan kabar dimasa datang, serta hukum diantara kalian

Selain abadi dan menjadi solusi permasalahan manusia, kemukjizatan al Qur’an adalah aspek intelektualitas dan rasionalitasnya, hal ini menegaskan kebangkitan peradaban intelektual ummat adalah dampak kemukjizatan yang akan diraih oleh ummat Islam jika mereka kembali melakukan proses tafaqquh secara benar terhadap al Qur’an. Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “مَنْ أَرَادَ الْعِلمَ فَعَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ” barangsiapa menginginkan ilmu raihlah dengan al Qur’an. Dikatakan pula “فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ” maka bangkitkanlah al Qur’an karena didalamnya terdapat ilmu bangsa-bangsa terdahulu dan masa depan.[6]
           
PERSPEKTIF AL QUR’AN TERHADAP ILMU DAN KESUKSESAN

Al Qur’an menyeru manusia untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Dalam Islam dimensi dunia tidak bisa dipisahkan dengan akhirat, karena akhirat adalah tujuan keberhasilan hidup jangka panjang yang bersifat kekal dan abadi. Dalam ayat ke 50 surat al An’am ini Allah ta’ala membuat perumpamaan antara orang buta dan orang yang dapat melihat.  Menurut Mujahid, maksud dari firman Allah ta’ala , “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” adalah “apakah sama antara orang yang menyimpang dari perkara yang benar “الضَّالَّ” dengan orang yang berada dalam petunjuk “المُهتَدِيَ”.[7] Pendapat lain dikemukakan oleh al Mawardi, yang dimaksud orang buta dan melihat adalah “الجاهل والعالم[8] orang bodoh dan orang berilmu.

Ath Thobari meriwayatkan dari Qatadah bahwa yang dimaksud dengan orang buta adalah, “الكافر الذي قد عمي عن حق الله وأمره ونعمه عليه” orang kafir yang tidak melihat kebenaran Allah, kekuasaan serta anugerah yang Dia limpahkan. Sedangkan maksud orang yang dapat melihat adalah, “العبد المؤمن الذي أبصر بصرًا نافعًا، فوحّد الله وحده، وعمل بطاعة ربه، وانتفع بما آتاه الله[9] orang beriman yang melihat hal-hal yang bermanfaat, mengesakan Allah dan menta’ati Allah serta mengambil manfaat atas segala yang Allah berikan kepadanya.

Pendapat-pendapat tersebut di atas menjelaskan pandangan al Qur’an terhadap orang-orang yang mengabaikan wahyu dan yang mengambil manfaat dari wahyu tersebut. Allah mengibaratkan orang-orang yang tidak mengambil manfaat dari al Qur’an sebagai orang-orang yang bodoh, buta, sesat dan mengingkari anugerah yang Ia turunkan bagi manusia. Allah juga mengibaratkan orang-orang yang mengambil manfaat dari al Qur’an sebagai orang berilmu yang normal penglihatannya, senantiasa dalam petunjuk dan mendapatkan manfaat dari apa yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Sehingga Abu Laits as Samarqandy berkata “أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ في أمثال القرآن ومواعظه” tidakkah kalian memperhatikan perumpaan-perumpamaan dan pelajaran-pelajaran dalam al Qur’an.

Dengan kata lain orang-orang yang buta adalah mereka yang penglihatannya hanya sampai pada sisi kehidupan dunia yang terbatas. Informasi, ilmu dan kompetensi yang berhasil diraihnya di dunia hanya membawa manfaat baginya juga hanya di dunia saja. Sedangkan orang-orang yang dapat melihat adalah mereka yang mampu meraih keberhasilan jangka panjangnya. Informasi, ilmu serta kompetensi yang dimilikinya membawa manfaat tidak hanya didunianya semata tapi juga bagi kehidupan sesudah kematiannya.
Sebagai contoh seruan al Qur’an terhadap ilmu, adalah kisah nabi Sulaiman as, dalam surat an Naml ayat 40, tentang seorang hamba yang mempunyai ilmu yang sanggup membawa singgasana ratu Balqis dalam sekedipan mata. Muhammad Syaddid berpendapat, “ini adalah sebuah contoh al Qur’an memotivasi orang untuk berfikir, al Qur’an hanya menunjukkan kunci-kunci ma’rifah dan rahasia alam serta mendorong manusia untuk mengkaji dan meneliti.”[10] Demikianlah al Qur’an menggiring manusia agar dengan potensinya melakukan penelitian, pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk keberhasilan dunia dan akhiratnya.

ALLAH MELIPATGANDAKAN BALASAN ATAS KEBAIKAN

Firman Allah ta’ala dalam surat al An’am merupakan contoh motivasi bagi manusia agar senantiasa beramal sholeh termasuk diantaranya adalah belajar. al Mawardi menafsirkan sebagai berikut, menurutnya “balasan 10 kali lipat atas amal baik adalah sebagai anugerah keutamaan bagi orang yang beramal sholeh, sedangkan balasan seimbang atas sebuah kejahatan adalah tanda keadilan Allah.”[11] Selanjutnya ia menjelaskan bahwa yang dimaksud balasan 10 kali lipat bukanlah dalam artian pahala disisi Allah, sebab dalam surat al Baqarah ayat 261 Allah ta’ala melipatgandakan balasan atas infaq hingga sebesar 700 kali lipat.[12] Sehingga al Mawardi mengemukakan bahwa diantara pendapat para ulama tafsir balasan yang dimaksud pada ayat ini adalah “مضاعفة تفضيل[13] pelipatgandaan keutamaan. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Fathir ayat 30

ليوفيهم أجورهم ويزيدهم من فضله إنه غفور شكور

agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Dengan demikian orang-orang yang berbuat kebaikan memperoleh banyak sekali balasan kebaikan, selain pahala yang diperoleh disisi Allah juga tambahan kenikmatan dari sisi Allah.

Pendapat lain dikemukakan oleh az Zuhaili, menurutnya maksud balasan atas kebaikan adalah sebagai berikut, “من جاء يوم القيامة بالخصلة الحسنة والفعلة الطيبة من الطاعات، فله جزاؤها عشر حسنات أمثالها ، ولكن قد تضاعف الحسنة بعد ذلك إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة” barang siapa yang datang pada hari kiamat dengan akhlaq dan perbuatan yang baik dalam bentuk ketaatan, baginya balasan sepuluh kali lipat yang semisal, dan kemudian dilipat gandakan kebaikannya setelah itu hingga 700 kali lipat. Kemudian az Zuhailiy mengutip surat al Baqarah ayat 261. 

Terkait dengan sifat Allah ta’ala yang Maha Pengasih dan Penyayang ini, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً[14]

Sesungguhnya Allah ta’ala telah menulis kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya, barang siapa berkeinginan berbuat baik namun belum mengerjakannya maka Allah catatkan baginya kebaikan yang sempurna, dan barang siapa mengerjakan keinginan baiknya maka Allah catatkan baginya disisi Allah  sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga pelipat-gandaan yang banyak. Dan barang siapa yang berkeinginan berbuat buruk dan tidak mengerjakan maka Allah catatkan baginya kebaikan yang sempurna dan barang siapa yang mengerjakan keinginan buruknya maka Allah catatkan baginya satu kejahatan

Hasbunallah wa ni’mal wakil


[1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhari al Ju’fi, 1422H, Shahih al Bukhari, Beirut: Daar Thuuq an Najah 1/6 hadits no 1.
[2] Wahbah bin Musthofa az Zuhaili, 1418 H, at Tafsir al Munir fil Aqidati wasy Syari’ati wal Manhaj, Damaskus : Daar al Fikr al Mu’ashir, 7/210.
[3] Al Bukhari, op.cit, 6/182 hadits no 4981.
[4] Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin as Suyuti, 1394 H, al Itqan fi Ulumil Qur’an, Mesir : al Haiah al Mishriyah al ‘Ammah lil Kitab, 4/3
[5] Abu Muhammad Abdullah Abdurrahman bin Fadhil bin Abdus Shomad ad Darimi, 1412H, Musnad ad Darimiy, Saudi Arabia: Daar al Mughni lin Nasyr wat Tauzi’, 4/2098 hadits no 3374. Menurut Husain Salim Asad ad Daraniy pada sanad ini terdapat 2 perawi yang majhul.
[6] Ahmad bin al Husain bin Aly bin Musa al Khurasany Abu Bakar al Bayhaqi, 1423 H, Sya’abul Iman, Riyadh: Maktabah ar Rusyd lin Nasyr wat Tauzi’, 3/347 atsar no 1808. Al Baihaqy menambahkan bahwa yang dimaksud adalah al Qur’an merupakan asas segala ilmu.
[7] Abul Hajaj Mujahid bin Jabr at Tabi’iy al Maky al Qurasy al Makhzumi, 1410 H, Tafsir Mujahid, Mesir: Daar al Fikr al Islamy al Haditsah, h 322.
[8] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin habib al Bashariy al Baghdady al Mawardy, tt, an Nukat wal Uyun, Beirut-Libanon : Daar al Kutub al Ilmiyyah, 2/117.
[9] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Abu Ja’far ath Thobari, 1420 H, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Beirut : Muasasah ar Risalah, 11/372.
[10] Muhammad Syadid, tt, Manhaj al Qur’an fit Tarbiyyah, (edisi terjemah oleh: Nabhani Idris), Jakarta: Rabbani Press, h 134.
[11] Al Mawardi, op.cit, 2/193.
[12] Ayat yang dimaksud adalah “مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
[13] Ibid, 2/194
[14] Al Bukhari, op.cit, 8/103 hadits no. 6491.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar