MOTIVASI BELAJAR DALAM AL QUR’AN



Dalam kamus besar bahasa Indonesia motivasi adalah, “suatu dorongan yang timbul pada seseorang secara sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.” Perbuatan pencapaian tujuan ini melahirkan kepuasan pada diri seseorang.  Tidak bisa dipungkiri, setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu dimulai dengan motivasi (niat) sebagaimana sabda Rasulullah saw,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ[1]

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan bergantung pada niatnya, dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya sesuai dengan yang ia niatkan.”

Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri pembelajar yang menimbulkan perbuatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari perbuatan belajar dan yang memberikan arah pada perbuatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh pembelajar itu dapat tercapai.


Al Qur’an memotivasi dan mengarahkan setiap manusia untuk belajar, diantaranya tertera dalam surat al An’am ayat ke 50 dan 160,

قل لا أقول لكم عندي خزآئن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم إني ملك إن أتبع إلا ما يوحى إلي قل هل يستوي الأعمى والبصير أفلا تتفكرون

“Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya) ”

من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسيئة فلا يجزى إلا مثلها وهم لا يظلمون

“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya /dirugikan.”

AL QUR’AN DAN PERADABAN INTELEKTUAL

Menurut az Zuhaili, ayat 50 surat al an’am ini terkait dengan perilaku orang-orang musyrik yang meminta kepada Rasulullah saw sebuah tanda kenabiannya dalam bentuk “معجزات ماديّة قاهرة”[2] kemukjizatan bersifat kebendaan yang luar biasa. Hal ini merupakan kebodohan terhadap keutamaan di utusnya Rasulullah saw serta risalah yang dibawanya.

Rasulullah saw menegaskan bahwa wahyu yang diterimanya berupa al Qur’an adalah mukjizat, sebagaimana mukjizat yang diterima setiap nabi. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,

مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ البَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ القِيَامَةِ[3]

“Tidak ada seorang nabipun dari pada nabi-nabi kecuali diberikan kepada mereka (mukjizat) yang serupa agar orang-orang beriman kepadanya, dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, maka aku berharap pengikutku yang paling banyak ”

Mukjizat adalah sebuah kejadian yang luar biasa yang disertai dengan sikap penentangan, sehingga dengan adanya mukjizat tersebut menjadi landasan keselamatan dari para penentang. Sebagian besar mukjizat-mukjizat yang ditunjukkan kepada bani Israil bersifat indrawi dan kebendaan, hal ini mungkin disebabkan ketidak sanggupan akal dan rendahnya pengetahuan yang mereka miliki.

Berbeda dengan hal tersebut, as Suyuti berkata, “أَكْثَرُ مُعْجِزَاتِ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَقْلِيَّةٌ لِفَرْطِ ذَكَائِهِمْ وَكَمَالِ أَفْهَامِهِمْ وَلِأَنَّ هَذِهِ الشَّرِيعَةَ لَمَّا كَانَتْ بَاقِيَةً عَلَى صَفَحَاتِ الدَّهْرِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ خُصَّتْ بِالْمُعْجِزَةِ الْعَقْلِيَّةِ الْبَاقِيَةِ لِيَرَاهَا ذَوُو البصائر”[4] sebagian besar mukjizat bagi ummat ini bersifat intelektual dikarenakan kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman mereka. Dikarenakan pula syari’at ini akan tertulis abadi sepanjang masa hingga hari kebangkitan. Dikhususkannya mukjizat intelektual yang abadi ini agar dapat diketahui oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan.

Berdasarkan pemikiran tersebut dapat kita fahami adalah bahwa mukjizat yang bersifat indrawi dan kebendaan akan lenyap bersama lenyapnya bangsa-bangsa tersebut dan tidak ada lagi yang dapat menyaksikan kejadian tersebut kecuali mereka yang hidup pada masa itu. Sedangkan mukjizat al Qur’an abadi, senantiasa menginspirasi manusia dan menjawab tantangan hidup mereka dari generasi ke generasi. Dari Ali bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

«سَتَكُونُ فِتَنٌ» . قُلْتُ: وَمَا الْمَخْرَجُ مِنْهَا؟ قَالَ: " كِتَابُ اللَّهِ، كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ نَبَأُ مَا قَبْلَكُمْ، وَخَبَرُ مَا بَعْدَكُمْ، وَحُكْمُ مَا بَيْنَكُمْ[5]
“Akan terjadi fitnah, maka dikatakan, apakah ada jalan keluar darinya? Beliau bersabda: kitabullah di dalamnya terdapat penjelasan tentang pendahulu kalian dan kabar dimasa datang, serta hukum diantara kalian ”

Selain abadi dan menjadi solusi permasalahan manusia, kemukjizatan al Qur’an adalah aspek intelektualitas dan rasionalitasnya, hal ini menegaskan kebangkitan peradaban intelektual ummat adalah dampak kemukjizatan yang akan diraih oleh ummat Islam jika mereka kembali melakukan proses tafaqquh secara benar terhadap al Qur’an. Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “مَنْ أَرَادَ الْعِلمَ فَعَلَيْهِ بِالْقُرْآنِ” barangsiapa menginginkan ilmu raihlah dengan al Qur’an. Dikatakan pula “فَلْيُثَوِّرِ الْقُرْآنَ، فَإِنَّ فِيهِ عِلْمَ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ” maka bangkitkanlah al Qur’an karena didalamnya terdapat ilmu bangsa-bangsa terdahulu dan masa depan.[6]
           
PERSPEKTIF AL QUR’AN TERHADAP ILMU DAN KESUKSESAN

Al Qur’an menyeru manusia untuk meraih keberhasilan di dunia dan akhirat. Dalam Islam dimensi dunia tidak bisa dipisahkan dengan akhirat, karena akhirat adalah tujuan keberhasilan hidup jangka panjang yang bersifat kekal dan abadi. Dalam ayat ke 50 surat al An’am ini Allah ta’ala membuat perumpamaan antara orang buta dan orang yang dapat melihat.  Menurut Mujahid, maksud dari firman Allah ta’ala , “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” adalah “apakah sama antara orang yang menyimpang dari perkara yang benar “الضَّالَّ” dengan orang yang berada dalam petunjuk “المُهتَدِيَ”.[7] Pendapat lain dikemukakan oleh al Mawardi, yang dimaksud orang buta dan melihat adalah “الجاهل والعالم”[8] orang bodoh dan orang berilmu.

Ath Thobari meriwayatkan dari Qatadah bahwa yang dimaksud dengan orang buta adalah, “الكافر الذي قد عمي عن حق الله وأمره ونعمه عليه” orang kafir yang tidak melihat kebenaran Allah, kekuasaan serta anugerah yang Dia limpahkan. Sedangkan maksud orang yang dapat melihat adalah, “العبد المؤمن الذي أبصر بصرًا نافعًا، فوحّد الله وحده، وعمل بطاعة ربه، وانتفع بما آتاه الله”[9] orang beriman yang melihat hal-hal yang bermanfaat, mengesakan Allah dan menta’ati Allah serta mengambil manfaat atas segala yang Allah berikan kepadanya.

Pendapat-pendapat tersebut di atas menjelaskan pandangan al Qur’an terhadap orang-orang yang mengabaikan wahyu dan yang mengambil manfaat dari wahyu tersebut. Allah mengibaratkan orang-orang yang tidak mengambil manfaat dari al Qur’an sebagai orang-orang yang bodoh, buta, sesat dan mengingkari anugerah yang Ia turunkan bagi manusia. Allah juga mengibaratkan orang-orang yang mengambil manfaat dari al Qur’an sebagai orang berilmu yang normal penglihatannya, senantiasa dalam petunjuk dan mendapatkan manfaat dari apa yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Sehingga Abu Laits as Samarqandy berkata “أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ في أمثال القرآن ومواعظه” tidakkah kalian memperhatikan perumpaan-perumpamaan dan pelajaran-pelajaran dalam al Qur’an.

Dengan kata lain orang-orang yang buta adalah mereka yang penglihatannya hanya sampai pada sisi kehidupan dunia yang terbatas. Informasi, ilmu dan kompetensi yang berhasil diraihnya di dunia hanya membawa manfaat baginya juga hanya di dunia saja. Sedangkan orang-orang yang dapat melihat adalah mereka yang mampu meraih keberhasilan jangka panjangnya. Informasi, ilmu serta kompetensi yang dimilikinya membawa manfaat tidak hanya didunianya semata tapi juga bagi kehidupan sesudah kematiannya.

Sebagai contoh seruan al Qur’an terhadap ilmu, adalah kisah nabi Sulaiman as, dalam surat an Naml ayat 40, tentang seorang hamba yang mempunyai ilmu yang sanggup membawa singgasana ratu Balqis dalam sekedipan mata. Muhammad Syaddid berpendapat, “ini adalah sebuah contoh al Qur’an memotivasi orang untuk berfikir, al Qur’an hanya menunjukkan kunci-kunci ma’rifah dan rahasia alam serta mendorong manusia untuk mengkaji dan meneliti.”[10] Demikianlah al Qur’an menggiring manusia agar dengan potensinya melakukan penelitian, pengkajian dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk keberhasilan dunia dan akhiratnya.

ALLAH MELIPATGANDAKAN BALASAN ATAS KEBAIKAN

Firman Allah ta’ala dalam surat al An’am merupakan contoh motivasi bagi manusia agar senantiasa beramal sholeh termasuk diantaranya adalah belajar. al Mawardi menafsirkan sebagai berikut, menurutnya “balasan 10 kali lipat atas amal baik adalah sebagai anugerah keutamaan bagi orang yang beramal sholeh, sedangkan balasan seimbang atas sebuah kejahatan adalah tanda keadilan Allah.”[11] Selanjutnya ia menjelaskan bahwa yang dimaksud balasan 10 kali lipat bukanlah dalam artian pahala disisi Allah, sebab dalam surat al Baqarah ayat 261 Allah ta’ala melipatgandakan balasan atas infaq hingga sebesar 700 kali lipat.[12] Sehingga al Mawardi mengemukakan bahwa diantara pendapat para ulama tafsir balasan yang dimaksud pada ayat ini adalah “مضاعفة تفضيل”[13] pelipatgandaan keutamaan. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat Fathir ayat 30

ليوفيهم أجورهم ويزيدهم من فضله إنه غفور شكور

“agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Dengan demikian orang-orang yang berbuat kebaikan memperoleh banyak sekali balasan kebaikan, selain pahala yang diperoleh disisi Allah juga tambahan kenikmatan dari sisi Allah.

Pendapat lain dikemukakan oleh az Zuhaili, menurutnya maksud balasan atas kebaikan adalah sebagai berikut, “من جاء يوم القيامة بالخصلة الحسنة والفعلة الطيبة من الطاعات، فله جزاؤها عشر حسنات أمثالها ، ولكن قد تضاعف الحسنة بعد ذلك إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة” barang siapa yang datang pada hari kiamat dengan akhlaq dan perbuatan yang baik dalam bentuk ketaatan, baginya balasan sepuluh kali lipat yang semisal, dan kemudian dilipat gandakan kebaikannya setelah itu hingga 700 kali lipat. Kemudian az Zuhailiy mengutip surat al Baqarah ayat 261. 

Terkait dengan sifat Allah ta’ala yang Maha Pengasih dan Penyayang ini, Ibnu Abbas meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً[14]

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah menulis kebaikan dan keburukan kemudian menjelaskannya, barang siapa berkeinginan berbuat baik namun belum mengerjakannya maka Allah catatkan baginya kebaikan yang sempurna, dan barang siapa mengerjakan keinginan baiknya maka Allah catatkan baginya disisi Allah  sepuluh kebaikan hingga 700 kali lipat hingga pelipat-gandaan yang banyak. Dan barang siapa yang berkeinginan berbuat buruk dan tidak mengerjakan maka Allah catatkan baginya kebaikan yang sempurna dan barang siapa yang mengerjakan keinginan buruknya maka Allah catatkan baginya satu kejahatan ”

Hasbunallah wa ni’mal wakil

  • [1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhari al Ju’fi, 1422H, Shahih al Bukhari, Beirut: Daar Thuuq an Najah 1/6 hadits no 1.
  • [2] Wahbah bin Musthofa az Zuhaili, 1418 H, at Tafsir al Munir fil Aqidati wasy Syari’ati wal Manhaj, Damaskus : Daar al Fikr al Mu’ashir, 7/210.
  • [3] Al Bukhari, op.cit, 6/182 hadits no 4981.
  • [4] Abdurrahman bin Abi Bakr Jalaluddin as Suyuti, 1394 H, al Itqan fi Ulumil Qur’an, Mesir : al Haiah al Mishriyah al ‘Ammah lil Kitab, 4/3
  • [5] Abu Muhammad Abdullah Abdurrahman bin Fadhil bin Abdus Shomad ad Darimi, 1412H, Musnad ad Darimiy, Saudi Arabia: Daar al Mughni lin Nasyr wat Tauzi’, 4/2098 hadits no 3374. Menurut Husain Salim Asad ad Daraniy pada sanad ini terdapat 2 perawi yang majhul.
  • [6] Ahmad bin al Husain bin Aly bin Musa al Khurasany Abu Bakar al Bayhaqi, 1423 H, Sya’abul Iman, Riyadh: Maktabah ar Rusyd lin Nasyr wat Tauzi’, 3/347 atsar no 1808. Al Baihaqy menambahkan bahwa yang dimaksud adalah al Qur’an merupakan asas segala ilmu.
  • [7] Abul Hajaj Mujahid bin Jabr at Tabi’iy al Maky al Qurasy al Makhzumi, 1410 H, Tafsir Mujahid, Mesir: Daar al Fikr al Islamy al Haditsah, h 322.
  • [8] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin habib al Bashariy al Baghdady al Mawardy, tt, an Nukat wal Uyun, Beirut-Libanon : Daar al Kutub al Ilmiyyah, 2/117.
  • [9] Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir Abu Ja’far ath Thobari, 1420 H, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Beirut : Muasasah ar Risalah, 11/372.
  • [10] Muhammad Syadid, tt, Manhaj al Qur’an fit Tarbiyyah, (edisi terjemah oleh: Nabhani Idris), Jakarta: Rabbani Press, h 134.
  • [11] Al Mawardi, op.cit, 2/193.
  • [12] Ayat yang dimaksud adalah “مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
  • [13] Ibid, 2/194
  • [14] Al Bukhari, op.cit, 8/103 hadits no. 6491.

EVALUASI PENDIDIKAN DALAM AL QUR’AN




Dalam kamus besar bahasa Indonesia evaluasi berarti penilaian. Penilaian ini diperoleh melalui perencanaan kegiatan yang terstruktur guna mendapatkan informasi yang sangat dibutuhkan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sehingga dalam pendidikan evaluasi adalah suatu proses secara sistematis yang berguna untuk menentukan atau membuat keputusan yang dapat dijadikan indikator untuk mengetahui sejauh mana pencapaian tujuan-tujuan pengajaran yang telah dijalankan.

Dalam al Qur’an Allah ta’ala menyebutkan proses evaluasi diantaranya pada surat al Ankabut ayat 2 – 3, dimana evaluasi Allah ini bertujuan mengetahui orang yang benar keimanannya dan yang dusta,

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون. ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Demikian pula Allah ta’ala berfirman dalam surat al Baqarah ayat 155, yang menggambarkan tentang bentuk-bentuk evaluasi dan tujuan dari evaluasi tersebut,

ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

TERMINOLOGI EVALUASI

Ada dua terminologi evaluasi pendidikan dalam ayat-ayat tersebut diatas, yaitu al-fitnah dan al-bala. Berikut beberapa pendapat para ulama tafsir tentang makna dua terminologi tersebut,

Al-Fitnah

Secara bahasa al-fitnah adalah “الامتحان” yang berarti “الاختبار والتجريبة” pengujian dan eksperimen. Jika dikatakan “فتنت الذهب بالنار” maka itu berarti emas itu diuji kadarnya.[1]  Menafsirkan maksud kata fitnah dalam surat al ankabut, ath Thobari mengatakan bahwa fitnah adalah, “اختبار و ابتلاء”[2] pengujian baik melalui hal-hal yang disukai maupun hal yang disukai dan tidak disukai. Pengertian lain dari perkataan la yuftanun adalah “لا يسألون”[3] tidak ditanya, sehingga maknanya adalah pengakuan keimanan seorang mukmin itu akan ditanyakan kebenarannya.

Al ‘Askari berpendapat bahwa, fitnah adalah “اشد الاختبار”[4] ujian yang sangat berat. Menjadikan sebuah kenikmatan itu sebagai sarana fitnah adalah bentuk hiperbola, sebagaimana emas meskipun secara lahiriyah merupakan kenikmatan perhiasan namun kualitas sebenarnya terlihat ketika dibakar. 

Dalam ayat ini juga terkandung pengertian bahwa ujian memiliki sifat intensif atau terus menerus, bukan sesuatu yang baru atau tanpa perencanaan dan tujuan. Az Zuhaili mengatakan “هو سنة الله الدائمة في خلقه في الماضي والحاضر والمستقبل”[5] ujian adalah sunnah Allah yang bersifat permanen atas ciptaan-Nya sejak masa lampau hingga masa yang akan datang.

Al-Bala

Secara bahasa al bala berarti “الاختبار يكون بالخير والشر”[6] ujian yang bisa berupa kebaikan dan keburukan. Dalam pengertian lain “البَلاءُ يكونُ مِنْحَةً ويكونُ مِحْنَةً”[7] bala itu bisa berupa anugerah maupun bencana. Al bala juga berarti “الاختبار والامتحان ليعلم ما يكون من حال المختبر”[8] pengujian dan latihan untuk mengetahui hakikat sesuatu melalui pengalaman.

Raghib al Ashfihani membedakan ujian yang datang karena kehendak Allah dan musibah yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Menurutnya perbedaan tersebut bisa dilihat dari penggunaan kata balaa dan ibtalaa. Penggunaan kata balaa (menguji) dimaksudkan untuk sebuah ketetapan Allah atas hambanya, sedangkan penggunaan kata ibtalaa (mendapatkan ujian) bisa bermakna selain hal tersebut sebelumnya juga bisa bermakna orang tersebut memahami keadaan yang berlaku pada dirinya dan tidak memahami sesuatu diluas batasannya.[9]

Dari pengertian-pengertian evaluasi Allah atas manusia tersebut di atas baik dalam terminologi al fitnah maupun al bala memiliki tujuan untuk mengetahui hakikat dari sesuatu yang diuji, pada diri manusia berarti mengetahui respon aspek pemikiran, hati maupun sikap atau tindakan fisik atas ujian yang secara permanen diberikan baik berupa kebaikan yang disenanginya maupun keburukan yang dibencinya.

TUJUAN EVALUASI

Sebagai sebuah ketentuan permanen yang Allah tetapkan bagi manusia, evaluasi Allah atas manusia memiliki tujuan-tujuan yang mulia.

Menghapuskan Kesalahan

Dari Abu Sa’id al Khudri dan Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ، وَلَا نَصَبٍ، وَلَا سَقَمٍ، وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ، إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ[10]

“Tidaklah diuji seorang mukmin baik dengan musibah yang menimpa keluargannya, hartanya atau tubuhnya dengan sakit hingga menyebabkan kesedihan dan kecemasan baginya, melainkan Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya  ”

Mengangkat Derajat

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, aku bertanya kepada Rasulullah saw akan permasalahan penyakit pes, kemudian ia mengatakan kepadaku,

أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ[11]

Sesungguhnya wabah tersebut Allah turunkan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya dan Allah menjadikan wabah tersebut sebagai satu bentuk rahmat-Nya bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Tidak ada seorangpun yang menderita penyakit yang mewabah ini kemudian ia diam dinegaranya dengan penuh  kesabaran dan introspeksi diri atasnya hingga ia mengetahui bahwa Allah tidak akan menimpakan sesuatu apapun pada hamba-Nya kecuali telah menjadi ketetapan-Nya, maka pada saat itu pahala baginya sebagaimana pahala orang yang mati syahid.

Sarana Pendidikan

Ujian yang Allah timpakan bagi orang beriman adalah sarana pendidikan Allah bagi mereka. Dalam ayat-ayat tersebut diatas Allah berkehendak mengetahui kesabaran dan kebenaran iman hamba-Nya melalui ujian tersebut. Az zuhaili berkata, “والله عزّ وجلّ يبلو عبده بالصنع الجميل ليمتحن شكره، ويبلوه بالبلوى التي يكرهها ليمتحن صبره”[12] Allah azza wa jallah menguji hambanya dengan menciptakan kebaikan untuk melatih rasa syukurnya dan mengudinya dengan keburukan untuk melatih kesabarannya.

Demikian pula ujian adalah bentuk keadilan yang Allah terapkan agar manusia termotivasi untuk senantiasa berbuat kebaikan. Dalam pandangan manusia ujian adalah sarana untuk memberikan balasan yang setimpal, seandainya tidak teruji seorang hamba dengan benar maka akan muncul ketidak adilan dalam hal pembalasan. Sebagaimana pendapat az zuhaili tentang tujuan ujian “ليظهرن صدقهم وكذب المكذبين، وينوط به ثوابهم وعقابهم”[13] agar nampak dengan jelas orang-orang yang shidq dan para pendusta serta pahala dan hukuman bagi mereka.

Membersihkan Barisan Orang-Orang Beriman

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat al ahzab 11-12,

هنالك ابتلي المؤمنون وزلزلوا زلزالا شديدا. وإذ يقول المنافقون والذين في قلوبهم مرض ما وعدنا الله ورسوله إلا غرورا

“Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: "Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".”

Ayat ini menjelaskan bahwa ujian yang keras akan memisahkan antara orang-orang beriman yang yakin akan tujuan perjuangannya serta janji Allah dan Rasul-Nya, dengan orang munafiq dan pelaku kemusyrikan yang tidak meyakini hal tersebut. Az zuhailiy berkata“فظهر المخلص من المنافق والثابت من المتزلزل”[14] maka jelaslah antara yang ikhlas dan munafiq serta antara yang kokoh pendirian dan yang bimbang.

Menjadikannya Sebagai Sebuah Keteladanan

Disaat Allah menguji hamba-Nya kemudian hamba tersebut berhasil meraih kedudukan mulia disisi-Nya maka Allah menjadikan mereka sebagai model keteladanan atas ummat manusia, serta nasihat bagi sesamanya. Allah ta’ala berfirman dalam surat al Ahqaf ayat 35,

فاصبر كما صبر أولوا العزم من الرسل ولا تستعجل لهم كأنهم يوم يرون ما يوعدون لم يلبثوا إلا ساعة من نهار بلاغ فهل يهلك إلا القوم الفاسقون

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”  

Hasbunallah wa ni’mal wakil



  • [1] Ibnu Faris, 1406 H, Mujmal al Lughah li Ibni Faris, Beirut: Muassasatu ar Risalah, Hlm 711.
  • [2] Abu Ja’far ath Thobari, 1420 H, Jami’ul Bayan fi Ta’wil al Qur’an, Beirut : Muassasatu ar Risalah,Vol 7, hlm 19.
  • [3] Al Mawardy, tt, an Nukat wal Uyun, Beirut : Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah,Vol 4, hlm 275.
  • [4] Abu Halal al ‘Askariy, tt, Al Furuq al Lughawiyah, Mesir : Daar al ‘Ilm wa ats Tsaqafah, Hlm 217.
  • [5] Wahbah bin Musthofa az Zuhailiy, 1418 H, at Tafsir al Munir fil Aqidati wasy Syari’ati wal Manhaj, Damaskus: Daar al Fikr al Muashir, Vol 20, hlm 189.
  • [6] Ibnu Faris, op.cit, hlm 133.
  • [7] Murtadho az Zubaidy, tt, Taaj al Arus min Jawahir al Qamus, Daar al Hidayah, Vol 37, hlm 207.
  • [8] Az Zuhailiy, op.cit, vol 2, hlm 38.
  • [9] Raghib al Ashfihani, 1412H, al Mufradat fi Gharib al Qur’an, Damaskus : Daar a Qalam, hlm 61-62.
  • [10] Muslim, tt, Shahih Muslim, Beirut : Daar Ihyau at Turats al ‘Araby, Vol 4, hlm 1992 hadits no 2573.
  • [11] Bukhari, 1422H, Shahih al Bukhari, Beirut: Daar Thuwaiq an Najah, vol 4, hlm 175 hadits no 3474.
  • [12] Az Zuhailiy, op.cit, vol 2, hlm 43.
  • [13] Ibid, vol 20, hlm 185.
  • [14] Ibid, vol 21, hlm 259.

PENYAKIT-PENYAKIT HATI YANG DISEBABKAN OLEH SYAHWAT DAN TERAPINYA DALAM ISLAM



Syahwat adalah insting (naluri) fitrah yang dengannya manusia cenderung dan suka kepadanya. Allah ta’ala memberikan insting tersebut kepada manusia agar mereka dapat menunaikan tugasnya dalam kehidupan. Mewujudkan segala hal yang dapat memberikan kebaikan baginya dan menjaga segala hal yang dapat menyebabkan keburukan baginya serta keberlangsungan hidup mereka.

Dr. Yunasril Ali[1] mengklasifikasikan naluri manusia itu dalam 4 bentuk. Pertama, insting egosentros atau naluri mementingkan diri sendiri. Kedua, insting polemos atau naluri berjuang dan mempertahankan diri. Ketiga, insting eros atau naluri seksual dan keempat, insting religious atau naluri untuk tunduk kepada tuhan.

PENYAKIT-PENYAKIT HATI YANG DISEBABKAN OLEH SYUBHAT DAN TERAPINYA DALAM ISLAM



Jenis-Jenis Penyakit Hati yang disebabkan oleh Syubhat

Syirik

Kata syaroka berarti “مُخَالَطَةُ الشَّرِيكَيْنِ” mencampur dua persekutuan[1]. Dalam Qamus al Fiqh[2] kata asy syirku berarti “النصيب” bagian, dikatakan pula asy syirku“اعتقاد تعدد الآلهة” keyakinan akan banyaknya sesembahan, karena pelaku syirik membagi penyembahannya kepada banyak ilah selain Allah.


Asal mula syubhat ini adalah berlebih-lebihan dalam mencintai orang-orang shaleh hingga mengkultuskannya dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah ta’ala berfirman pada surat Nuh ayat 23-24,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23) وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالًا (24)

Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr".

Pengertian Hati serta Hubungannya dengan Akal, Ruh dan JiwaA



Sigit Suhandoyo. Empat kata berikut ini yaitu hati, akal, ruuh dan jiwa merupakan kata yang seringkali digunakan untuk membahas sifat, karakter manusia dan segala sesuatu yang bersumber darinya berupa pengetahuan, kecenderungan, maupun perbuatan. Terdapat banyak sekali pendapat dalam pendefinisian hal-hal tersebut.

Hati adalah bagian terpenting dalam diri manusia, ia adalah sumber dari segala perilaku lahiriyah dan batiniyah manusia. Al Muhasibi berkata[1] “الْقلب هُوَ الاصل والجوارح أَغْصَان وَلَا تقوم الاغصان إِلَّا بالاصل” hati adalah pokok dan anggota badan adalah cabangnya sehingga tidak akan tegak cabang tanpa pokoknya. Hati memiliki beberapa karakteristik, yaitu:

Pertama, Menurut syaikh Abdurrahman Habanakah[2], hati adalah tempat menetapnya akidah yang kokoh karenanya ia merupakan tempat bagi iman yang benar, “القلب مستقر القائد الراسخة، لذلك مستقر الإيمان الصادق”. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat al Anfaal ayat 2,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.

Ar Raghib berkata[3], “ووجل القلب: هو الخشية للحق على سبيل التصديق له باليقين” dan hati yang bergetar adalah hati yang takut terhadap kebenaran atas jalan pembenaran padanya dengan penuh keyakinan.

Kedua, Hati adalah tempat bagi berbagai perasaan serta ilmu pengetahuan. Al Ghazali mendifinisikan hati sebagai[4], “لطيفة ربانية روحانية لها بهذا القلب الجسماني تعلق وتلك اللطيفة هي حقيقة الإنسان وهو المدرك العالم العارف من الإنسان وهو المخاطب والمعاقب والمعاتب والمطالب” bagian lembut yang bersifat spiritual dan ketuhanan, yang memiliki kaitan dengan jantung dan jasad. Bagian lembut ini merupakan hakikat manusia. Ia merupakan alam pengetahuan pada manusia. Ia berbicara, membalas dan menuntut.

Ketiga, hati adalah tempat perenungan dan berfikir. Allah ta’ala berfirman dalam surat al Hajj ayat 46,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Keterkaitan Hati, Akal, Ruuh dan Jiwa. Pada surat al Hajj ayat 26, Allah ta’ala menggambarkan bahwa fungsi hati adalah berfikir. Jelas yang dimaksud bukanlah fisik otak, namun sesuatu yang lebih mendalam. Sebagaimana yang dimaksud fungsi mendengar bukanlah fungsi telinga mereka cacat, melainkan sesuatu yang lebih mendalam pula. Kemudian Allah menegaskan bahwa hati mereka buta.

Muhammad Ali al Juzu berpendapat[5],” فالفقه و العلم مكانهما القلب، و هذا يؤكد أهمية القلب بالنسبة للمعرفة، فيهما يشتر كان في الناحية الفكرية” pemahaman dan ilmu kedudukannya ada di dalam hati. Ini mendukung fungsi hati yang terkait dengan pengetahuan. Keduanya memiliki aspek kesamaan pada aspek pemikiran.

Jika diibaratkan fungsi pendengaran, penglihatan, perasa, serta otak adalah sebagai pengumpul informasi maka proses pengolahan data dan pengambilan keputusan yang tidak menyertakan hati maka akan tergelincir pada kesalahan. Hal ini menggambarkan betapa pentingnya manusia memiliki hati yang sehat.

Dengan demikian diketahui bahwa hati juga berperan mengontrol kecenderungan jiwa (nafs), sebagaimana firman Allah ta’ala dalam surat al Jaatsiyah ayat 23 yang menggambarkan orang-orang yang mengikuti nafsunya maka Allah sekat hatinya hingga tidak dapat menimbang kebenaran dan tertutup dari hidayah kecuali Allah bukakan,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Mengenai ruuh Ibnu Katsir berpendapat,[6]” إن الروح هي أَصْلُ النَّفْسِ وَمَادَّتُهَا، وَالنَّفْسُ مُرَكَّبَةٌ مِنْهَا وَمِنَ اتِّصَالِهَا بِالْبَدَنِ ، وَهَذَا مَعْنًى حَسَنٌ” ruuh adalah itu merupakan asal dan materi jiwa (nafs). Jiwa terbentuk dari ruuh dan terhubung dengan badan, dan ini adalah pengertian yang baik.

Dengan demikian nafs adalah unsur yang terbentuk dari peniupan ruuh kepada jasad manusia. Karena memiliki unsur akhirat dan duniawi, nafs memiliki kecenderungan untuk berbuat baik dan buruk. Oleh karenanya manusia harus membimbing jiwanya dengan kejernihan hati.

Catatan Kaki
  1. Al Haarits al Muhasibi, tt, Adabun Nufus, Libanon: Daar al Jiil, h 179.
  2. Abdurrahman Habanakah, tt, al Akhlaq al Islamiyyah wa Ususuha, Beirut: Daar al Qalam, h.245.
  3. Ar Raghib al Ashfihany, 1428 H, adz Dzari’atu ila Makarimi asy Syari’ah, Cairo: Daar as Salam. h 159.
  4. Al Ghazali, tt, Ihya Ulumuddin, Beirut: Daar al Ma’rifah, 3/3.
  5. Dr. Muhammad Ali al Juzu,1983, Mafhuum al Aql wa al Qalb fi Al Qur’an wa as Sunnah, Beirut: Daar al ‘Ilm. H 275.
  6. Ibnu Katsir,1419 H, Tafsir al Qur’anul Adzhim, Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 5/107

URGENSI DAKWAH DALAM AL QURAN 5



Dakwah Mengandung Maslahat Internal dan Eksternal 
Maslahat Internal; Terbentuknya Ummat Terbaik 

Rasulullah saw berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat terbaik sepanjang zaman dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan kader secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah yang kita idam-idamkan. Rasulullah saw mencetak kader-kader dakwah di kalangan para sahabat beliau di rumah Arqam bin Abil Arqam ra, beliau juga mengutus Mush’ab bin Umair ra ke Madinah untuk membentuk basis dan cikal bakal masyarakat terbaik di Madinah (Anshar). 

Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw ini adalah juga jalan yang harus kita tempuh untuk mengembalikan kembali kejayaan umat. Imam Malik bin Anas ra berkata:

لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا [1] 

Akhir umat ini tidak menjadi baik kecuali menggunakan cara yang digunakan untuk memperbaiki generasi awalnya. 

Umat Islam harus memainkan peran dakwah & amar ma’ruf nahi munkar dalam semua keadaannya, baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu ummah maupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah swt berfirman:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (Ali Imran (3): 110). 
Muhammad Mahmud al Hijazi berkata

أصلح نفسك ثم ادع غيرك، ولا شك أن مرتبة دعوة الغير إلى الهدى والخير مرتبة عالية، ولا يلقاها إلا أفراد قلائل زكت نفوسهم وطهرت أرواحهم وامتلأت إيمانا ويقينا”[2] 

Dalam pengertian lain, perbaikilah dirimu kemudian serulah kepada orang lain, dan jangan ragu sesungguhnya berda’wah kepada orang lain hingga mendapatkan petunjuk dan kebaikan adalah dejarat yang tinggi, dan derajat yang mulia itu tidak diberikan Allah kecuali kepada sebagian kecil manusia yang mensucikan jiwa dan ruhnya serta memenuhi dirinya dengan iman dan keyakinan. 

Miqdad Yaljan[3] menguraikan bahwa masyarakat terbaik atau khairu ummah memiliki berdasarkan karakteristiknya yaitu, Pertama, Masyarakat yang senantiasa memiliki semangat meyebarkan kebaikan. Kedua, masyarakat yang memilki semangat ukhuwwah insaniyyah. Ketiga, masyarakat yang senantiasa memperluas persatuan dan kekuatan. Keempat, masyarakat yang berorientasi kepada kemaslahatan bersama. Kelima, masyarakat yang memiliki semangat tunduk pada peraturan. Keenam, masyarakat yang semangat meraih kemajuan di berbagai bidang. 

Maslahat Eksternal; Tegaknya Keadilan Syari’at Allah di muka Bumi.

وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين. 

Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS Al Anbiya: 107) 

Risalah Islam datang kepada ummat ini dengan kelengkapan manhajnya. Di dalamnya Allah menghimpun seluruh perangkat perbaikan social yang konfrehensif. Tujuan dakwah ini terfokus pada kepemimpinan manhaj ini, menyeru manusia kepadanya, menampilkannya dalam kehidupan nyata, mengokohkannya di muka bumi, membimbing manusia dengannya sehingga mereka menikmati eksistensinya dan mencapai kehidupan dunia yang bahagia bersamanya. 

al mawardi mengemukakan bahwa diutusnya Rasulullah sebagai pembawa rahmat bagi seluruh alam memiliki pengertian secara khusus dan umum. Secara khusus rahmat bagi orang-orang beriman adalah berupa, ”petunjuk kepada ketaatan dan pahala atas ketaatan tersebut, dan secara umum bagi seluruh manusia adalah menghindarkan azab bagi mereka.”[4] maksudnya adalah bahwa Allah tidak menurunkan azab kepada manusia selama masih ada Rasulullah saw ditengah-tengah mereka sebagai kesempatan bagi manusia untuk menerima dakwah. Demikian pula selama masih ada orang-orang yang berdakwah ditengah-tengah masyarakat. 

[1] Nashirudin Al Albani, Fiqhul Waqi’, hal.22. 
[2] Muhammad Mahmud al Hijazy, 1413 H, at Tafsir al Wadhih, Beirut: Daar al Jaliil al Jadiid, jilid 3, hlm 340. 
[3] Miqdad Yaljan, 2011, Peranan Pendidikan Akhlaq Islam dalam Pembentukan Individu, Masyarakat dan Peradaban manusia, terjemahan Dr. Azra’ie Zakaria, MA. LP2M Universitas Islam Asy Stafi’iyyah, h.87. 
[4] Abul Hasan al Mawardi, an Nukat wal Uyun, (Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, tt) vol 3, hlm 475.

URGENSI DAKWAH DAKWAH DALAM AL QUR'AN 4




Dakwah adalah Jalan Mencapai Kemenangan Hakiki

إنا لننصر رسلنا والذين آمنوا في الحياة الدنيا ويوم يقوم الأشهاد
Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (QS Al Mu’min: 51).

Kemenangan Hakiki Di Dunia, Yaitu Kehidupan Yang Berkah


Yang dimaksud dengan keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan melimpah di sisi Allah swt.

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).

URGENSI DAKWAH DALAM AL QUR'AN 3



Dakwah adalah Tuntutan Sosial Kontemporer

Kondisi kehidupan kita saat ini diwarnai oleh kerusakan, ketamakan dan hawa nafsu, sementara orang-orang munafik bekerjasama mengajak masyarakat untuk menyebarkan kerusakan dimuka bumi. Allah ta’ala berfirman dalam surat at Taubah ayat 67,

المنافقون والمنافقات بعضهم من بعض يأمرون بالمنكر وينهون عن المعروف ويقبضون أيديهم نسوا الله فنسيهم إن المنافقين هم الفاسقون.

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”

Oleh karena itu merupakan suatu keharusan bagi orang-orang yang beriman untuk tolong menolong dalam menegakkan kebaikan agar ia tersebar luas dan tidak ada lagi fitnah dimuka bumi. Allah ta’ala berfirman dalam surat at Taubah ayat 71,

والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة ويطيعون الله ورسوله أولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. “

Dalam ayat tersebut di atas, Allah ta’ala menjadikan amar ma’ruf dan nahi mungkar sebagai pembeda antara orang-orang beriman dan orang-orang munafik. Az Zuhaily berpendapat,

تبيّن هذه الآيات وما بعدها الفروق الواضحة بين صفات المؤمنين وصفات المنافقين، ولما كان المؤمنون يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر، كان المنافقون عكسهم”[1]

ayat ini menjelaskan perbedaan sifat yang jelas antara orang beriman dan munafik. Jika orang beriman menyuruh yang baik dan menjegah kemungkaran maka orang munafik membaliknya.

Dengan demikian jelas bahwa karakter orang-orang munafik yang memusuhi gerakan kebaikan dalam posisi yang berhadapan langsung. Kesamaan gerakan mereka dalam hal menyeru kepada kerusakan Allah hadapkan langsung kepada pensifatan orang beriman yang saling menjadi wali dalam hal tolong menolong dan menyebarkan kebaikan.

Dalam ayat yang lain Allah ta’ala berfirman tentang sebuah peringatan kepada kita agar berhati-hati terhadap siksa yang tersebar secara luas kepada seluruh manusia, sebagaimana surat al Anfal ayat 25,

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خآصة واعلموا أن الله شديد العقاب.

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Ibnu Abbas ra menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah,

أَمَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ لَا يُقِرُّوا الْمُنْكَرَ بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ فَيَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ يُصِيبُ الظَّالِمَ وَغَيْرَ الظَّالِمِ”[2]  

Allah ta’ala memerintahkan orang-orang beriman agar mereka mengingkari kemungkaran yang ada ditengah-tengah mereka, karena jika tidak maka Allah akan menimpakan adzab kepada orang-orang dzalim dan selain orang dzalim.

Imam Ahmad meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ، حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ، وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ، عَذَّبَ اللهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ[3]

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengazab (manusia secara umum) karena perbuatan khusus (segelintir orang) sehingga kemungkaran Nampak ditengah-tengah mereka dan mereka sanggup mencegahnya tapi tidak melakukannya, jika yang demikian itu terjadi maka Allah akan mengadzab secara khusus dan umum ”

Catatan Pustaka
  1. Wahbah bin Musthafa az Zuhaily, op.cit, Vol 10, hlm 296.
  2. Abu Muhammad al Baghawi, op.cit, vol 2, hlm 283.
  3. Ahmad ibn Hanbal asy Syaibaniy, Musnad al Imam Ahmad ibn Hanbal, Beirut : Muassasatu ar Risalah, 1421 H, Vol 29, hlm 258. Hadits no 17.720. menurut Syu’aib al Arnauth hadits ini hasan li ghairihi.