Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Melazimkan Istighfar



حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً»  (1

Menyampaikan kepada kami Abu al-Yaman, mengabarkan kepada kamu Syu’aib, dari al-Zuhri, ia berkata: Mengabarkan kepadaku Abu Salamah ibn Abdurrahan, ia Berkata: Abu Hurairah ra telah berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda, "Demi Allah, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.“


Para Perawi Hadits

al-Hakim bin Nafi‘ Abu al-Yaman. Masa hidupnya antara 138-220 H, tinggal di Suriah. Merupakan perawi yang tsiqah. Meriwayatkan hadits dari Shu'aib bin Abi Hamzah, Huraiz bin 'Utsman bin Jabir, dll. Meriwayatkan darinya, diantaranya adalah al-Bukhari, dll.

Shu'aib bin Abi Hamzah. Merupakan tabi’ al-Tabi’in yang tsiqah, tinggal di Suriah, ia wafat pada 162 H. meriwayatkan hadits dari: al-Zuhri, Abu al-Zanad, Muhammad bin al-Munkadir, Nafie', Hisham bin 'Urwa, dll. Meriwayatkan darinya: al-Walid bin Muslim al-Quraishi, al-Hakim bin Nafi', Abu al-Yaman, 'Ali bin 'Ayyash, dll

Al Zuhri. merupakan tabi’in yang tsiqah, tinggal di Madinah dan Suriah, masa hidupnya antara 51-124 H. Meriwayatkan hadits dari : ibn Umar, Anas bin Malik, Nafid Jabir ibn 'Abdullah, Abu Salama bin Abdurrahman bin Auf. Meriwayatkan darinya: 'Ata' bin Abi Rabah, 'Umar bin ‘Abdul-‘Aziz, Ibn Juraij, Sufyan bin 'Uyaynah, Yazid bin Abi Habib, dll.  

Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf. Merupakan tabi’in yang tsiqah, tinggal di Madinah, wafat pada 94 H. Meriwayatkan hadits dari: Abu Hurairah, ibn Abbas, ibn Umar, 'Abdur Rahman Ibn 'Auf, 'Usman ibn 'Affaan, dll. Meriwayatkan darinya: 'Urwa h ibn Zubair, al-Zuhri, Muhammad bin Ibrahim bin al-Harith, dll.

Abu Hurairah. Adalah Abdurrahman ibn Sakhr, sahabat Nabi saw yang paling banyak meriwayatkan hadits. Tinggal di Yaman, Mekah dan Madinah, masa hidupnya antara 12 sebelum hijrah hingga 59 H. Meriwayatkan hadits dari: Rasulullah saw, Abu Bakr As-Siddiq, 'Umar ibn al-Khattab, Ubayy ibn Ka'b, Usamah ibn Zayd, 'Aisha bint Abi Bakr dll. Meriwayatkan darinya: ibn Abbas, ibn Umar, Anas bin Malik, Abu Salamah, dll


Penjelasan Hadits

a. Pengertian Taubat

Menurut Nuruddin al Qari taubat adalah,

وَالتَّوْبَةُ فِي الشَّرْعِ تَرْكُ الذَّنْبِ لِقُبْحِهِ، وَالنَّدَمُ عَلَى مَا فَرَطَ مِنْهُ، وَالْعَزِيمَةُ عَلَى تَرْكِ الْمُعَاوَدَةِ وَتَدَارُكِ مَا أَمْكَنَهُ أَنْ يَتَدَارَكَ مِنَ الْأَعْمَالِ بِالْإِعَادَةِ.(2)

Taubat menurut syari’at berarti meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali perbuatan yang lalai, dan bertekad untuk tidak mengulanginya serta memperbaiki kesalahan apa pun yang dapat diperbaiki. 


b. Taubat dan istighfar adalah wujud kerendah-hatian kepada Allah.

Ibnu Bathal mengatakan, hamba yang paling bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah adalah para nabi, karena ilmu yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Mereka senantiasa mengucap syukur kepada Tuhannya, mengakui kekurangan-Nya, & tidak membanggakan amalnya. Taubat & istighfar adalah wujud kepatuhan & kerendah-hatian mereka pada Allah. (3)


c. Taubat dan istighfar merupakan jalan mendekatkan diri kepada Allah.

Nuruddin al-Qari mengemukakan 

الِاسْتِغْفَارُ بِاللِّسَانِ، وَالتَّوْبَةُ بِالْجَنَانِ، وَهِيَ الرُّجُوعُ عَنِ الْمَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ، أَوْ مِنَ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ، وَمِنَ الْغَيْبَةِ إِلَى الْحُضُورِ، ثُمَّ هِيَ أَهَمُّ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ، وَأَوَّلُ مَقَامَاتِ سَالِكِي الْآخِرَةِ (4) 

Memohon ampun dengan lisan, dan bertaubat dengan hati, yaitu mengubah kemaksiatan menjadi ketaatan, kelalaian menjadi zikir, dan dari kealpaan menjadi keberadaan. Inilah tujuan hukum syariat yang penting, dan maqam pertama bagi mereka yang mencari akhirat.

Ibnu Rajab al-Hanbali mengemukakan,

فمن عجز عن مسابقة المحبين في ميدان مضمارهم فلا يعجز عن مشاركة المذنبين في استغفارهم (5)

Jika tak mampu berlomba dengan mereka para pecinta Allah dalam ibadah maka berlombalah dengan para pendosa dalam istighfar mereka


d. Istighfar adalah kebiasaan Nabi Muhammad saw 

Hamzah Muhammad Qasim mengemukakan, Hendaknya setiap Mukmin mencintai untuk beristighfar, dalam kondisi baik maupun buruk. Karena Rasulullah saw, yang merupakan imam orang-orang bertaqwa, banyak beristighfar.

Nabi Muhammad saw banyak beristighfar, padahal ia telah diampuni. Hal ini dilakukan untuk mendidik umatnya, meninggikan derajatnya, memperbanyak amal shalehnya, dan memenuhi kebutuhannya. Karena istighfar adalah zikir, ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Istighfar digunakan untuk berbagai tujuan, mengangkkat kesusahan, menghilangkan kekhawatiran, menambah rezeki, dan sebagainya. (6)


Hasbunallah wa ni'mal wakil
Sigit Suhandoyo


Catatan Kaki

(1). Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Riyadh: Dar Thuqa al-Najah), vol 8, hlm 67, hadits no 6307.
(2). Abu al-Hasan Nuruddin al-Qari, Mirqat al-Mafatih, (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), Vol 4, hlm 1609.
(3). Ibnu Bathaal, Syarh Shahih al-Bukhari li Ibn Bathaal, (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2003), Vol 10, hlm 77.
(4). Abu al-Hasan Nuruddin al-Qari, Mirqat al-Mafatih, (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), Vol 4, hlm 1609.
(5). Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif, (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), hlm 45.
(6). Hamzah Muhammad Qasim, Manar al-Qari, (Damaskus: Maktaba Dar al-Bayan, 1990),  vol 5, hlm 272.


 


Hadits 30: Rambu Rambu Allah


عَنْ أَبِيْ ثَعْلَبَةَ الخُشَنِيِّ جُرثُومِ بنِ نَاشِرٍ رضي الله عنه عَن رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (إِنَّ اللهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودَاً فَلا تَعْتَدُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلا تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلا تَبْحَثُوا عَنْهَا) حديث حسن رواه الدارقطني وغيره.

Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani, jurtsum bin Nasyir radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau telah bersabda : “Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa perkara, maka janganlah kamu meninggalkannya dan telah menetapkan beberapa batas, maka janganlah kamu melampauinya dan telah mengharamkan beberapa perkara maka janganlah kamu melanggarnya dan Dia telah mendiamkan beberapa perkara sebagai rahmat bagimu bukan karena lupa, maka janganlah kamu membicarakannya”.

Hadits 29: Pintu Pintu Kebaikan

عَن مُعَاذ بن جَبَلٍ رضي الله عنه قَالَ: قُلتُ يَا رَسُولَ  الله أَخبِرنِي بِعَمَلٍ يُدخِلُني الجَنَّةَ وَيُبَاعدني منٍ النار قَالَ: (لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيْمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيْرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللهَ لاَتُشْرِكُ بِهِ شَيْئَا، وَتُقِيْمُ الصَّلاة، وَتُؤتِي الزَّكَاة، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ البَيْتَ. ثُمَّ قَالَ: أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الخَيْرِ: الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ، وَصَلاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ تَلا: (تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ) حَتَّى بَلَغَ: (يَعْلَمُونْ) (السجدة: 16-17) ثُمَّ قَالَ: أَلا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَارَسُولَ اللهِ، قَالَ: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامُ وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ وَذروَةُ سَنَامِهِ الجِهَادُ ثُمَّ قَالَ: أَلا أُخبِرُكَ بِملاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَارَسُولَ اللهِ. فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ وَقَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا. قُلْتُ يَانَبِيَّ اللهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَامُعَاذُ. وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَو قَالَ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلسِنَتِهِمْ) رواه الترمذي وقال: حديث حسن صحيح.

Dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu 'anhu, ia berkata : Aku berkata : “Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku suatu amal yang dapat memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar, dan sesungguhnya itu adalah ringan bagi orang yang digampangkan oleh Allah ta’ala. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan mengerjakan haji ke Baitullah”.

Hadits 2: Islam, Iman dan Ihsan


الإسلامُ و الإيمانُ و الإحسانُ

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه
وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله، وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِالله، وَمَلائِكَتِه، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الْحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثَ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ) 

Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah shallallahualaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi shallallahualaihi wa sallam, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi shallallahualaihi wa sallam.
kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahualaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahualaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.”
Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.”
Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8]

Hadits 1: Segala Perbuatan Tergantung Niatnya


إنَمَا الأعْمَالُ بِالنِيَاتِ

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ تعالى عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوله، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَو امْرأَة يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْه 

Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khattab ra, berkata; “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda”. “Segala amal perbuatan tergantung pada niatnya dan bagi setiap orang hanyalah apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.” (hr Bukhari & Muslim)

Halal dan Haram



Dari Nu’man bin Basyir ra berkata, aku mendengar bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
إِنَّ الحَلالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَات لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِه، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلا وإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَت فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهيَ القَلْبُ

Sesungguhnya yang halal itu jelas dan sesungguhnya yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar-samar yang sebagian besar manusia tidak mengetahuinya.  Barangsiapa menjauhi hal tersebut ia telah mencari kebersihan untuk agama dan kehormatannya. Barangsiapa terjerumus kedalam perkara yang samar-samar maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti penggembala yang berada didekat daerah terlarang dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan. Ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baik pula seluruh jasadnya dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah  hati.” (Bukhari Muslim)

Rujukan Hadits
Bukhari  : Shahih al Bukhari, Beirut : Daar Thuq an Najah, 1422 H, 1/20 hadits ke 52.
Muslim : Shahih Muslim,  Beirut : Daar Ihya at Turats al ‘Araby, tt,  3/1219 hadits ke 1599.

Para Perawi
Nu’man Bin Basyir, adalah Nu’man bin Basyir bin Sa’d dari Bani Harits al Khazrajy,  lahir 14 bulan setelah hijrah, ia adalah bayi anshar yang pertama lahir setelah hijrah, kedua orang tuanya merupakan sahabat nabi saw.  Meriwayatkan dari Nabi saw 114 hadits. Al Bukhari mengumpulkan 6 hadits darinya. Mu’awiyah menugaskannya memimpin Hims. Wafat tahun 65 H.[1]

Bukhari, adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim  bin al Mughirah bin bardizbah al Ju’fi, seorang hafizh besar penulis al jami’ul Musnad ash Shahih al Mukhtashar min umuri Rasulillah saw wa Sananihi wa ayyamihi, masyhur dengan sebutan shahih bukhari  yang disusunnya selama 16 tahun. Selain itu beliau menulis at tarikh, al adab al mufrad dan lainnya. Beliau meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, al Humaidi, Ibnul Madini. Yang meriwayatkan darinya adalah Muslim, an Nasa’i, at Tirmidzi. Lahir di Bukhara tahun 194 H, wafat jum’at malam selepas shalat Isya’ pada malam idul fitri tahun 252 H.[2]

Muslim, adalah Musim bin Hajjaj bin Muslim Abul Husain al Qusyairi an Naisabury. Penulis ash shahih, al ilal, al wujdan dan lainnya. Dia meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Khutsaimah, Ibnu Abi Syaibah, dan juga dari al Bukhari. Yang meriwayatkan darinya adalah at Tirmidzi, Ibrahim bin Muhamad bin Sufyan. Lahir tahun 204 H di Naisabur (daerah iran) wafat hari ahad tahun 261 H.[3]

Mufradat [4]
الحلال: وهو ما نص الله ورسوله، أو أجمع المسلمون على تحليله. أو لم يعلم فيه منع
segala sesuatu yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya atau sepakat orang-orang Islam atas kehalalannya, atau tidak diketahui padanya larangan.
بين: ظاهرJelas terlihat     

الحرام: وهو ما نص أو أجمع على تحريمه، أو على أن فيه حدا أو تعزيزا، أو وعيدا
Segala sesuatu yang disyari’atkan atau disepakati atas pengharamannya. Atau padanya terdapat pembatasan, penghormatan maupun ancaman.

أمور: شئون وأحوال
Urusan-urusan dan kebutuhan-kebutuhan

مشتبهات: ليست بواضحة الحل ولا الحرمة
Perkara yang tidak jelas antara kehalalan dan keharamannya.

لا يعلمهن كثير من الناس: في راية الترمذي، لا يدري كثير من الناس أمن الحلال هي أم من الحرام
Dalam riwayat at tirmidzi, tidak dimengerti sebagian besar manusia apakah halal atau haram.

اتقى الشبهات: تركها وحذر منها. وفيه إيقاع الظاهر موقع المضمر تفخيما لشأن اجتناب الشبهات، إذا هي المشتبهات بعينها
Meninggalkannya dan menjaga diri darinya, termasuk dalam pengertian ini adalah jika ditemukan kesesuaian antara pendangan lahiriyah dan batiniyah untuk cenderung meninggalkan sesuatu yang meragukan maka itulah syubhat secara kasat mata.

استبرأ لدينه: طلب البراءة له من الذم الشرعي وحصلها له
Berusaha meraih dan mendapatkan kesucian agama dari cacat syar’i.

وعرضه: يصونه عن كلام الناس فيه بما يشينه ويعيبه.
Menjaga diri dari perkataan manusia yang atas segala sesuatu yang menimbulkan celaan dan aib.

ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام: إي إذا اعتادها واستمر عليها. أدته إلى التجاسر إلى الوقوع في الحرام
Jika membiasakan dan terus menerus atas perkara tersebut, tanpa rasa takut, maka akan menjerumuskan kepada yang haram

حول الحمى: المحمى المحظور عن غير مالكه
Tempat terlindung  yang terlarang dari selain pemiliknya.

يرتع فيه:  تأكل  منه ماشيته و تقيم فيه
Makan pada tempat itu dan menetap.

حمى: موضعا يحميه عن الناس، ويتوعد من دخل إليه أو قرب منه، بالعقوبة الشديدة
Tempat yang terlindung dari manusia, dan diancam untuk dimasuki atau didekati dengan
hukuman yang keras.
محارمه: جمع محرم، وهو فعل المنهي عنه، أو ترك المأمور به الواجب
Jamak dari haram, adalah perbuatan yang dilarang untuk dikerjakan, atau perkara-perkara yang wajib untuk di tinggalkan.

ألا: حرف استفتاح، يدل على تحقق ما بعدها.
Hurut istiftah, menunjukkan atas kepastian berita yang dimaksud sesudahnya.

مضغة: قطعة لحم(Segumpal daging )   

Pemahaman Isi Hadits

الحث على فعل الحلال واجتناب الحرام والشبهات
Anjuran untuk mengerjakan yang halal serta meninggalkan yang haram & syubhat.

Lafadz inna adalah “من أدوات التوكيد” diantara huruf yang digunakan untuk menguatkan berita yang menyertainya dan untuk menunjukkan penghormatan atasnya. Dengan demikian Rasulullah saw berwasiat dengan tegas agar pendengar memperhatikan perkara halal dan haram dalam segala urusan mereka.

Hadits ini menjelaskan bahwa segala urusan manusia terbagi dalam tiga hal [5]“حلال بين مشروع، وحرام بين ممنوع، ووسط مشتبه” halal yang jelas disyari’atkan, haram yang jelas di larang serta pertengahan antara keduanya yang samar.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa “من أحكام الشريعة، ومن معاني القرآن، ما هو بين واضح ليس فيه شبهة ولا يعذر أحد بجهله، سواء كان في الأوامر أو كان في النواهي”[6] perkara-perkara yang jelas (bayyin) dan terang (wadhih) berdasarkan hukum-hukum syari’at dan pemahaman al Qur’an adalah yang tidak terdapat padanya kesangsian dan tidak dimaafkan seseorang karena kebodohannya, baik dalam hal perintah maupun larangan.

Sebagai contoh yang termasuk dalam pengertian tersebut di atas adalah perintah sholat, zakat, larangan zina, khamar dsb.

Sedangkan yang syubhat menurut ibnu mundzhir terbagi dalam 3 bentuk yaitu[7] “شيء يعلمه المرء حراما ثمّ يشك فيه، و عكسه أن يكون الشيء حلالا فيشك في تحريمه، و شيء يشك في حرمة أو حلّه على سواء” sesuatu yang diketahui keharamannya kemudian ia ragu atasnya, dan kebalikannya adalah sesuatu yang halal kemudian diragukan keharamannya dan terakhir adalah sesuatu yang diragukan kehalalan dan keharamannya.

Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa sebab terjadinya syubhat ada dua yaitu[8] “الاشتباه في الدليل، و الاشتباه في انطباق الدليل على المسألة” kesangsian terhadap dalil dan kesangsian terhadap penerapan dalil atas masalah.

Rasulullah saw menganjurkan untuk meninggal-kan segala hal yang meragukan,
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
Tolaklah segala sesuatu yang meragukanmu dengan sesuatu yang tak meragukanmu, sesung-guhnya perkara yang benar itu menenangkan hati dan dusta itu menggelisahkan.[9]

Sufyan bin Uyainah berkata “لَا يُصِيبُ رَجُلٌ حَقِيقَةَ التَّقْوَى حَتَّى يُحِيلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْحَرَامِ حَاجِزًا مِنَ الْحَلَالِ , وَحَتَّى يَدَعَ الْإِثْمَ وَمَا تَشَابَهَ مِنْهُ’ Tidak akan sampai seseorang pada takwa yang sesungguhnya kecuali ia meletakkan pemisah antara dirinya dan hal-hal yang haram sesuatu yang halal, sehingga ia terhindar dari dosa dan perkara yang samar.[10]

المحافظة على أمور الدين ومراعاة المروءة الإنسانية
Menjaga perkara - perkara agama serta menumbuhkan sifat kemanusiaan yang baik.

Hadits ini juga mengajarkan seorang muslim agar menjaga perkara-perkara agama dan menumbuhkan sifat kemanusiaan yang baik pada dirinya. Meninggalkan syubhat merupakan sebuah prilaku terpuji, karena sesuai dengan pemahaman terbalik dari hadits di atas bahwa orang yang mengerjakan hal-hal syubhat akan membuat dirinya terhinakan. Seperti perkataan seorang ulama salaf “مَنْ عَرَّضَ نَفْسَهُ لِلتُّهَمِ، فَلَا يَلُومَنَّ مَنْ أَسَاءَ بِهِ الظَّنَّ” barangsiapa membuat dirinya tertuduh janganlah ia menyalahkan orang yang berburuk sangka padanya.[11]

Dalam akhlaq Islam dikenal istilah al Haya-u (malu), yang secara bahasa berarti “تَغَيُّرٌ يَلْحَقُ الْإِنْسَانَ مِنْ خَوْفِ مَا يُعَابُ بِهِ” perubahan perasaaan yang terjadi pada seorang manusia karena takut dirinya dicela. Sedangkan dalam terminologi syari’at al haya-u adalah “خُلُقٌ يَبْعَثُ عَلَى اجْتِنَابِ الْقَبِيحِ وَيَمْنَعُ مِنْ التَّقْصِيرِ فِي حَقِّ ذِي الْحَقِّ” akhlaq yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan buruk dan mencegahnya dari hal-hal yang dapat melanggar hak orang lain.[12]

Ajaran Islam juga mengaitkan perbuatan menjaga kehormatan diri ini dengan shadaqoh sebagaimana sebuah hadits dari Jabir ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda “مَا وَقَى بِهِ الْمُؤْمِنُ عِرْضَهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَة” sesungguhnya sesuatu yang digunakan mukmin untuk menjaga kehormatan dirinya adalah shodaqoh.[13]

سد كل ذريعة تؤدى إلى الحرام والمحرمات
Menutup segala perantara yang mengantarkan kepada perbuatan haram dan sesuatu yang diharamkan

Pelajaran berikutnya yang dapat diambil dari hadits ini adalah menutup pintu-pintu kemungkinan terjadinya perbuatan yang diharamkan. Demikian mulianya Islam hingga dianjurkan seorang muslim berhati-hati tidak mendekati perkara-perkara yang bisa mengakibatkan dirinya terjerumus ke dalam perbuatan maksiat atau haram, meski perkara tersebut dibolehkan.

Dalam kaidah ushul disebutkan “للوسائل حكم المقاصد، وللزوائد حكم المقاصد” hukum sarana dan seluruh kebutuhan tambahan mengikuti hukum tujuannya.[14] Demikian pula kaidah ushul “مالا يتم الواجب إلا به فهو واجب” sesuatu yang menjadi syarat sempurnanya sebuah kewajiban menjadi wajib pula hukumnya.[15]

Dari kaidah tersebut dapat diambil faidah bahwa seluruh sarana dan segala hal yang dapat menjerumuskan kepada sesuatu yang haram maka menjadi haram pula hukumnya. Dengan demikian wajib pula untuk mengupayakan segala hal yang baik untuk bisa menegakkan kewajiban.

الحث على إصلاح القلب وأن بصلاحه يصلح كل شيء وبفساده يفسد كل شيء من الإنسان
Anjuran untuk memperbaiki hati, karena dengan baiknya hati baiklah segala sesuatu dan dengan rusaknya hati rusak pula segala sesuatu dari pribadi manusia.          

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,
الْقَلْبُ مَلَكٌ وَلَهُ جُنُودٌ، فَإِذَا صَلُحَ الْمَلِكُ صَلُحَتْ جُنُودُهُ، وَإِذَا فَسَدَ الْمَلِكُ فَسَدَتْ جُنُودُهُ
Hati adalah raja dan baginya para prajurit, jika baik raja baik pula prajurit-prajuritnya dan jika buruk raja maka buruk pula prajurit-prajuritnya.[16]

Hadits riwayat Abu Hurairah sebagaimana hadits an Nu’man bin Basyir ini memberikan isyarat bahwa kebaikan aktivitas seluruh anggota tubuhnya baik berupa ucapan, fikiran dan perbuatan fisik bergantung kepada kebaikan hati. Dengan demikian celaka dan selamatnya seseorang bergantung pada selamat maupun celakanya kondisi hati.

Allah ta’ala memanggil orang-orang yang memiliki jiwa yang tenang ke dalam syurganya,
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)
 “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”
Al Jurzani[17] berpendapat bahwa yang dimaksud jiwa yang tenang pada ayat ini adalah “هي التي تم تنورها بنور القلب حتى انخلعت عن صفاتها الذميمة، وتخلقت بالأخلاق الحميدة” jiwa yang sempurna cahayanya dengan cahaya hati hingga terlepas dari sifat-sifat buruk, dan terbingkai dengan akhlaq yang terpuji.

Keberhasilan yang besar dari memperbaiki hati adalah jiwa yang tenang, tenang dalam beribadah, tenang dalam perjuangan dan pengorbanannya, tenang karena Allah menjadi poros segala amalnya, hati, ucapan dan tindakan.

Ini adalah kondisi hati yang mulia, hatinya tenang dengan keta’atan kepada Allah, tenang dengan janji-janji Allah. Merasakan nikmat dalam beribadah kepada Allah. Allah memenuhi segenap hatinya, Allah selalu ada dalam segala aktivitasnya. Jika Allah memberinya kenikmatan maka ia bersyukur dan bertambah keta’atannya. Jika Allah mengujinya dengan musibah maka ia bersabar dan bertambah kedekatannya kepada Allah, dan ia kembalikan segala urusannya kepada Allah.

Allah ta’ala berfirman dalam surat ar ra’du ayat ke 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hatinya menjadi tenteram dengan mengingat Allah, Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenang.”
Hasbunallah wa Ni’mal wakil


[1] Ibnu Sa’ad : Thobaqatul Kubro,  Beirut : Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1410 H, 6/122.
[2] Al Khatib al Baghdady : Tarikh Baghdad wa dziwalahu,  Beirut : Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1417 H, 2/5-14.
[3] Ibid, 13/101-103
[4] Isma’il al Anshari : At Tuhfatu ar Rabbaniyyah, Saudi Arabia : Daar al Ifta, tt, h 13.
[5] ‘Athiyah Salim : Syarh Arba’in an Nawawiyah, Saudi Arabia, tt, 19/6
[6] Ibnu Taimiyah : Majmu’ al Fatawa, Saudi Arabia : Percetakan raja fahd,  1416 H, Bab  Ushulun fi Tahrimi wa Tahlil,  29/315.
[7] Sebagaimana dikutip Dr Musthafa Dieb al Bugha & Muhyidin Misthu : al Wafi Fi Syarhi al Arba’in an Nawawiyah, Beirut : Daar Ibnu Katsir, 1414 H, h 33.
[8] Ibnu ‘Utsaimin : Syarh al Arba’in an Nawawiyah, Daar ats Tsurayya lin Nusr, tt, h 105.
[9] Ahmad bin Hanbal : al Musnad, Beirut : Muassasah ar Risalah, 1421 H, 3/248 hadits ke 1723. Shahih menurut syaikh Syu’aib al Arnauth. Hadits ini juga dikemukakan oleh Ath Thoyalisi 1178, at Tirmidzi 2518, al Hakim 2/13 dan al Baihaqi 5/335, imam al Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh adz Dzahabi.
[10] Abu Nu’aim al Ashbahany : Hilyatul Auliya wa Thobaqotul Ashfiya, Beirut : Daar al Kitab al ‘Araby, 1394 H,  7/288.
[11] Ibnu Rajab : Jami’ul Ulum wal Hikam, Beirut : Muassasah ar Risalah, 1422 H, h 204.
[12] Ash Shon’any : Subulus Salam, Daar al Hadits, tt, 2/689.
[13] Abu Dawud ath Thoyalisi : Musnad Abu Dawud, Mesir : Daar Hijr, 1419 H, 3/282 hadits ke 1819. Hadits ini dhaif menurut al albany lihat dha’if al jami’ no 4254, demikian pula al Haitsamy lihat Majma’uz Zawaid 3/136 no 4753.
[14] Sholih al Asmary : Majmu’at al Fawaid, Saudi Arabia : Daar ash shami’iy lin Nusyr wat Tau’zi’, 1420 H, h 80.
[15] Universitas Islam Madinah : Mudzakiratu Ushul Fiqh, tt, 1/16.
[16] Abu Bakar al Baihaqi : Sya’abul Iman, Saudi Arabia : Maktabah ar Rusyd, 1423 H, 1/257 hadits ke 108. Hadits ini dhaif menurut al Albany, lihat Silsilatu al Ahadits adh Dho’ifah 9/71 no 4074.
[17] Asy Syariif Al Jurzani: Kitab at Ta’rifat, Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1403 H, h 243.

KEUTAMAAN BERSIKAP RAMAH DAN DISUKAI ORANG LAIN


Dari Abu Sa’id al Khudry ra berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحَاسِنُهُمْ أَخْلَاقًا , الْمُوَطَّئُونَ أَكْنَافًا , الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ , وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَأْلَفُ وَلَا يُؤْلَفُ
Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Orang yang sopan dan mulia akhlaknya adalah mereka yang bersikap ramah dan disukai orang lain. Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak bersikap ramah dan tidak pula disukai orang lain.

Referensi Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh at thabrani dalam al Mu’jam ash Shagiir ( Beirut : al Maktab al Islamy 1405 H, 1/362).  Menurut Muhammad Nashirudin al Albany hadits ini hasan (lihat shahih al Jami’ 1231)

Perawi Hadits

Abu Sa’id al Khudry ra
Namanya adalah Sa’ad bin Malik bin Sinan bin Ubaid al Anshari al Khazraji. Beliau adalah salah seorang sahabat yang mulia, begitu pula ayahnya yang juga merupakan sahabat. Beliau belum cukup umur untuk ikut di perang Uhud, dan beliau hadir dalam peperangan setelah Uhud. Wafat di Madinah tahun 63 H, ada pula yang berpendapat tahun, 64 H, 65 H dan 74 H.

Ath Thabrani
Beliau adalah seorang Imam, al Hafidz, Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub al Lakhmi ath Thabrani. Penulis mu’jam yang tiga dan lainnya. Dia meriwayatkan dari an Nasai, Ishaq bin Ibrahim ad Dabri dan bannyak ulama. Wafat tahun 360 H.

Pelajaran dari Hadits

1. Akhlak mulia merupakan nilai terpenting dalam kehidupan, ia adalah salah satu unsur utama peradaban manusia. Bahkan akhlak mulia merupakan misi diutusnya Rasulullah saw, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra[1],
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik.

2. Akhlak yang baik mendatangkan kebaikan dan akhlak buruk mendatangkan keburukan pula. Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya,[2]
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَاعْلَمْ أَنَّ لَهَا عِنْدَهُ أَخَوَاتٍ فَإِذَا رَأَيْتَهُ يَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَاعْلَمْ أَنَّ لَهَا عِنْدَهُ أَخَوَاتٍ فَإِنَّ الْحَسَنَةَ تَدُلُّ عَلَى أَخَوَاتِهَا وَإِنَّ السَّيِّئَةَ تَدُلُّ عَلَى أَخَوَاتِهَا
Jika kamu melihat seorang yang mengerjakan kebaikan, maka ketahuilah bahwa ketaatan tersebut mendatangkan saudara-saudara lain (kebaikan lain) baginya. Dan jika kamu melihat seorang yang mengerjakan keburukan, maka ketahuilah bahwa maksiat tersebut mendatangkan saudara-saudara (keburukan lain) baginya, karena sesungguhnya sebuah ketaatan menunjukkan kepada saudaranya dan sebuah maksiat  menunjukkan kepada saudaranya.

3. Islam menganjurkan untuk memilih teman karib orang yang berakhlak baik. Rasulullah saw bersabda tentang pengaruh pertemanan pada kualitas agama seseorang. Dari Abu Hurairah ra,[3]
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
“Seseorang itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.”
Persahabatan hendaknya berorientasi agama, seperti saling menolong dalam kebaikan, menumbuhkan kemanfaatan ilmu dan amal, menjaga kebersihan hati dan memperkuat motivasi beribadah, hingga mencari manfaat untuk kepentingan akhirat sebagaimana riwayat dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw bersabda[4], “اسْتَكْثِرُوا مِنْ الْإِخْوَانِ فَإِنَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ شَفَاعَة يوم القيامة” perbanyaklah teman, karena setiap mukmin itu mempunyai syafa’at di hari akhir.
            
4. Islam menganjurkan berwajah ceria dan menjaga kerapihan fisik .    Dari Abu Dzar al Ghifari ra,[5]
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu pada wajah saudaramu adalah shodaqoh”
Dari Jabir bin Abdullah ra, Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang menemui kami. Tiba-tiba beliau menyaksikan seorang lelaki yang berbaju kusut dan rambutnya tidak rapi. Kemudian beliau bersabda[6],
أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ، وَرَأَى رَجُلًا آخَرَ وَعَلْيِهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ، فَقَالَ أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ
Apakah lelaki itu tidak memiliki sesuatu yang dapat menjadikan rambutnya rapi? kemudian beliau melihat lelaki lain yang berbaju kotor. lalu, Beliau bersabda: Apakah lelaki itu tidak memiliki sesuatu yang dapat ia gunakan untuk mencuci bajunya?

Hasbunallah wa ni’mal wakil

[1] Ahmad bin Hanbal : al Musnad. Beirut : Muassasah ar Risalah, 1421 H, 14/513. Shahih menurut al Arnauth.
[2] Abu Na’im al Ashbahany : Hilyatu al Auliya wa Thobaqatu al Ashfiya. Beirut : Daar al Kitab al ‘Araby, 1394 H, 2/177
[3] Ahmad bin Hanbal : al Musnad. Beirut : Muassasah ar Risalah, 1421 H, 14/513. 14/142. Jayyid menurut al Arnauth.
[4] Al Manawi : at Taysir bi Syarhi al Jami’ ash Shagiir. Riyadh : Maktabah al Imam asy Syafi’i, 1408 H, 1/149. Menurut penyusun hadits ini dha’if, demikian pula pendapat al Albani dalam Dha’if al Jami’ hadits no 827.
[5] Muhammad bin Isa at Tirmidzi : Sunan at Tirmidzi. Mesir : Syirkatu Maktabatu wa Mathba’atu Musthofa al Baaby al Halby, 1395 H, 4/399. Shahih menurut al Albany
[6] Abu Dawud : Sunan Abu Dawud. Beirut : Maktabah al ‘Ashriyah, tt, 4/51. Shahih menurut al Albany.

Tepat Dalam Memberikan Nasihat



Menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata: mengabarkan kepada kami Sufyan dari al A’masy, dari Abu Waa-il, dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الأَيَّامِ، كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا
Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memperhatikan bagi kami untuk memberikan nasihat, karena beliau takut akan merasa bosan.

Referensi Hadits
1. al Bukhari : Shahih al Bukhari, Bab ma kaana an Nabiyyu sholallahu ‘alaihi wa sallam yatakhawwaluhum bil mau’idzhati wal ‘ilmi kay la yanfiru, hadits no 68, Juz 1/25.
2. Muslim : Shahih Muslim, dengan sanad yang berbeda, bab al ‘iqtishad fil mau’idzah, hadits no 2821, Juz 4/2172.
3. Muhammad bin Isa at Tirmidzi : Sunan at Tirmidzi, dengan sanad yang berbeda, bab ma ja-a fil fashohah wal bayan, hadits no 2855, juz                                            5/142.
4. Abu Dawud ath Thoyalisi : Musnad Abu Dawud, dengan sanad yang berbeda dan matan yang serupa, bab ma asnada Abdullah bin Mas’ud ra,  hadits no 253, juz 1/206.
5. Ahmad bin Hanbal : Musnad Ahmad bin Hanbal, dengan sanad yang berbeda, bab musnad Abdullah bin Mas’ud ra, hadits no 3581, juz 6/57.
6. an Nasaa-i : Sunan al Kubra, dengan sanad yang berbeda dan matan yang serupa, bab at Takhawal bil mau’idzhah, hadits no 5858, juz 5/383.
7. juga diriwayatkan oleh yang lainnya, seperti al bazzar dalam musnadnya 5/94, Abu Ya’la dalam musnadnya 8/445,  Ibnu Hibban dalam shahihnya 10/383, ath Thabrani dalam mu’jam al awsath 4/259, al Baihaqi dalam al Aadab 1/129, al Baghawi dalam syarh as sunnah 1/312 dan ibnu ‘Asakir dalam mu’jam as syuyukh 1/241.

Perawi Hadits

Ibnu Mas’ud adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Habib al Hudzali, Abu Abdurrahman. Beliau adalah salah seorang sahabat mulia dari kalangan angkatan pertama yang masuk Islam, dalam sebuah riwayat dia orang keenam yang masuk Islam. Beliau termasuk ahlul badar, ikut dalam perang uhud, khandaq dan bai’aturridhwan. Beliau termasuk salah seorang ulama besar dari kalangan sahabat.

Rasulullah saw sangat mencintai dan memuliakannya. Dia adalah pelayan Rasulullah yang amanah dan penjaga rahasianya, teman ketika mukim dan bepergian. Dia diperbolehkan menemui Rasullah saw setiap saat dan berjalan bersamanya. Dia membawakan siwak, sandal dan air untuk bersucinya Nabi saw. Hadits yang diriwayatkan darinya sebanyak 848 hadits.
Diangkat menjadi gubernur Kufah oleh Umar ibn Khattab. Beliau wafat di Madinah tahun 32 H dimasa kekhalifahan Utsman bin Affan, pada usia sekitar 60 tahun.

Makna Kata
يَتَخَوَّلُنَا : يتعهدنا مراعيا أوقات (memperhatikan bagi kami waktu yang sesuai), يُصْلِحنَا (menyesuaikan bagi kami), يتخذنا (memilihkan bagi kami).
الْمَوْعِظَة : النصيحة (nasihat) التنبيه (peringatan)
السَّآمَةِ : الملل ( jenuh / bosan ),  النفور( enggan / meninggalkan )

Pemahaman Hadits

1. Memperhatikan aspek waktu dalam memberikan nasihat. Al khattabi[1] berkata demikianlah maksud dari hadits ini “كَانَ يُرَاعِي الْأَوْقَاتَ فِي تَذْكِيرِنَا وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ كُلَّ يَوْمٍ لِئَلَّا نَمَلَّ” bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memperhatikan waktu dalam memberikan nasihat, Beliau tidak memberikan nasihat setiap hari agar kami tidak merasa bosan. Abu Ubaid al Harawi menceritakan dalam al gharibiin dari Abu Amru asy Syaibani bahwa yang benar adalah yatahawaluna dengan (ح) sehingga bermakna “يتطلب أحوالنا التي ننشط فيها للموعظة” memperhatikan kondisi kami ketika memberikan nasihat. Namun menurut al arnauth pendapat pertama lebih kuat.[2] meskipun demikian memperhatikan kondisi pendengar ketika hendak menyampaikan sebuah nasihat juga harus diperhatikan.

Termasuk dalam pengertian ini adalah memilih waktu yang yang telah disepakati, makna ini disampaikan oleh al ‘Ainiy[3] “أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم كَانَ يعظ الصَّحَابَة فِي أَوْقَات مَعْلُومَة” bahwasanya Nabi saw memberikan nasihat bagi para sahabatnya pada waktu yang telah umum disepakati.

Memperhatikan aspek waktu juga berarti singkat, padat dan mudah dalam memberikan nasihat.
Dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata “كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتِ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا، وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا” aku shalat di belakang nabi saw, ternyata shalat dan khutbah beliau itu sedang-sedang saja.[4]

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan matan yang berbeda, dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ” Rasulullah saw tidak lama dalam memberi pelajaran pada hari jum’at namun hanya kalimat-kalimat yang ringan / mudah.[5]

Dari Amr bin al Ash ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “لَقَدْ رَأَيْتُ، أَوْ أُمِرْتُ، أَنْ أَتَجَوَّزَ فِي الْقَوْلِ، فَإِنَّ الْجَوَازَ هُوَ خَيْرٌ” sungguh aku lihat atau diperintah untuk singkat dalam berbicara, karena singkat dalam berbicara adalah yang terbaik.[6]

2. Perilaku mendidik itu lahir karena rasa cinta, menginginkan kebaikan bagi perserta didik. Bukan karena keinginan menonjolkan kepandaian, kebencian apalagi karena rasa sombong. Seorang pendidik harus memiliki jiwa yang penuh kasih sayang dan menginginkan kebaikan bagi mutarabbinya. Ibnu Bathal menjelaskan maksud hadits ini sebagai berikut [7]“أراد (صلى الله عليه وسلم) الرفق بأمته ليأخذوا الأعمال بنشاط وحرص عليها الصفة” bahwa rasulullah saw menginginkan berlaku lemah lembut kepada ummatnya dalam hal menggiatkan amal shalil serta sangat menginginkan kebaikan bagi mereka. Rasulullah saw bersabda [8]t“إِنَّ هَذَا الدِّينَ مَتِينٌ فَأَوْغِلْ فِيهِ بِرِفْقٍ” sesungguhnya agama ini kokoh maka tanamkanlah ia dengan lemah lembut.

3. Hadits ini menganjurkan agar bertahap dalam mengerjakan amal shalih dan mengutamakan kontinuitas amal. Amal sholeh akan mudah dikerjakan secara berkesinambungan jika bertahap dalam mengerjakannya. Bahkan amal yang dikerjakan secara kontinu itu lebih disukai, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra [9]“وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَادَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ” sesungguhnya amal ketaatan yang lebih dicintai adalah yang dikerjakan secara kontinu oleh pelakunya. 

4. Penting bagi para pendidik untuk menguasai metode memberikan nasihat yang baik sehingga tidak menyebabkan mutarabbinya menjadi cepat bosan. Sebagaimana sebuah teladan dari Rasulullah saw tentang ekspresi beliau ketika menyampaikan tema hari kiamat, seperti dikatakan Jabir bin Abdullah[10] “كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»” jika nabi berkhutbah memerah matanya, meninggi suaranya dan terlihat marah, hingga beliau seperti pemberi peringatan pasukan yang berkata, musuh akan darang kepada kalian pada pagi hari, musuh akan datang pada kalian sore hari.

5. Seorang pendidik yang sukses ialah yang mampu berinteraksi dengan anggotanya secara efektif dan membangun kerjasama yang positif. Pentahapan dalam pemberian nasihat dan pembebanan memungkinkan terjadinya adaptasi, kesertaan dan keterlibatan pendidik dengan anggotanya.

[1] Sebagaimana di kutip Ibnu Hajar al Asqalaani : Fath al Baari, Beirut : Daar al Ma’rifah, 1379 H, Juz 1, hlm 162.
[2] lihat penjelasan pada Musnad Imam Ahmad yang ditahqiq oleh Syu’aib al Arnauth. Ahmad bin Hanbal: al Musnad, Beirut : Muassasah ar Risalah, 1421 H, juz 6, hlm 59.
[3] Badruddin al ‘Ainiy : ‘Umdatu al Qaari Syarh Shahih al Bukhari, Beirut : Daar Ihya at Turats al ‘Arabiy, tt, Juz 2, hlm 44.
[4] Muslim : Shahih Muslim, Beirut : Daar Ihya at Turats al Araby, tt, Juz 2, hlm 591.
[5] Abu Dawud : Sunan Abu Dawud, Beirut : Maktabah al ‘Ashriyah, tt, Juz 1, hlm 289. Hadits ini hasan menurut al Albany
[6] Idem, Juz 4 hlm 302. Hadits ini shahih menurut al Albany.
[7] Ibnu Bathal : Syarh Shahih al Bukhari, Riyadh : Maktabah ar Rusyd, 1423 H, Juz 1, hlm 153.
[8] Ahmad bin Hanbal : al Musnad, Beirut: Muassasah ar Risalah, 1421 H, Juz 20, hlm 346, hadits ke 13502.
[9] Al Bukhari : Shahih al Bukhari. Daar Thuuq an Najah, 1422 H, Juz 1, hlm 17.
[10] Shahih Muslim, Juz 2, hlm 592.