Sholat Witir 3 Raka’at; Seperti Sholat Maghrib?



Sigit Suhandoyo

Sholat witir, merupakan sholat yang dilakukan dengan jumlah raka’at yang ganjil, dan bisa dilaksanakan dengan 1 raka’at. Adapun jika melaksanakan sholat witir 3 raka’at, terdapat beragam pendapat ilmuwan fiqih terkait pelaksanaannya. 


Pendapat terkait mengerjakan shalat witir semisal shalat maghrib merupakan salah satu pendapat yang dikemukakan oleh para ilmuwan fiqih dari mazhab Hanafiyah. 


Menurut fuqaha hanafiyah, sholat witir dikerjakan 3 raka’at secara langsung tanpa dipisahkan. Sholat dikerjakan 2 raka’at dengan tahiyat awal dan tahiyat akhir di raka’at ke tiga, seperti shalat maghrib. Fuqaha Hanafiyah menyampaikan hadits berikut:


حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ رُشَيْقٍ بِمِصْرَ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَمَّادٍ الدُّولَابِيُّ , ثنا أَبُو خَالِدٍ يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ , ثنا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّا الْكُوفِيُّ , ثنا الْأَعْمَشُ , عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ النَّخَعِيِّ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وِتْرُ اللَّيْلِ ثَلَاثٌ كَوِتْرِ النَّهَارِ صَلَاةُ الْمَغْرِبِ» (1)


Dari Abdullah bin Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah telah bersabda: “Witir malam itu tiga rakaat seperti witir siang yaitu shalat Maghrib.”


Fuqaha Hanafiyah juga menggunakan riwayat dari Abul ‘Aliyah berikut:


حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرَةَ، قَالَ: ثنا أَبُو دَاوُدَ، قَالَ: ثنا أَبُو خَلْدَةَ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا الْعَالِيَةِ عَنِ الْوِتْرِ، فَقَالَ: «عَلَّمَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ عَلَّمُونَا أَنَّ الْوِتْرَ مِثْلُ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ , غَيْرَ أَنَّا نَقْرَأُ فِي الثَّالِثَةِ , فَهَذَا وِتْرُ اللَّيْلِ , وَهَذَا وِتْرُ النَّهَارِ»(2)


“Para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kami” atau “mereka mengajarkan kepada kami bahwa witir itu seperti shalat Maghrib, hanya saja kami membaca surah pada rakaat ketiga. Maka ini adalah witir malam, dan ini adalah witir siang.”


Badruddin al-‘Aiyni, salah seorang pakar fiqih Hanafiyah mengemukakan, Madzhab kami juga kuat dari sisi tinjauan akal, karena waktu shalat itu tidak lepas apakah ia fardhu atau sunnah. Jika ia fardhu, maka shalat fardhu itu tidak lain hanyalah dua rakaat, tiga rakaat, atau empat rakaat. Dan mereka semua telah sepakat bahwa witir itu tidak dua rakaat dan tidak empat rakaat, maka tetaplah bahwa ia tiga rakaat. Dan jika ia sunnah, maka sesungguhnya kami tidak mendapati shalat sunnah kecuali ada yang semisal dengannya dalam shalat fardhu. Sebagaimana shalat fardhu, kami tidak mendapatinya (witir) semisal kecuali Maghrib, dan ia tiga rakaat, maka tetaplah bahwa witir itu tiga rakaat. Dan ini baik lagi bagus.(3)


Masih dalam kitab yang sama, al-Aiyni mengemukakan bahwa dalam mazhab Hanafiyah sholat witir ada dua pendapat. Pertama, 3 raka’at dengan satu salam di akhir, hal ini sebagaimana salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i. Kedua, 3 raka’at dengan 2 salam tanpa dipisahkan.(4)


Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendapat mengerjakan shalat witir 3 rakaat menyerupai shalat Maghrib meski memiliki landasan hadits, atsar sahabat, dan qiyas kepada shalat Maghrib. Hanya merupakan pendapat yang dikenal dalam mazhab Hanafiyah, dan tidak dikenal dalam mazhab lain. Hasbunallah wa Ni’mal Wakil


Catatan Kaki

  1. Abul Hasan Ali al-Daruquthni, Sunan al-Daruquthni, (Beirut: Muassasatu al-Risalah, 2004), juz 2, hlm 349, hadits no 1653. 
  2. Abu Ja’far al-Thahawi, Syarh Ma’ani wa al-Atsar, Alam al-Kutub, 1414 H, Juz 1, hlm 293, hadits no 1743 
  3. Badruddin al-Aiyni, Al-Binayah Syarh al-Hidayah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2000), Juz 2, hlm 484.
  4. Ibid, Juz 2, hlm 485.