Mencintai Nabi Muhammad SAW



Dari Anas ra berkata. Rasulullah saw bersabda :
 " ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد إذ أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف بالنار "
"tiga perkara yang barangsiapa ketiga perkara tersebut pada dirinya niscaya dia merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari pada selain keduanya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah semata, dan dia membenci kembali kepada kekufuran setelah Allah mengeluarkan-nya darinya sebagaimana di membenci jika dicampakkan kedalam neraka"(Bukhari-Muslim)
وفي رواية :  لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلا لله ... إلخ  .
Dalam riwayat lain disebutkan, "seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga ....." dan seterusnya

Barangsiapa ketiga perkara tersebut ada pada dirinya maksudnya secara sempurna
وجد بهن حلاوة الإيمان  الحلاوة هنا هي التي يعبر عنها بالذوق لما يحصل به من لذة القلب ونعيمه وسروره وغذائه ، وهي شئ محسوس يجده أهل الإيمان في قلوبهم .
Niscaya dia merasakan manisnya iman. Manis dalam hal ini digunakan untuk mengungkapkan rasa, berupa kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan hati. Ia adalah sesuatu yang nyata yang dirasakan oleh ahli iman di dalam hati mereka.
قال السيوطي رحمه الله في التوشيح : وجد حلاوة الإيمان فيه استعارة تخييلية . شبه رغبة المؤمن في الإيمان بشئ حلو، وأثبت له لازم ذلك الشئ ، وأضافه إليه .
AsSuyuthi rahimahullah berkata dalam atTausyih: Dia merasakan manisnya iman, didalam kalimat ini terdapat ungkapan isti'arah takhyiliyah, dimana Nabi saw menyamakan kecintaan seorang Mukmin terhadap keimanan dengan sesuatu yang manis dan beliau menetapkan konsekuensi dari sesuatu itu dan menisbatkan kepadanya.
وقال النووي: معنى حلاوة الإيمان استلذاذ الطاعات وتحمل المشاق وإيثار ذلك على أغراض الدنيا ، ومحبة العبد لله بفعل طاعته وترك مخالفته . وكذلك الرسول صلى الله عليه وسلم .
anNawawi berkata, "makna manisnya iman adalah merasakan kelezatan dalam menunaikan ketaatan, sabar dalam menjalani kesulitan dan lebih mementingkan hal itu daripada kesenagan dunia. Cinta seorang hamba kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Seperti itu pula cinta kepada Rasulullah saw.
قال يحيى بن معاذ : حقيقة الحب في الله : أن لا يزيد بالبر ولا ينقص بالجفاء .
Yahya bin Mu'adz berkata, "Hakikat cinta karena Allah adalah cinta yang tidak bertambah karena adanya kebaikan dan tidak berkurang karena sebaliknya"
أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما  يعني بالسوى : ما يحبه الإنسان بطبعه ، كمحبة الولد والمال والأزواج ونحوها . فتكون  أحب  هنا على بابها .
Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada selain keduanya. Yang dimaksud dengan selain disini adalah apa yang dicintai seseorang dengan taviatnya, seperti cinta kepada anak, harta, suami atau istri dan sepertinya. Maka kata (ahabba) disini penggunaannya tepat.
وقال الخطابي : المراد بالمحبة هنا حب الاختيار لا حب الطبع كذا قال .
Al Khathabi berkaya, "yang dimaksud dengan cinta disini adalah cinta sukarela bukan cinta tabiat"
وأما المحبة الشركية التي قد تقدم بيانها فقليلها وكثيرها ينافي محبة الله ورسوله وفي بعض الأحاديث
Adapun cinta syirik yang telah dijelaskan maka sedikit dan banyaknya menafikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam sebagian hadits :

"أَحِبُّوا اللهَ بكلِّ قلوبِكم"
Cintailah Allah dengan seluruh hatimu
فمن علامات محبة الله ورسوله : أن يحب ما يحبه الله ويكره ما يكرهه الله ، ويؤثر مرضاته على ما سواه ، ويسعى في مرضاته ما استطاع ، ويبعد عما حرمه الله ويكرهه أشد الكراهة ، ويتابع رسوله ويمتثل أمره ويترك نهيه ، كما قال تعالى : ' 4 : 80 '
Diantara tanda cinta kepada Allah dan Rsul-Nya adlah seseorang mencintai apa yang Allah cintai, membenci apa yang Dia benci, mendahulukan ridhna-Nya atas selainnya, berusaha meraih ridha-Nya semampumungkin, menjauhi apa yang Allah haramkan dan membencinya dengan sangat, mengikuti Rasul-Nya, menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangannya, sebagaimana Allah ta'ala berfirman,
" من يطع الرسول فقد أطاع الله "
"Barangsiapa yang menaati Rasul sesungguhnya dia telah menaati Allah"
 فمن آثر أمر غيره على أمره وخالف ما نهى عنه ، فذلك أحب الله وأطاعه أحب الرسول وأطاعه . ومن لا فلا ، كما في آية المحنة ، ونظائرها . والله المستعان .
Maka barangsiapa mementingkan perintah selainnya atas perintahnya dan melanggar apa yang dia larang, Siapa yang mencintai Allah dan menaati-Nya niscaya dia akan mencintai Rasulullah saw dan menaatinya. Siapa yang tidak demikian maka dia tidak, sebagaimana dalam ayat ujian, dan ayat-ayat lain yang serupa. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
قال شيخ الإسلام رحمه الله تعالى : أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أن هذه الثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان . لأن وجود الحلاوة للشئ يتبع المحبة له
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: "Nabi saw mengabarkan tiga perkara ini, barangsiapa memilikinya, niscaya dia akan merasakan manisnya iman, sebab adanya rasa manis untuk sesuatu itu karena adanya kecintaan kepadanya.
 فمن أحب شيئاً واشتهاه ، إذا حصل له مراده فإنه يجد الحلاوة واللذة والسرور بذلك ، واللذة أمر يحصل عقيب إدراك الملائم الذي هو المحبوب أو المشتهى .
Siapa yang mencintai sesuatu dan berhasrat kepadanya, lalu dia berhasil mendapatkannya, maka dia akan merasakan manis, kenikmatan dan kesenangan dengan itu. Dan kesenangan adalah perkara yang terwujud setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu apa yang dicintai dan dihasratkan.
 قال : فحلاوة الإيمان المتضمنة للذة والفرح تتبع كمال محبة العبد لله . وذلك بثلاثة أمور : تكميل هذه المحبة وتفريغها ، ودفع ضدها .
Syaikhul Islam melanjutkan, manisnya iman mengandung kenikmatan dan kebahagiaan mengikuti kesempurnaan cinta seorang hamba kepada Allah, dan hal itu dapat terwujud dengan tiga perkara: menyempurnakan cinta tersebut, memurnikannya dan menghindari lawannya.
 فتكميلها أن يكون الله ورسوله أحب إلى العبد مما سواهما ، فإن محبة الله ورسوله لا يكتفى فيها بأصل الحب ، بل أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما .
Menyempurnakan cinta berarti seorang hamba lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya, sebab cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tidak cukup hanya sekedar cinta, akan tetapi Allah dan RasulNya harus lebih dicintai daripada selain keduanya

قلت : ومحبة الله تعالى تستلزم محبة طاعته ، فإنه يحب من عبده أن يطيعه . والمحب يحب ما يحبه محبوبه ولا بد .
Saya (pensyarah) berkata, Cinta kepada Allah ta'ala menuntut cinta kepada ketaatan kepada-Nya, karena Allah mencintai ketaatan dari hamba-Nya, dan sang pencinta akan mencintai apa yang dicintai oleh yang dicintainya dan itu pasti.
ومن لوازم محبة الله أيضاً : محبة أهل طاعته ، كمحبة أنبيائه ورسله والصالحين من عباده . فمحبة ما يحبه الله ومن يحبه الله من كمال الإيمان .
Diantara tuntutan cinta kepada Allah adalah mencintai orang-orang yang menaati-Nya, seperti mencintai para nabi, para rasul, dan orang-orang shaleh dari hamba-hamba-Nya. Mencintai apa dan siapa yang Allah cintai termasuk kesempurnaan iman.

قال : وتفريغها . أن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، قال : ودفع ضدها أن يكره ضد الإيمان كما يكره أن يقذف في النار . انتهى .
Syaikhul Islam berkata, memurnikannya berarti dia mencintai seseorang hanya karena Allah. Beliau melanjutkan, menghindari lawannya adalahmembenci lawan iman seperti dia membenci jika dimasukkan ke dalam api neraka. selesai
أحب إليه مما سواهما  فيه جمع ضمير الله تعالى وضمير رسوله صلى الله عليه وسلم:
Lebih dicintainya daripada selain keduanya, disini terdapat penggabung-an dhamir Allah ta'ala dan dhamir Rasulullah saw.
أنه ثنى الضمير هنا إيماء إلى أن المعتبر هو المجموع المركب من المحبتين ، لا كل واحدة فإنها وحدها لاغية .
Bahwa disini Nabi saw menyebutkan dhamir mutsanna sebagai isyarat bahwa yang shahih adalah kumpulan yang tersusun dari dua cinta bukan sendiri-sendiri, sebab jika ia sendiri, maka ia tidak berarti.
كما يكره أن يقذف في النار أي يستوى عنده الأمران . وفيه رد على الغلاة الذين يتوهمون أن صدور الذنب من العبد نقص في حقه مطلقاً وإن تاب منه . والصواب : أنه إن لم يتب كان نقصاً وإن تاب فلا،
Sebagaimana dia membenci jika dicampakkan kedalam api neraka, yakni dua perkara tersebut baginya adalah sama. Ini mengandung bantahan terhadap orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan yang menyatakan bahwa terjadinya dosa dari seorang hamba merupakan kekurangan pada dirinya walaupun yang bersangkutan telah bertaubat. Yang benar adalah jika dia tidak bertaubat maka ia merupakan kekurangan dan jika dia bertaubat maka bukan kekurangan.

ولهذا كان المهاجرون والأنصار رضي الله عنهم أفضل هذه الأمة مع كونهم في الأصل كفاراً فهداهم الله إلى الإسلام ، والإسلام يمحو ما قبله ، وكذلك الهجرة .
Oleh karena itu orang-orang muhajirin dan anshar adalah generasi terbaik
ummat ini walaupun sebelum itu mereka adalah orang-orang yang kafir, lalu Allah membimbing mereka kepada Islam, dan Islam menghapus apa yang sebelumnya, demikian juga hijrah.
وفي رواية : لا يجد أحد  هذه الرواية أخرجها البخاري في الأدب من صحيحه .
Dalam riwayat lain disebutkan, seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, riwayat ini diriwayatkan oleh alBukhari dalam kitabnya al Adab dari shahihnya.
 ولفظها :  لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى يحب المرء لا يحبه إلى لله ، وحتى أن يقذف في النار أحب إليه من أن يرجع إلى الكفر بعد إذ أنقذه الله منه ، وحتى يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما  .
Lafadznya "seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga dia mencintai seseorang kecuali karena Allah, sehingga dicampakkannya ia ke dalam api neraka lebih dia sukai daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya, dan sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya."

وقد تقدم أن المحبة هنا عبارة عما يجده المؤمن من اللذة والبهجة والسرور والإجلال والهيبة ولوازم ذلك،  قال الشاعر :
Dan telah dijelaskan bahwa cinta disini adalah ungkapan dari apa yang dirasakan oleh seorang mukmin berupa kenikmatan, kebahagiaan, kesenangan, kehormatan, kewibawaan dan konsekuensi dari hal itu. Seorang penyair berkata:
أهابك إجلالاً . وما بك قدرة     على ، ولكن ملء عين حبيبها
Aku segan kepadamu karena aku menghormatimu, padahal kamu tidak memiliki kekuatan atasku, namun cintanya memenuhi mata.

Disarikan secara bebas dari Buku Fathul Majid

Hikmah Penciptaan Jin dan Manusia



 
"وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون"
dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku (adz dzariyat 56)
قال شيخ الإسلام : العبادة هى طاعة الله بامتثال ما أمر الله به على ألسنة الرسل .
Syaikhul Islam berkata, "Ibadah adalah mentaati Allah dengan melaksanakan segala sesuatu yang Dia perintahkan melalui lisan para Rasul"
وقال أيضاً : العبادة اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الأقوال والأعمال الظاهرة والباطنة .
Beliau juga berkata, "Ibadah adalah sebuah nama yang mencakup perkataan dan perbuatan lahir dan batin yang dicintai dan diridhoi oleh Allah.
قال ابن القيم : ومدارها على خمس عشرة قاعدة . من كملها كمل مراتب العبودية .
Berkata Ibnul Qayyim, "inti ibadah berkisar pada lima belas kaidah, siapa yang menyempurnakannya, maka dia telah menyempurnakan derajat-derajat (tingkatan-tingkatan) ubudiyah

وبيان ذلك : أن العبادة منقسمة على القلب واللسان والجوارح .
Penjelasannya adalah bahwa  ibadah itu terbagi atas hati, lisan dan anggota badan.
 والأحكام التى للعبودية خمسة : واجب ومستحب وحرام ومكروه ومباح . وهن لكل واحد من القلب واللسان والجوارح .
Sedangkan hukum yang berkaitan dengan peribadahan ada lima, wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Hukum yang lima ini untuk hati, lisan dan anggota badan.
وقال القرطبى : أصل العبادة التذلل والخضوع . وسميت وظائف الشرع على المكلفين عبادات . لأنهم يلتزمونها ويفعلونها خاضعين متذللين لله تعالى .
Berkata al Qurthubi, asal ibadah adalah kepasrahan dan ketundukan, beban-beban syari'at atas mukallaf dinamakan ibadah, karena mereka komitmen berpegang kepadanya dan melaksanakannya dengan kepasrahan dan ketundukan kepada Allah ta'ala.
ومعنى الآية : أن الله تعالى أخبر أنه ما خلق الجن والإنس إلا لعبادته . فهذا هو الحكمة في خلقهم .
Makna ayat tersebut adalah, bahwa Allah ta'ala mengabarkan bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Inilah hikmah diciptakannya manusia
قلت : وهي الحكمة الشرعية الدينية .
Saya berkata, ia adalah hikmah syar'iyyah diniyah
قال العماد ابن كثير : وعبادته هى طاعته بفعل المأمور وترك المحظور . وذلك هو حقيقة دين الاسلام .
Berkata Imaduddin Ibnu Katsir, Ibadah kepada-Nya adalah mentaati-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan  dan meninggalkan apa yang dilarang. Itulah hakikat agama Islam.
. لأن معنى الإسلام : الاستسلام لله تعالى ، المتضمن غاية الانقياد والذل والخضوع . انتهى
karena makna "al Islam" adalah "al istislam" menyerahkan diri kepada Allah ta'ala yang mengandung puncak ketundukan, kerendahan diri dan kepasrahan. Demikian.
وقال أيضا فى تفسير هذه الاية : ومعنى الآية أن الله خلق الخلق ليعبدوه وحده لا شريك له. فمن أطاعه جازاه أتم الجزاء. ومن عصاه عذبه أشد العذاب .
Beliau berkata pula dalam tafsirnya mengenai ayat ini, makna ayat ini bahwa Allah menciptakan makhluq agar mereka menyembah-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, siapa yang mentaati-Nya maka Dia membalasnya dengan balasan yang paling sempurna, dan siapa yang mendurhakai-Nya maka Dia menyiksanya dengan siksa yang paling keras.
 وأخبر أنه غير محتاج إليهم . بل هم الفقراء فى جميع أحوالهم وهو خالقهم ورازقهم .
Dia mengabarkan bahwa Dia tidak membutuhkan mereka, justru merekalah yang membutuhkan-Nya dalam segala keadaan mereka, Dia adalah Pencipta dan Pemberi rizqi mereka.
 وقال علي بن أبى طالب رضى الله عنه فى الآية إلا لآمرهم أن يعبدونى وأدعوهم إلى عبادتى
Dan berkata Ali bin Abi Tholib tentang makna ayat ini, lecuali agar Aku memerintahkan mereka agar mereka beribada kepada-Ku dan Aku mengajak mereka untuk beribadah kepada-Ku.
 وقال مجاهد : إلا لآمرهم وأنهاهم اختاره الزجاج وشيخ الإسلام . قال : ويدل على هذا قوله ' 75 : 36 ' "أيحسب الإنسان أن يترك سدى"
Berkata Mujahid, kecuali untuk Aku perintah dan Aku larang. Inilah yang dipilih oleh az Zajjaj dan Syaikhul Islam. Dia (syaikhul Islam)berkata, hal ini ditunjukkan oleh firman-Nya, "Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)" al qiyamah 36.
 قال الشافعى : لا يؤمر ولا ينهى وقال فى القرآن فى غير موضع "اعبدوا ربكم" "اتقوا ربكم"
Berkata asy-Syafi'i, maksudnya tidak diperintah dan tidak dilarang?. Allah telah berfirman tidak hanya pada satu tempat "sembahlah Rabb kalian" (al baqarah 21), "bertaqwalah kepada Rabb kalian" (an Nisa 1)

 فقد أمرهم بما خلقوا له . وأرسل الرسل بذلك . وهذا المعنى هو الذى قصد بالآية قطعاً ، وهو الذى يفهمه جماهير المسلمين ويحتجون بالآية عليه .
Dia memerintahkan mereka untuk melakukan sesuatu yang karenanya mereka diciptakan dan untuk itu pula para rasul di utus. Inilah yang difahami oleh jumhur kaum Muslimin dan mereka berhujjah dengan ayat-ayat ini atasnya.
قال وهذه الآية تشبه قوله تعالى : ' 4 : 64 ' "وما أرسلنا من رسول إلا ليطاع بإذن الله"
Beliau berkata, ayat ini serupa dengan firman Allah ta'ala, "Dan kami tidak mengutus seoang rasulpun melainkan untuk di taati dengan seizin Allah" (an Nisa 64)
 ثم قد يطاع وقد يعصى . وكذلك ما خلقهم إلا لعبادته . ثم قد يعبدون وقد لا يعبدون .
Selanjutnya Rasul tersebut mungkin di taati dan mungkin didurhakai. Demikian pula, Allah tidak menciptakan mereka kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Kemudian mereka mungkin beribadah kepada-Nya dan mungkin pula tidak beribadah kepada-Nya.
وهو سبحانه لم يقل : إنه فعل الأول . وهو خلقهم ليفعل بهم كلهم . الثانى : وهو عبادته ولكن ذكر أنه فعل الأول ليفعلوا هم الثانى . فيكونوا هم الفاعلين له . فيحصل لهم بفعله سعادتهم ويحصل ما يحبه ويرضاه منه ولهم . انتهى .
Allah ta'ala tidak berkata bahwa Dia melakukan yang pertama yaitu menciptakan mereka untuk membawa mereka semuanya kepada yang kedua, yaitu beribadah kepada-Nya, akan tetapi Dia menyatakan bahwa Dia melakukan yang pertama agar mereka melakukan yang kedua. Jadi merekalah yang melakukannya. Sehingga dengan melakukannya mereka mendapatkan kebahagiaan dan terwujud apa yang dicintai dan diridhoi oleh-Nya. Demikian ibnu katsir
ويشهد لهذا المعنى : ما تواترت به الأحاديث .
Makna ini dikuatkan oleh hadits-hadits yang mencapai derajat mutawatir.

فمنها ما أخرجه مسلم فى صحيحه عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :
Diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Anas bin malik ra dari nabi saw beliau bersabda:
"يقول الله تعالى لأهون أهل النار عذاباً : لو كانت لك الدنيا وما فيها ومثلها معها أكنت مفتدياً بها ؟ فيقول : نعم . فيقول : قد أردت منك أهون من هذا وأنت فى صلب آدم . أن لا تشرك - أحسبه قال : ولا أدخلك النار - فأبيت إلا الشرك"
Allah berfirman kepada penduduk neraka yang paling ringan azabnya, seandainya kamu memiliki dunia dengan segala isinya, apakah kamu akan menebus azab ini dengannya? Dia menjawab, "ya". Allah berfirman, "Aku telah menginginkan darimu apa yang lebih ringan daripada ini sejak kamu masih dalam tulang sulbi Adam, hendaknya kamu tidak menyekutukan-Ku – beliau bersabda – Allah berfirman, "Dan Aku tidak memasukkanmu kedalam api neraka-, tetapi kamu menolak selain menyekutukan-Ku." (diriwayatkan juga oleh Ahmad dan al Bukhari)
 فهذا المشرك قد خالف ما أراده الله تعالى منه : من توحيده وأن لا يشرك به شيئاً.
Maka orang musyrik ini telah menyelisihi apa yang Allah ta'ala inginkan darinya, yaitu mentauhidkannya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu.
 فخالف ما أراده الله منه فأشرك به غيره . وهذه هى الإرادة الشرعية الدينية كما تقدم .
Maka mereka menyelisihi apa yang Allah inginkan darinya sehingga dia menyekutukan dengan selain-Nya. Inilah yang disebut dengan iradah syar'iyah diniyah sebagaimana yang telah disebutkan.
فبين الإرادة الشرعية الدينية والإرادة الكونية القدرية عموم وخصوص مطلق .
Diantara iradah syar'iyah diniyah dengan iradah kauniyah qadariyah, terdapat sisi keumuman dan kekhususan yang mutlak.
يجتمعان فى حق المخلص المطيع . وتنفرد الإرادة الكونية القدرية فى حق العاصى . فافهم ذلك تنج من جهالات أرباب الكلام وتابعيهم . 
Keduanya terkumpul pada orang yang taat dan ikhlas, sementara iradah kauniyah qadariyah hanya ada secara khusus pada orang yang durhaka. Fahamilah hal ini, niscaya anda selamat dari kejahilan ahli kalam dan para pengikut mereka.

Disarikan bebas dari buku fathul majid

Do’a Istikharah



Jabir bin Abdullah ra berkata. Adalah Rasulullah saw mengajari kami sholat istikharah untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surat al Qur’an. Beliau bersabda: “apabila seseorang diantara kamu memiliki rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaklah melakukan sholat sunnah (istikharah) dua rakaat, kemudian bacalah do’a ini

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَ أَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الَعَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَ لاَ أَقْدِرُ، وَ تَعْلَمُ، وَ لاَ أَعْلَمُ، و َ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمرَ – hendaknya menyebut persoalannya - خَيْرٌ لِي فِي دِيني وَ مَعَاشِي وَ عَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي وَ يَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِيْنِي وَ مَعَاشِي وَ عَاقِبَةِ أَمْرِي فَأَصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَ اقْدُرْ لِيَ الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ.

Ya Allah, sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon kekuasaan-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah apabila engkau mengetahui urusan ini (hendaknya menyebut persoalannya) lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku, sukseskanlah untukku, mudahkanlah jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untukku di mana saja kebaikau itu berada, kemudian berilah kerelaan-Mu kepadaku. (HR Bukhari 7/162)

Do'a Yang Terkait Dengan Adzan



Seseorang yang mendengarkan adzan hendaklah berkata sebagaimana yang dikatakan oleh muadzin, kecuali dalam kalimat “hayya ‘alash sholaah dan hayya ‘alal falaah” maka pada saat itu katakanlah “laa haula wala quwwata illa billah” (HR Bukhari 1/152 & Muslim 1/228)
وَ أَنَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ و َرَسُولُهُ، وَ رَضِيْتُ بِاللهِ رَبّاَ، و بِمُحَمَّدٍ رَسُولاً، وَ بِالإِسلاَمِ دِيْناً
Aku bersaksi, bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Aku rela Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai rasul dan Islam sebagai agama yang benar. (HR Muslim 1/290, pada riwayat Ibnu Huzaimah 1/220 ada keterangan tambahan “dibaca setelah muadzin membada syahadat”)
Membaca sholawat kepada nabi saw sesudah menjawab adzan (HR Muslim 1/228)
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، و الصَّلاَةِ القَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّداً الوَسِيلَةَ و الفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوداً الَّذِي وَ عَدْتَهُ، (إِنَّكَ لاَ تُخْلِيفُ المِيعَادَ).
Ya Allah, Tuhan panggulan yang sempurna dan sholat wajib yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga yang tidak diberikan selain kepada nabi saw) dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempari maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. (HR Bukhari 4/152. Dalam riwayat al Baihaqi 1/410 ada tambahan “innaka la tukhliful mi’aad” dengan sanad hasan. Lihat tuhfatul akhyar oleh syaikh abdul aziz bin baz halaman 38)
Disunnahkan berdo’a untuk diri sendiri antara adzan dan iqomah, sebab do’a pada waktu itu dikabulkan. (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad. Lihat irwaaul ghaliil 1/262)


Waktu Subuh



Memohon Perlindungan Allah dari Kejahatan Mahluk-Nya.
Tadabbur surat Al Falaq 1-5
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki".   

Sebab Turunnya Ayat
Diturunkannya surat ini sebagaimana diriwayatkan dalam as shahihain dari ‘Aisyah ra
ِفي قِصَّةِ سِحْرِ لَبِيْدِ بْنِ الأَعْصَمِ الْيَهُوْدِيِّ رَسُولَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم. وَالنَّفَّاثَاتُ: َبنَاتُهُ الَّلوَاتِيْ كُّّنَّ سَاحِرَاتٍ، فَسَحَرْنَ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلّم، وَعَقَدْنَ لَهُ إِحْدَى عَشْرَةَ عُقْدَةً، فَأَنْزَلَ اللهُ تعالى إِحْدَى عَشْرَةَ آيَةً بِعَدَدِ الْعُقَدِ، هِيَ الْمُعَوِّذَتَانِ، فَشُفِيَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم.(1)
Kisah ini tentang sihir seorang yahudi bernama Labid bin al A’sham kepada Rasulullah saw. Dan wanita-wanita tukang sihir (yang dimaksud pada surat ini) adalah anak-anak perempuan Labid bin Al A’sham. Mereka semua menyihir Rasulullah saw dan membuat buhul-buhul dari tali sebanyak sebelas ikatan tali. Dengan tali tersebut mereka membacakan jampi-jampi dan menghembuskan napasnya pada buhul tersebut. Lalu Allah Ta’ala menurunkan sebelas ayat sesuai jumlah buhul itu, yaitu al mu’awidzatain (dua surat perlindungan) maka dengannya Allah Ta’ala memberikan kesembuhan.  

Keutamaan Al Muawidzatain (surat al falaq & an naas)
Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dari hadits Uqbah bin Amir, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
أَلمَ ْتَرَ آياتٌ أُنْزِلَتِ الَّليْلَةَ لَمْ يَرَ مِثْلَهُنَّ قَطُّ: أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ (2)
Apakah kamu tidak melihat ayat-ayat yang diturunkan semalam, yang tidak pernah dilihat yang serupa dengan itu sama sekali yaitu ‘Audzu birabbil falaq, A’udzu birabbin naas” 
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah ra, 
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ الْمُعَوِّذَاتِ، وَيَنْفُثُ "، قَالَتْ عَائِشَةُ: " فَلَمَّا اشْتَكَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، جَعَلْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ، وَأَمْسَحُهُ بِكَفِّهِ، رَجَاءَ بَرَكَةِ يَدِهِ(3) 
bahwa jika Rasulullah saw merasa sakit maka beliau membacakan untuk dirinya al mu’awidzatain dan meniupkannya. Dan ketika rasa sakitnya semakin parah, maka aku membacakan kepada beliau al mu’awidzaat, lalu aku mengusapkan tangan beliau padanya dengan mengharapkan berkahnya. 
Dalam riwayat at Tirmidzi juga disebutkan dari hadits al Jariry, dari Abu Hurairah dari Abu Sa’id, ia berkata, 
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الجَانِّ وَعَيْنِ الإِنْسَانِ حَتَّى نَزَلَتِ المُعَوِّذَتَانِ فَلَمَّا نَزَلَتَا أَخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَا سِوَاهُمَا(4) 
Rasululah saw pernah berta’awudz dari jin dan dari pandangan manusia hingga turun al mu’awwidzatain. Maka ketika dua surat ini turun maka beliau membacanya dan meninggalkan bacaan yang lainnya. 

Memahami Makna Isti’adzah
Lafadz عَاذَ dan berbagai bentukan kata yang berasal darinya menunjukkan kewaspadaan, perlindungan dan keselamatan. Hakikat maknanya ialah,
الْهُرُوْبُ مِنْ شَيْءٍ تَخَافُهُ إِلِى مَنْ يُعْصِمُكَ مِنْهُ (5) 
Lari dari orang yang ditakuti kepada orang lain yang dapat melindunginya dari yang ditakuti tersebut. Makna أَعُوذُ ialah aku berlindung dan aku mencari penjagaan. Ada dua pendapat tentang pengertian ini yaitu berasal dari makna menutupi dan makna keharusan saling berdampingan. 
Dengan demikian orang yang memohon perlindungan kepada Allah akan menjadikan Allah sebagai penutup, tameng atau benteng penjaga yang senantiasa menjaganya dari ancaman marabahaya dimanapun ia berada, karena kebersamaan tersebut. Ibnul Qayyim berpendapat bahwa perkara yang dimintai perlindungan adalah perlindungan dari kemaksiatan diri sendiri dan kejahatan dari fihak lain selain dirinya(6).  Sebagaimana do’a Rasulullah saw sebelum tidurnya yang mengajarkan tentang permohonan perlindungan dari dua kejahatan tersebut,
اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ والأَرْضِ، عَالِمَ الغيبِ والشهادةِ، أنتَ ربُّ كلِّ شيءٍ ومَليكُهُ، أشهد أنْ لا إله إلا أنتَ وحدَكَ لا شريكَ لكَ، والملائكةُ يشهدون، اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بكَ مِنَ الشَّيْطَانِ وشَرَكِهِ، وأعوذُ بكَ أن أَقْتَرِفَ عَلَى نَفسِي سُوءًا أو أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ (7) 
Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Rabb segala sesuatu dan Rajanya, aku bersaksi bahwa tiada ilah melainkan Engkau, dan malaikat yang senantiasa bersaksi, aku berlindung kepada Engkau dari kejahatan diriku dan kejahatan syetan serta perangkapnya, agar aku tidak berbuat keburukan atas diriku sendiri atau menimpakannya kepada seorang muslim. 
Memohon perlindungan adalah menjadi hak Allah seutuhnya sebagai Rabb, Malik dan Ilah manusia (sebagaimana surat an naas) dan tidak dibenarkan memohon perlindungan kepada selainnya dalam perkara-perkara yang tidak sanggup dilakukan oleh makhluk. Allah ta’ala berfirman dalam surat al jin ayat 6,
وَأَنَّهُ كانَ رِجالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزادُوهُمْ رَهَقاً
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.
Surat al Falaq ini mencakup permohonan perlindungan kepada Allah atas perkara-perkara kejahatan sebagai berikut, makhluq, waktu malam, wanita-wanita tukang sihir dan orang-orang yang mendengki. 
Berlindung kepada Rabb yang menguasai al Falaq
Menurut Ibnu Jarir ath Thobari para ahli ta’wil berbeda pendapat tentang pengertian al falaq. 
Dalam riwayat Ibnu Abbas al falaq adalah سجن في جهنم penjara di neraka jahannam. Hasim mengabarkan dari al ‘Awwam bin Abdul Jabbar bahwa al falaq adalah “بيت في جهنم إذ فُتح هَرّ أهْلُ النار ” rumah di neraka jahannam yang jika dibuka melonglonglah para ahli neraka. As Sudy berkata al falaq adalah “جُب في جهنم ” sumur yang dalam (penjara) di neraka jahannam.(8)  
Sebagian lain berpendapat bahwa al falaq adalah waktu subuh, sebagaimana riwayat dari ibnu abbas, dari al hasan, sa’id bin jubair dan yang lainnya. Ibnu Zaid mengatakan hal ini sebagaimana surat al an’am ayat ke 96, “فالق الإصباح و جعل اليل سكن...” Dia yang menyingsingkan pagi dan menjadikan malam tempat beristirahat...”(9) 
Pendapat berikutnya tentang al falaq adalah makhluq (ciptaan) ini juga menurut riwayat ibnu abbas.(10) 
Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa Allah memerintahkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah yang menguasai subuh, penjara di jahannam dan mahluk dari segala kejahatan yang mungkin ditimbulkan termasuk juga pada ayat-ayat berikutnya. Ath Thobari berpendapat, wajib menjadikan Allah sebagai tempat memohon pertolongan dengan segala makna al falaq karena Ia Rabb dari segala sesuatu.(11)  Sayyid Quthb mengatakan karena Allahlah yang memberikan keamanan dari segala kejahatan.(12)  Hal ini sebagaimana do’a yang diajarkan Rasulullah saw,
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ، مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ(13) 
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak dapat dilampaui orang yang baik dan yang jahat, dari kejahatan makhluk-Nya, yang diciptakan dan dijadikan-Nya dari kejahatan yang diturunkan-Nya dari langit dan dari kejahatan yang kembali kepada-Nya, dari kejahatan yang diciptakan-Nya di bumi dan dari kejahatan yang keluar darinya, dari kejahatan fitnah malam dan siang, dari kejahatan melalui semua jalan kecuali jalan yang datang membawa kebaikan, wahai zat Yang Maha Pemurah.” 
Ibnu Qayyim mengibaratkan al falaq adalah waktu permulaan munculnya pasukan cahaya yang mengusir pasukan kegelapan. Allah memerintahkan agar berlindung kepada Rabb cahaya, yang menyingkirkan kegelapan yang memaksa dan mengalahkan pasukannya.(14)  Allah berfirman,
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (al baqarah 257)

Berlindung Kepada Allah dari Kejahatan Makhluq
Kata “ما” pada ayat ini adalah isim maushul yang paling integral, sehingga bermakna dari segala jenis kejahatan yang mungkin bisa dilakukan oleh mahluk. Ath thobari mengatakan yang dimaksud adalah segala jenis kejahatan(15) , al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud adalah iblis dan keturunannya.(16)  Izzuddin bin Abdussalam mengatakan maksudnya adalah neraka jahannam, iblis dan keturunannya serta segala macam kejahatan dunia dan akhirat.(17) 
Beragam pengertian di atas perlu di batasi bahwa kejahatan yang di dalam ayat ini disandarkan kepada mahluk yang diciptakan dan bukan kepada penciptaan Allah yang merupakan perbuatan Allah. Allah adalah zat yang sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun pada-Nya. Ia adalah Pemilik segala keagungan dan kemuliaan. 
Allah menciptakan semua makhluknya dengan sempurna dengan berbagai sisi yang seimbang, memiliki kebaikan dan keburukan, sehingga Sayyid Quthb mengatakan permohonan perlindungan kepada Allah adalah karena Allah Maha Kuasa mengarahkan dan mengatur keadaan ciptaan-Nya agar kebaikan serta kemanfaatannya yang dirasakan ketika terjadi interaksi.(18) 

Berlindung Kepada Allah dari Kejahatan Malam apabila Gelap Gulita
Ibnu Jarir ath Thobari mengemukakan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang  “غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ” sebagian berpendapat yang dimaksud adalah matahari ketika telah terbenam dan malam ketika datang dengan kegelapannya atau kegelapan malam jika kepekatannya sudah masuk. demikian menurut riwayat Ibnu Abbas, al Hasan, al Quradhy, Muhammad bin Ka’ab dan Mujahid. Yang lain berpendapat bahwa yang dimaksud adalah bintang & bulan.(19)  
Secara bahasa al ghasiq berarti “الدافق” yang meluap dan waqab berarti “النقرة في الجبل يسيل منها الماء” lubang tempat mengalirnya air di bukit. Sehingga maknanya adalah “الليل وما فيه. الليل حين يتدفق فيغمر البسيطة” malam dan apa yang ada padanya. Malam ketika meluap lalu menggenangi dataran.(20) 
Allah memerintahkan kepada manusia untuk berlindung kepada-Nya pada waktu malam karena kekhawatiran akan bahaya dari binatang buas dan dari para pelaku keburukan, kefasikan dan fasad.(21) 

Berlindung Kepada Allah dari Kejahatan Wanita Tukang Sihir.
Az Zuhaili berpendapat bahwa an nafatsat (hembusan/semburan) adalah merupakan karakter atau sifat bagi pelaku baik laki-laki maupun perempuan.(22)  Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Ibnul Qayyim,
أن النفاثات هنا: هن الأرواح والأنفس النفاثات لا النساء النفاثات. لأن تأثير السحر إنما هو من جهة الأنفس الخبيثة . فلهذا ذكرت النفاثات هنا بلفظ التأنيث، دون التذكير
Bahwa yang dimaksud an nafatsat adalah ruh dan jiwa yang suka menghembus, bukan para wanita yang biasa menghembus. Sebab pengaruh sihir hanya berasal dari jiwa dan ruh yang jahat. Karenanya lafazh ini disebutkan dalam bentuk mua’anatas bukan mudzakkar.(23) 
Sayyid Quthb berpendapat bahwa yang dimaksud annafatsat adalah,
السَوَاحِرُ السَاعِيَاتُ بالأذى عن طريق خداع الحواس، وخداع الأعصاب، والإيحاء إلى النفوس والتأثير والمشاعر
Wanita-wanita tukang sihir yang berusaha menyakiti dengan cara mengelabuhi indra, menipu saraf dan mempengaruhi jiwa dan perasaan.(24)  Demikian pula pendapat Mujahid, bahwa nafatsat fil uqad adalah ketika wanita-wanita itu membaca mantera dan menghembus pada buhul.(25) 

Berlindung Kepada Allah dari Kejahatan Para Pendengki apabila Mendengki
Berlindung kepada Allah dari kejahatan para pendengki apabila ia dengki adalah permohonan perlindungan dari kejahatan yang mungkin muncul dari pelampiasan perasaan dengki. Sayyid Quthb menegaskan bahwa rasa dengki itu sendiri sudah merupakan kejahatan.  
والحسد انفعال نفسي إزاء نعمة الله على بعض عباده مع تمني زوالها. وسواء أتبع الحاسد هذا الانفعال بسعي منه لإزالة النعمة تحت تأثير الحقد والغيظ، أو وقف عند حد الانفعال النفسي، فإن شرا يمكن أن يعقب هذا الانفعال.(26)
Dengki adalah gejolak jiwa terhadap nikmat Allah yang diberikan kepada sebagian hamba-Nya, disertai dengan keinginan akan lenyapnya nikmat tersebut. Sama saja apakah pendengki itu mengiringi gejolak itu dengan usaha untuk melenyapkan nikmat itu dibawah pengaruh kedengkian dan kemarahan atau berhenti sampai batas gejolak jiwa saja. Sesungguhnya kejahatan dimungkinkan muncul mengiringi gejolak tersebut. 
Dalam sebuah hadits dari Abi Sa’id disebutkan bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi saw lalu bertanya apakah engkau merasa sakit wahai Muhammad? Beliau menjawab, “ya” lalu jibril mengucapkan,
بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنٍ، أَوْ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ(27) 
Dengan Nama Allah, aku meruqyahmu dari setiap penyakit yang mengganggumu dan dari kejahatan setiap jiwa atau mata mata yang hasad.  Allah akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu” 
Dalam hadits ini terkandung permohonan kepada Allah dari mata orang yang mendengki. Sayyid Quthb menuliskan bahwa Perintah memohon perlindungan dari segala kejahatan adalah bentuk rahmat dan karunia Allah kepada hamba-Nya.(28)   Allah adalah sebaik-baik tempat memohon perlindungan. Wallahu a’lam.

Catatan Pustaka
  1. Wahbah az Zuhaili: Tafsir al wasith, Damaskus: Daar al Fikr 1422 H, 3/2962.
  2. Muslim bin al Hajjaj : Al Musnad as Shahih, Beirut: Daar al Ihya at Turats, Bab fadhlu qiraatu mu’awwidzatain, 1/558. 
  3. Ahmad bin Hanbal : Al Musnad. Beirut: Mu’assasah ar Risalah, 1421 H,  41/251. Hadits ini shahih berdasarkan syarat bukhari muslim. Imam Malik juga meriwayatkannya dalam al muwatho 2/942-943, al Bukhari 5016, Muslim 2192, Abu Dawud 3902, an Nasa’i 7544, dan Ibnu Majah 3529. 
  4. Muhammad bin Isa at Tirmidzi: Sunan at Tirmidzi, Mesir: Syirkatu Maktabatu wa mathba’atu musthofa al baaby al halbi, 1395H. 4/359 hadits ke 2058. At Tirmidzi berkata hadits ini hasan gharib. Menurut Muhammad Nashirudin al Albani hadits ini shahih.
  5. Muhammad ‘Uwais an Nadhwi: at-Tafsir al Qayyimu Beirut : Daar wa Maktabah al Hilal, 1410 H. 1/601-602
  6. at-Tafsir al Qayyimu 1/607
  7. Abul Qasim ath Thabrani: Mu’jam al Kabir.  14/45 hadits ke 14636. Al Haitsami menyebutnya dalam majmu az zawaid 10/122, Ath Thabrani meriwayatkannya dengan dua sanad, salah satu sanadnya para periwayatnya shahih selain huyay bin abdullah al mu’afiriy, telah ditsiqahkan jama’ah & sebagian lain melemahkannya.
  8. Ibnu Jarir ath Thobari : Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, Beirut: Mu’assasah ar Risalah, 1420H, 24/699-700
  9. Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 24/701.
  10. Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, 24/701. Pendapat demikian juga dikemukakan oleh an Nasafi : Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil. Beirut: Daar al Kalam ath Thoyib, 1419 H. 3/697.
  11. Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 24/702
  12. Sayyid Quthb : Fii Dzilalil Qur’an. Beirut: Daar asy Syuruq, 1412 H, 6/4007.
  13. Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah : al Kitab al Mushannif fil Ahadits wal Atsar. Riyadh: Maktabah ar Rusyd, 1409H.  5/51 hadits ke 23601
  14. At Tafsir al Qayyimu 1/625
  15. Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 24/702
  16. Abu Abdullah Muhammad Syamsuddin Al Qurthubi: Al Jami’ li Ahkam al Qur’an. Qahirah: Daar al Kutub al Mishriyah. 1384 H. 20/256
  17. Abu Muhammad Izzuddin bin Abdus Salam: Tafsir al Qur’an. Beirut: Daar Ibnu Hazm. 1416 H. 3/510
  18. Fi Dzilalil Qur’an, 6/4007.
  19. Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 24/703
  20. Fi Dzilalil Qur’an 6/4007.
  21. al Wasith, 3/2963
  22. al Wasith, 3/2963
  23. At tafsir al Qayyimu 1/628
  24. Fi Dzilalil Qur’an 6/4007
  25. Imaduddin Ibn katsir : Tafsir al Qur’an al Adzhim, Daar Thoyyibah li an Nashr wa at Tauzi’, 1420 H. 8/536.
  26. Fi Dzilalil Qur’an 6/4008.
  27. Ibnu Majah: Sunan Ibnu Majah, Daar Ihya al Kitab al ‘Arabiyah, tt.  2/1164 hadits ke 3523. Menurut Muhammad Nashirudin al Albani hadits ini shahih.
  28. Fi Dzilalil Qur’an 6/4008.

Surat An-Naas: Berlindung Kepada Allah Dari Bisikan Syaithan.



Tadabbur surat an Naas 1-6
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.

Pemahaman Ayat

Rabb
Rabb berarti al murabbi (yang membina), al muwajjih (yang mengarahkan), ar raa’iy (yang memelihara) al manmiyhim (yang menumbuhkan, al haamiy (yang melindungi), al mashlahihim (yang memberikan kebaikan) atas segala urusan-urusan manusia (1) 
Muhammad Ali ash Shobuni menuliskan bahwa rabb adalah,
خَالِقُ النَّاسِ وَمُرَبِيْهِمْ وَمُدَبِّرُ شُئوُنِهِمْ، اَلّذِي أَحْيَاهُمْ وَأَوْجَدَهُمْ مِنَ الْعَدَمِ، وَأَنْعَمَ عَلَيْهِمْ بِأَنْوَاعِ النِعَمِ 
pencipta manusia, yang memelihara dan yang mengatur perihal mereka, dzat yang menghidupkan dan yang mewujudkan mereka dari ketiadaannya, dan dzat yang telah memberi bermacam-macam kenikmatan kepada manusia.(2)  
Ibnul Qayyim berpendapat makna rububiyah bagi manusia adalah mencakup hak-hak manusia sebagai berikut,
تَدْبِيْرُهُم ، وَتَرْبِيَتُهُمْ ، وَإِصْلَاحُهُمْ ، وَجَلْبِ مَصَالِحَهُمْ ، وَمَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ ، وَدَفْعُ الشَّرِّ عَنْهُمْ ، وَحَفِظَهُمْ مِمَا يُفْسِدُهُمْ، هَذَا مَعْنَى رُبُوبِيَّتِهِ لَهُمْ. وَذَلِكَ يَتَضَمَّنُ قُدْرَتَهُ التَامَّةِ. وَرَحْمَتُهُ الْوَاسِعَةُ ، وَإِحْسَانُهُ ، وَعِلْمُهُ بِتَفَاصِيْلِ أَحْوَالِهِمْ ، وَإِجَابَةِ دَعْوَاتِهِمْ ، وَكَشْفُ كُرْباَتِهِمْ  (3) 
pengaturan, pendidikan, mendatangkan kemaslahatan yang mereka harapkan, menolak kejahatan atas mereka dan menjaga diri mereka dari segala yang merusak. Inilah makna rububiyah Allah bagi manusia. Hal ini mengharuskan cakupan kekuasaannya secara sempurna, kasih sayang-Nya yang luas, kebaikan-Nya, Pengetahuan-Nya secara terperinci atas perkara mereka, Pemenuhan atas permohonan mereka dan menyelesaikan segala kesulitan mereka. 

Malik
Malik berarti al maalik (yang memiliki), al haakim (yang menguasai) dan al mutasarrif (yang mengambil tindakan). Ia juga bermakna pencipta dan pemilik manusia yang menjadi sumber segala pelaksanaan perintah.(4)  
مَالِكُ جَمِيعَ الْخَلْقِ حَاكِمِيْنَ وَمَحْكُومِيْنَ، ملكاً تاماً شاملاً كاملاً، يَحْكُمَهُمْ، وَيَضْبِطَ أَعْمَالَهُمْ، وَيُدَبِّرَ شُئوُنَهُمْ. (5)
Penguasa semua semua makhluq, hakim dari segala hakim yang berkuasa dan membuat hukum, kekuasaan  yang sempurna lengkap dan utuh, menghakimi mereka dan mengatur perbuatan manusia  
Al Maraghi berpendapat bahwa pengertian al Malik adalah,
َمالِكُهُمْ وَمُدَبِّرُ أُمُورَهُمْ، وَوَاضِعَ الشَرَائِعَ وَالْأَحْكَامِ الَّتِي فِيهَا سَعَادَتِهِمْ فِى مَعَاشِهِمْ وَمَعَادِهِمْ.(6)
Memerintah mereka dan mengatur segala urusan mereka, menetapkan aturan-aturan dan hukum-hukum untuk mewujudkan kebahagiaan bagi mereka dalam kehidupan dunia dan akhirat. 
Menurut Ibnul Qayim makna kalimat al Malik pada surat ini adalah,
فَهُوَ مَلِكُهُمْ الْمُتَصَرِّفُ فِيهِمْ : وَهُمْ عَبِيدُهُ وَ مَمَالِيْكُهُ ، وَهُوَ الْمُتَصَرِّفُ لَهُمُ الْمُدَبِّرُ لَهُمْ كَمَا يَشَاءُ ، اَلنَّافِذُ الْقُدْرَةِ فِيْهِمْ ، اَلَّذِي لَهُ السُلْطَانُ التَامُ عَلَيْهِمْ ، فَهُوَ مَلِكُهُمُ الْحَقَّ : اَلَّذِي إِلَيْهِ مُفَزَّعُهُمْ عِنْدَ الشَدَائِدَ وَالنَوَائِبَ ، وَهُوَ مُسْتَغَاثَهُمْ وَمَعَاذُهُمْ وَمَلْجَأُهُمْ. فَلاَ صَلاَحَ لَهُمْ وَلاَ قِياَمَ إِلاَّ بِهِ وَبِتَدْبِيْرِهِ فَلَيْسَ لَهُمْ مَلِكٌ غَيْرُهُ يُهْرَبوُنَ إِلَيْهِ إِذَا دَهَّمُهُمُ الْعَدُوِّ ، وَيَسْتَصْرِخُونَ بِهِ إِذَا نَزَلَ الْعَدُوُّ بِسَاحَتِهِمْ.(7)
Ia adalah raja bagi mereka yang dapat berbuat apapun terhadap mereka: manusia adalah hamba dan mahluk yang ada di bawah kekuasaan-Nya. Dia dapat berbuat apapun terhadap mereka menurut kehendak-Nya, yang memiliki kekuasaan yang menyeluruh terhadap mereka. Dialah Raja yang sesungguhnya, yang menjadi tempat kembali ketika kesulitan, yang menjaga dan melindungi mereka. Tidak ada kemaslahatan yang mereka dapatkan kecuali berasal dari-Nya, dan mereka tidak memiliki kekuasaan apapun yang dapat diandalkan jika mereka dibuat takut oleh musuh, sehingga mereka berseru kepada-Nya jika benar-benar sudah berhadapan dengan musuh. 

Ilah 
Ilah berarti al musta’aliy (yang mengungguli), al mustawali (yang maha menguasai), al mutasalith (yang mendominasi),(8)   ia adalah pencipta yang memberi kenikmatan dan menjaga,(9)  ia adalah yang disembah yang tiada lagi selain-Nya.(10)  
Menurut al Maraghi kalimat ilah bermakna,
اَلْمُسْتَوْلَى عَلَى قُلُوبِهِمْ بِعِظَمَتِهِ، وَهُمْ لاَ يُحِيطُونَ بِكَنِّهِ سُلْطَانِهِ بَلْ يَخْضَعُونَ بِمَا يُحِيطُ مِنْهَا بِنَوَاحِيَ قُلوُبِهِمْ.(11) 
Ia adalah Yang Maha Menguasai hati manusia dengan keagungan-Nya, dan mereka tidak mengetahui dari segala sisi dengan hakikat kekuasaan-Nya akan tetapi mereka tunduk dengan pengetahuan yang ada padanya dengan segala sisi hati mereka.  
Ibnul Qayyim berpendapat makna sifat ilahiyyah pada ayat surat ini menegaskan bahwa,
فَهُوَ إَلَهُهُمُ الْحَقّ ، وَمَعْبُودِهِمُ الَّذِي لاَ إِلَهَ لَهُمْ سِوَاهُ وَلاَ مَعْبُودَ لَهُمْ غَيْرُهُ. فَكَمَا أَنَّهُ وَحْدَهُ هُوَ رَبُّهُمْ وَمَلِيكُهُمْ لِمَ يُشْرِكُهُ فِي رُبوُبِيَتِهِ وَلَا فِي مُلْكِهِ أَحَدٌ ، فَكَذَلِكَ هُوَ وَحْدَهُ إِلَهَهُمْ وَمَعْبُودَهُمْ. فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلُوا مَعَهُ شَرِيْكًا فِي إِلَهِيَتِهِ ، كَمَا لَا شَرِيْكَ مَعَهُ فِي رُبُوبِيَّتِهِ وَمُلْكِهِ.(12)
Dia adalah Ilah mereka, sesembahan yang tiada ilah bagi mereka melainkan Dia semata. Sebagaimana Dia adalah Rabb dan Raja mereka satu-satunya, yang tak seorangpun bersekutu dengan-Nya dalam Rububiyah dan kerajaan-Nya, maka Dia juga Ilah dan sesembahan mereka satu-satunya. Maka tidak sepatutnya mereka menjadikan sekutu bersama-Nya dalam ilahiyah-Nya begitupula Rububiyah-Nya dan Kerajaan-Nya. 

An Naas 
An naas atau al insu berasal dari kata al iinaas ( الإيناس ) yang berarti penglihatan dan perasaan sebagaimana firman Allah dalam surat al qashas 29 (آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا) “dilihatnya api di lereng gunung” dan surat an Nisa 6 (فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا ) “Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas” maksudnya engkau merasa dan melihat bawa mereka telah cerdas. Disebut sebagai manusia karena dapat dilihat dengan mata dan dirasakan kehadirannya.(13) 
An naas juga berasal dari kata an nawaas, yang berarti gerakan secara berkelanjutan. Menurut ibnul qayyim ini adalah pendapat yang benar sebab manusia harus memiliki gerakan lahir dan batin.(14) 

Bisikan Setan yang Bersembunyi
Menurut Sayyid Quthb waswasah adalah (الصوت الخفي ) suara yang tersembunyi, khanus adalah (الاختباء والرجوع )bersembunyi dan kembali. Dan khannas adalah (هو الذي من طبعه كثرة الخنوس ) makhluk yang diantara tabi’atnya adalah banyak bersembunyi.(15)  
Ibnul Qayyim berpendapat bahwa al waswasah adalah gerakan atau suara yang amat lirih yang hampir tak dapat ditangkap indera, sehingga perlu perhatian kepadanya. Al waswaas artinya penyusupan secara sembunyi-sembunyi ke dalam jiwa, bisa berupa suara lirih yang tidak dapat didengar kecuali oleh orang-orang yang benar-benar menyimaknya maupun tanpa suara.(16)  
Hamka berpendapat bahwa disebut khannas karena ia merupakan pengintai peluang, ketika manusia lengah maka ia akan kembali membujuk dan merayu kepada kemaksiatan.(17) 
Menurut Qatadah makna al Khannas adalah,
الْخَنَّاسُ لَهُ خُرْطُومٌ كَخُرْطُومِ الْكَلْبِ فِي صَدْرِ الْإِنْسَانِ فَإِذَا ذَكَرَ الْعَبْدُ رَبَّهُ خَنَسَ، وَيُقَالُ: رَأْسُهُ
كَرَأْسِ الْحَيَّةِ وَاضِعٌ رَأْسَهُ عل ثَمَرَةِ الْقَلْبِ يُمَنِّيهِ وَيُحَدِّثُهُ، فَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ خَنَسَ وَإِذَا لَمْ يذكر يرجع ويضع رَأْسَه(18)
Setan yang memiliki lidah seperti lidah seekor anjing di dalam dada manusia. Jika seorang hamba mengingat Rabbnya maka syetan itu beresembutnyi. Maka dikatakan kepadanya “kepalanya seperti ular” ia meletakkan kepalanya di dalam hati untuk membisikinya. Jika hamba mengingat Allah, maka setan itupun bersembunyi. Jika tidak mengingat-Nya maka ia kembali muncul dan meletakkan kepalanya di hati manusia untuk mebisikkan kejahatan. 
Seperti itulah sifat setan jika manusia ingat kepada Allah maka ia bersembunyi dan jika manusia lengah ia akan membisikkan kejahatan. Sebagaimana hadits Rasulullah saw dari Ibnu Abbas ra,
الشَّيْطَانُ جَاثِمٌ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا سَهَا وَغَفَلَ وَسْوَسَ، وَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ (19)
Sesungguhnya setan itu berada dalam hati anak Adam, Bila anak Adam lupa dan lalai maka dia membisikkan (kejahatan) dan jika mengingat Allah ia bersembunyi. 
Ibnu Katsir berpendapat bahwa khannas adalah setan yang ditugaskan untuk menggoda manusia karena tidak ada seorangpun manusia melainkan dia memiliki satu teman yang senantiasa menjadikan segala perbuatan keji itu indah dipandang dan dia tidak akan mengenal lelah dalam menjalankannya (20). 
Dari Abdullah bin Mas’ud Rasulullah saw bersabda, 
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا قَدْ وُكِل بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الجِنِّ
“Tidak seorangpun di antara kalian melainkan telah diutus kepadanya pendampingnya dari golongan jin” Para sahabat bertanya: “termasuk juga engkau wahai Rasulullah ? beliau menjawab: “ya hanya saja Allah membantuku dalam menyikapinya sehingga ia masuk Islam, karenanya dia tidak menyuruhku kecuali hal yang baik-baik.(21) 
Karena sifat setan yang demikian maka manusia yang selamat dari bisikan setan adalah yang senantiasa mendapatkan perlindungan dari Allah karena memohon kepada-Nya. Karena Allah adalah Rabb sang Pencipta semesta, Malik sang Pembuat aturan dan Pemberi sanksi serta Ilah yang sepatutnya dicinta dan disembah dengan sepenuh hati.
Menurut Sayyid Quthb memohon perlindungan kepada Allah dengan ketiga makna sifat-sifat Allah harus senantiasa dilakukan manusia karena akan melemahkan syetan serta memperkuat hati manusia dalam menghadapi pertempuran yang sangat panjang dan tak pernah berhenti hingga hari kiamat.(22) 
Kemudian Sayyid Quthb menyimpulkan surat ini bahwa Kebaikan bersandar kepada kekuatan Rabb, Raja dan Ilah. Sedangkan keburukan bersandar kepada bisikan yang tersembunyi, merasa tidak mampu melakukan perlawanan, bersembunyi pada saat berhadapan dan patah semangat melakukan permohonan perlindungan kepada Allah.(23) 
Allah ta’ala berfirman
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (Qs an nisa 76)

Setan dari Golongan Jin & Manusia
Makna ayat ini semisal dengan ayat 112 surat al an’am, 
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)….
Al Hasan berkata bahwa,
هُمَا شَيْطَانَانِ، أَمَّا شَيْطَانُ الْجِنِّ فَيُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ، وَأَمَّا شَيْطَانُ الْإِنْسِ فَيَأْتِي عَلَانِيَةً
Keduanya adalah syetan, adapun setan dari jin membisikkan kehati manusia dan setan dari manusia akan datang secara terang-terangan. Qatadah berkata,
إِنَّ مِنَ الْجِنِّ شَيَاطِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْإِنْسِ شَيَاطِينَ، فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ (24) 
Sesungguhnya dari golongan jin itu ada syetan dan dan demikian pula dari golongan manusia, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari syetan manusia dan jin.
Wallahu a’lam.

Daftar Pustaka,
  1. Abu Bakar ibn Abi Syaibah, al Kitab al Mushannif fi al ahaadits wal atsar, Riyadh: Maktabah ar Rusyd, 1409 H.
  2. Abu Laits as Samarqandy, Bahrul ‘Ulum, Maktabah Syamilah, tt
  3. Ahmad Musthofa al Maraghi, Tafsir al Maraghi, Mishr: 1365 H
  4. Ahmad ibn Hanbal, Musnad al Imam Ahmad ibn Hanbal, Mu’asasah ar Risalah 1421 H.
  5. Al Baghawi, Ma’alim at Tanzil fi Tafsir al Qur’an, Beirut: Daar al Ihya at Turats, 1420 H.
  6. Al Qurthubi, al Jami’ li Ahkam al Qur’an, Qahirah : Daar al Kutub al Misriyah, 1938 H.
  7. an Nasafiy,Madariku at Tanzil wa Haqaaiq at Ta’wil, Beirut: Daar al Kalaam at Thoyyib, 1419 H 
  8. Ash Shobuni, Shofwatu at Tafasir, al Qahirah: Daar ash Shobuni li at tiba’ah wa an Nashr wa at Tauzi’, 1417 H
  9. Hamka, Tafsir al Azhar, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988 M.
  10. Ibnu Katsir, Tafsir al Qur’an al Adzhim, Daar Toyibah li an Nashr wa at tauzi’, 1420 H
  11. Muhammad Uwaisy an Nadwi, at Tafsir al Qayyimu, Beirut : Daar wa Maktabah al Hilal, 1410 H.
  12. Muslim bin Hajaj, al Musnad ash Shahih, Beirut: Daar al Ihya at Turats, tt.
  13. Sayyid Quthb, Fi Dzilal al Qur’an. Beirut : Daar asy Syuruq, 1412 H

Sholat Dhuha



Pengertian
Secara bahasa dhuha adalah waktu setelah tinggi matahari, yaitu ketika matahari terbit sampai hampir siang atau hingga sinar matahari itu bersih dan setelah dhoha’. Dhoha’ adalah ketika matahari mulai naik hingga seperempat langit lebih.[1] Menurut fuqaha, adh dhuha adalah antara meningginya matahari hingga bergesernya.[2]

Hukum
Sholat dhuha adalah sholat sunnah yang dianjurkan menurut jumhur ulama, sebagaimana Malikiyah dan Syafi’iyyah berpendapat bahwa sholat dhuha itu termasuk sunnah mu’akkad.[3]
Abu Dzar benar-benar telah meriwayatkan dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda:
يصبح على كل سلامى من أحدكم صدقة : فكل تحميدة صدقة، و كل تهليلة صدقة، و أمر بالمعروف صدقة، و نهي عن المنكر صدقة، و يجزىء عن ذالك ركعتان يركععهما من الضحى
“Dijadikan atas tiap-tiap ruas tulang kamu sekalian sedekah, bagi setiap tahmid itu sedekah, untuk setiap tahlil itu sedekah, setiap perbuatan baik itu sedekah dan setiap perbuatan mencegah kemungkaran itu sedekah dan akan digantikan semua itu dengan 2 rakaat sholat dhuha yang kamu tegakkan.”[4]
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,
أوصانى حبيبي بثلاث لن أدعهن ما عشت: بصيام ثلاثة أيام من كل شهر، و صلاة الضحى، و أن لا أنام حتى أوتر
“kekasihku telah berwasiat kepadaku dengan 3 perkara: berpuasa 3 hari setiap bulan, 2 raka’at sholat dhuha dan melaksanakan witir sebelum tidur”[5]
Sebagian Hanabilah berpendapat tidak dianjurkan melaksanakan sholat dhuha secara terus menerus agar sholat tersebut tidak menyerupai sholat fardhu.

Sholat Dhuha Menjadi Hak Nabi saw
Para ulama berbeda pendapat tentang diwajibkannya sholat dhuha atas Rasulullah serta kesepakatan mereka tentang tidak diwajibkannya sholat ini atas orang-orang Islam.
Jumhur ulama berpendapat bahwa sholat dhuha tidak diwajibkan kepada Rasulullah saw.[6]
Syafi’iyyah dan sebagian Malikiyah serta sebagian Hanabilah berpendapat sesungguhnya sholat dhuha mencakup segala yang diwajibkan kepada Rasulullah saw dan sholat ini sedikitnya dikerjakan 2 rakaat.[7]

Penetapan Sholat Dhuha
Para ulama berbeda pendapat apakah menekuni sholat dhuha itu lebih utama atau sholat itu dapat dilaksanakan pada satu waktu & meninggalkannya diwaktu yang lain?
Jumhur ulama berpendapat bahwa sholat dhuha dianjurkan penetapannya, sebagaimana hadits shahih dari sabda Nabi saw yang bersifat umum “amalan yang paling disukai oleh Allah ta’ala adalah sesuatu yang dikerjakan oleh pelakunya secara terus menerus walaupun itu sedikit.”[8]
Ath Thabrany dalam al Ausath meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda: Sesungguhnya di Surga itu ada sebuah pintu yang disebut dengan pintu dhuha, dan pada hari kiamat ia akan memanggil, “mana orang yang senantiasa melaksanakan sholat dhuha? Ini adalah pintu kalian, masuklah kalian dengan rahmat Allah.”[9]
Ibnu Huzaimah meriwayatkan dalam shahihnya ia berkata: Rasulullah saw bersabda tidak menjaga terhadap sholat dhuha melainkan orang yang banyak bertaubat, beliau bersabda: ia adalah sholat orang-orang yang banyak bertaubat”[10]
Hanabilah berpendapat bahwa sholat dhuha tidak dianjurkan melaksanakannya secara terus menerus, bahkan dapat dikerjakan secara berselang / berkala. Sebagaimana ucapan Aisha ra, “aku tidak pernah melihat Nabi saw pada waktu dhuha sejak dulu”[11]
Berkata Abul Khattab, “dianjurkan untuk melaksanakan sholat dhuha terus menerus,[12] karena sesungguhnya Nabi mewasiatkannya kepada para sahabatnya, dan bersabda: “barangsiapa yang menjaga bilangan (raka’at) dhuha, diampuni baginya dosanya, sholat ini akan menjadikan dosa itu semisal buih di lautan.[13]

Waktu Sholat Dhuha
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa waktu melaksanakan sholat dhuha yang paling utama adalah ketika matahari telah meninggi dan panasnya telah menyengat sebagaimana sabda nabi saw, “sholat orang-orang yang bertaubat adalah ketika panas telah membakar anak-anak unta / lembu yang digembalakan”[14] maksudnya adalah apabila tanah atau pasir telah memanas dan anak unta / lembu berlutut dan menderum karena sangat panasnya.
Ath Thahtawi berpendapat bahwa waktu sholat dhuha yang paling utama adalah ketika telah lewat seperempat siang.[15] Menurut al jazuli permulaan waktu dhuha adalah ketika matahari telah naik dan telah memutih dan hilang warna merah dari matahari dan berakhirnya adalah ketika matahari bergeser.
Al mawardi berkata, waktu yang terbaik untuk sholat dhuha adalah ketika telah melewati seperempat siang.[16] Al bahuti berkata yang paling utama mengerjakan sholat dhuha adalah ketika panas sangat terik.[17] Menurut jumhur ulama waktu sholat dhuha adalah sejak matahari naik hingga hampir bergeser serta tidak sampai kepada waktu yang dilarang.
an Nawawi berkata menurut kalangan kami (syafi’iyyah), waktu dhuha adalah dari terbitnya matahari dan disunahkan mengakhirkannya hingga matahari meninggi. Berdasarkan khabar dari Imam Ahmad dari abi murrah ath tha-ifi ia berkata, aku mendengar rasulullah saw bersabda, Allah berfirman, “wahai anak adam janganlah kamu melalaikan 4 rakaat pada permulaan hari supaya Aku cukupkan kamu pada akhir harinya.”[18]

Jumlah Rakaat Sholat Dhuha
Para fuqaha sepakat bahwa dianjurkan melaksanakan sholat dhuha minimal 2 rakaat. Berdasarkan riwayat Abu Dzar dari Nabi saw, beliau bersabda: ““Dijadikan atas tiap-tiap ruas tulang kamu sekalian sedekah, bagi setiap tahmid itu sedekah, untuk setiap tahlil itu sedekah, setiap perbuatan baik itu sedekah dan setiap perbuatan mencegah kemungkaran itu sedekah dan akan digantikan semua itu dengan 2 rakaat sholat dhuha yang kamu tegakkan”
Maliki dan Hanabilah berpendapat sesungguhnya sholat dhuha itu maksimal dikerjakan 8 rakaat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ummu Hani “ sesungguhnya Nabi saw masuk rumahnya pada hari penaklukkan Mekah dan sholat 8 rakaat, dan aku tidak melihatnya sholat lagi aku khawatir sholat itu kecuali Rasulullah telah menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.[19]
Hanafiyah, Syafi’iyyah serta Ahmad berdasarkan riwayat darinya sesungguhnya jumlah sholat dhuha yang paling banyak adalah 12 raka’at. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Nasa’i dengan sanad yang lemah, sesungguhnya Nabi saw bersabda: barangsiapa yang sholat dhuha 12 rakaat Allah akan bangunkan baginya istana dari emas di surga.[20]
Ada perbedaan pendapat di kalangan syafi’iyyah, menurut Nawawi dalam al minhaj sholat dhuha itu maksimal 12 rakaat,[21] sedangkan dalam syarh al muhadzab diceritakan bahwa pendapat terbanyak mengatakan bahwa bilangan sholat dhuha itu 8 raka’at.[22] Dalam Raudhatu ath Thalibin disebutkan yang utama adalah 8 raka’at dan maksimal 12 rakaat dengan salam setiap 2 rakaat.[23]

Surat-Surat yang dibaca pada sholat dhuha
Ibnu ‘Abidin berkata, yang dibaca pada sholat dhuha adalah surat asy syams dan adh dhuha. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra, “Rasulullah saw memerintahkan kepada kami untuk melaksanakan sholat dhuha dengan membaca beberapa surat diantaranya: wasyamsyu wadhuhaha dan adh dhuha.[24]
Dan dalam Nihayatu al Muhtaj, disunnahkan agar membaca keduanya dalam 2 roka’at sholat dhuha yaitu surat al kafirun dan al ikhlas, yang keduanya itu lebih utama dari surat asy syams dan adh dhuha. Karena al ikhlas itu sepertiga al Qur’an dan al kafirun itu seperempatnya.[25]   

wallahu a’lam
  1. Matan al Lughoh, al Misbah al Munir, ‘Umdatu al Qari Syarh Shahih al Bukhari 7/236.
  2. Haasyiyah ‘Ibnu ‘Abidin 2/23
  3. Al fatawa al Hindiyah 2/131, al mughniy 1/214, al majmu’ 3/36, raudhatu ath thalibin 1/332, haasyiyatu ad dasuuqy 1/313, tafsir al qurthubi 15/160.
  4. Hadits Riwayat Muslim 1/499
  5. Hadits Riwayat Muslim 1/499
  6. Syarh az Zarqaaniy 3/155, Mathalibu ulin nuha 5/29,
  7. Raudhatu ath Thalibin 7/3, Syarh az Zarqaniy 3/155, Mathalibu Ulin Nuha 5/29.
  8. Hadits Riwayat Muslim 2/118 dari hadits ‘Aisyah ra.
  9. Al Haitsami menuliskannya dalam Majmu’ az Zawa’id 2/239 ia mengatakan Thabrani meriwayatkan dalam al Ausath. Pada sanadnya terdapat sulaiman bin dawud, dia matruk.
  10. Hasyiyah ath thahtawiy 216, ‘Umdatu al Qari 7/240, Mawahib al Jalil 2/27, Kasyaf al Qana’ 1/442, al Mughni 2/132. Hadits ini diriwayatkan al Hakim 1/314, adz dzahabi mensepakati dan menshahihkannya.
  11. Hadits Riwayat al Bukhari dalam al Fath 3/10 dan Muslim 1/497
  12. Al Inshof 2/191, Kasyaf al Qana’ 1/442, ‘Umdatu al Qari 7/240
  13. Hadits Riwayat at Tirmidzi 2/341 dari Abu Hurairah ra, dalam sanadnya ada rawi yang dhaif.
  14. Hadits Riwayat Muslim 1/516 dari hadits Zaid bin Arqam
  15. Hasyiyah ath Thahtawi 216.
  16. Raudhatu ath thalibin 1/332, al majmu’ 4/36, asna al Matholib 1/204.
  17. Kasyaf al Qana’ 1/442.
  18. Hasyiyatu ath thahtawi 216, Kasyaf al Qana’ 1/442, al hathob 2/68
  19. Hadits Riwayat al Bukhari dalam al Fath 2/578, dan Muslim 1/497. Dari hadits Umu Hani
  20. Hadits diriwayatkan at Tirmidzi 2/337, Hadits ini gharib
  21. Syarh al Muhaly ala Minhaj ath Thalibin 1/214.
  22. Al Majmu’ 4/36
  23. Raudhatu ath Thalibin 1/332.
  24. ‘Umdatu al Qari 7/240, Fath al Baari 3/55. Hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir.
  25. Nihayatu al Muhtaj 2/112