Hikmah Dalam Da’wah Nabi Musa Kepada Bani Israil


Sigit Suhandoyo. Allah ta’ala mengutus nabi Musa as, untuk berda’wah kepada Fir’aun dan menyelamatkan bani Israil. Sebuah masyarakat yang lemah, tertindas dan terpecah belah kaena perbudakan diberbagai bidang perkerjaan, serta dimuliakannya sebagian kelompok masyarakat atas sebagian lainnya. Situasi ini tertera dalam surat al-Qashash ayat 4

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ.

“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” 

Pakar tafsīr al-Marāgī (w. 1371 H) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut,

فرقهم فرقا مختلفة، وأحزابا متعددة، وأغرى بينهم العداوة والبغضاء، كيلا يتفقوا على أمر ولا يجمعوا على رأى، ويشتغل بعضهم بالكيد لبعض، وبذا يلين له قيادهم، ولا يصعب عليه خضوعهم واستسلامهم(1). 

Fir’aun memecah belah bani Israil dalam berbagai firqah yang berbeda, dalam banyak golongan. Menghasut mereka dengan permusuhan dan kebencian, agar mereka tidak memiliki kesamaan isu serta tidak berkumpul dalam suatu kepemimpinan yang kuat. Kemudian Fir’aun juga menyibukkan sebagian mereka dengan makar sebagian yang lain, sehingga tidak sulit bagi Fir’aun untun menundukkan bani Israil.

Menghadapi siasat politik semacam ini, Musa as berseru kepada Bani Israil,

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa".”

Musa as menyerukan hakikat yang terang benderang, tentang keyakinan, kesabaran dan kepemilikan Allah atas bumi serta balasan yang baik bagi al-muttaqin. Nilai penting ayat ini dalam perspektif da’wah adalah,


a. Setiap mukmin hendaklah bersungguh-sungguh untuk saling menasihati.

Nabi Musa as, mengunci nasihatnya yang berupa seruan umum tersebut dengan kata takwa. Bahwa dalam ujian berupa himpitan kesulitan maupun ujian dalam bentuk kelapangan hidup dunia, kesudahan yang baik hanyalah bagi mereka yang bertakwa. Dalam kondisi apapun seorang mukmin tidak boleh kehilangan tujuan utama perjalanan hidupnya.

Kegalauan orientasi, kerancuan militansi, mengendurnya kepercayaan terhadap institusi dan para penanggung jawab, adalah fenomena lepasnya komitmen seorang aktifis. Musthafa Masyhur menuturkan, bahwa diantara ujian bagi para aktifis da’wah adalah ujian kekuatan spiritualnya dalam memenuhi hak-hak ukhuwah, meskipun musuh berupaya memecah belah, menghasut dan memfitnah. Kesemua fenomana ini menunjukkan kepada kita akan keniscayaan untuk saling menasihati. Bersungguh-sungguh dalam memberi nasihat dan bersungguh-sungguh pula dalam menerima nasihat.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Zaid bin Tsabit ra, tentang tiga hal yang hati seorang Muslim tidak boleh berkhianat dengannya,

إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ، وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ.(2) 

“mengikhlaskan seluruh perbuatannya hanya karena Allah, menasihati para pemimpin dan senantiasa menetapi jama’ah kaum Muslimin. 

Apalah yang menghalangi seorang muslim dari menasihati saudaranya, dan apapula yang menghalangi seorang muslim untuk mendengar nasihat dari saudaranya. Bagi mukmin saling menasihat adalah sebuah keniscayaan. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra,

الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ أَخِيهِ إِذَا رَأَى فِيهَا عيبا أصلحه.(3) 

“Seorang mukmin itu cermin dari saudara mukminnya, jika ia melihat kekurangannya maka ia akan memperbaikinya”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra,

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ.(4) 

“Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya, seorang mukmin itu saudara mukmin lainnya, ia menjaga hartanya dan melindunginya dari belakangnya (keburukan yang menimpanya).”

b. Setiap mukmin hendaklah senantiasa memohon pertolongan kepada Allah atas segala permasalahan hidupnya. 

Hidup tanpa kesadaran akan kebersamaan dengan Allah adalah ketertipuan dan kehampaan. Adapun ketergantungan kepada Allah semata adalah hakikat dan sumber dari kekuatan jiwa untuk terus berjuang dalam kehidupan. Adalah Musa as dan Harun as berdo’a kepada Rabbnya,

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ 

“Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."” (yunus 88)

Setelah itu ada masa panjang 40-an tahun Musa as dan Harun as berda’wah dengan istiqomah dan keyakinan hingga Allah kabulkan do’a mereka berdua. Demikian pula Muhammad saw, menahan malaikat penjaga gunung agar tidak menimpakan “barang yang dijaganya itu” kepada para penentang Nabi, karena harapannya kepada Allah akan adanya generasi baru yang lebih baik.

Senantiasa mengutamakan memohon pertolongan kepada Allah adalah jalan yang benar untuk menguatkan kebersamaan dengan Allah, keikhlasan dan kekuatan dalam beramal. 


c. Sabar itu meringankan penderitaan dan solusi awal yang terpuji atas segala ujian.

Sabar merupakan sikap hidup yang selalu dibutuhkan manusia dalam utusan agama dan dunianya, sabar sangat diperlukan manusia ketika menunaikan perintah yang wajib dilaksanakan dan larangan yang wajib ditinggalkan dan terkadang diperlukan saat bersamaan. Sabar adalah persediaan bagi seorang pejuang dalam perjuangannya, persediaan bagi seorang da'i di saat manusia tidak menyambut seruannya, persediaan bagi seorang alim di zaman ilmu tak lagi diperhatikan, bahkan ia adalah bekal bagi semua orang. Jadi sabar merupakan sikap hidup yang bisa dijadian pegangan, benteng perlindungan dan langkah awal kesuksesan. Al-Munjid berkata,

ثبات على الدين إذا جاء باعث الشهوات ، وهو ثبات على الكتاب والسنة ، لأن من أخذ بهما فقد صبر على المصائب وصبر على العبادات وصبر على اجتناب المحرمات

Sabar adalah sikap tegar dan kukuh dalam menjalankan ajaran agama ketika muncul dorongan syahwat. Ia adalah ketegaran yang dibangun di atas landasan kitab dan sunnah. Karena hamba yang berpegang teguh dengan keduanya mampu bersabar terhadap beragam musibah, dalam beribadah dan menjauhi larangan.

Demikianlah bagi orang-orang yang sabar, selain kebersamaan dengan Allah swt, dan meraih kesuksesan dunia dan akhirat, kepemimpinan dan kekuasaan berkaitan erat dengan sabar dan yakin, sebagaimana firman Allah.

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآيتنا يوقنون

”Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan meyakini ayat-ayat Kami.” (as sajdah 24)


d. Setiap da’i hendaklah mampu menanamkan rasa tsiqah kepada Allah terhadap mad’unya. Bagi muslim yang mau meneladani hikmah atas segala peristiwa da’wah di masa lampau, yang mungkin sekali terulang lagi di masa kini. Tentu akan mendapati begitu banyak kisah yang sarat akan nilai-nilai semacam ini. Ketsiqohan ibunda musa as melarung bayinya kesarang musuh. Keteguhan ibunda Isma’il as, ditinggalkan suaminya di tanah tak bertuan hingga pada gilirannya terbukti pula ketsiqahan Isma’il untuk disembelih layaknya seekor hewan kurban. Demikian pula perilaku melawan arus Nabi Nuh as dan pengikutnya, yang tak masuk akal, dengan membangun bahtera di atas gunung. Kesemuanya adalah sebuah cetak biru keteladanan tentang ketsiqohan kepada Allah dan kebenaran da’wah.

Atau kisah yang belum lama berlalu, tentang kebobrokan sebuah pengadilan yang tak mampu membuktikan kesalahan seorang Sayyid Quthb. Menyodorkan kepadanya sebuah berkas pengakuan dosa dan permohonan maaf untuk ditanda-tanganinya. Berkas yang akan membebaskannya dari kematian itu ditepikannya seraya berkata, “telunjukku yang setiap hari bersaksi akan keesaan Allah ini terlalu hina untuk menulis suatu pengakuan yang tak pernah aku lakukan. Bila aku dihukum secara benar, aku ridho dengan kebenaran. Bila vonis dijatuhkan secara batil, terlalu hina bagiku memohon belas kasihan dari pelaku kebatilan.

Seorang ulama pernah mengatakan, “sungguh untuk mewujudkan cita-cita pembinaan ummat, membutuhkan segolongan manusia yang tak henti berusaha kearah itu. Memiliki keinginan yang tak kenal lemah, kesetiaan yang teguh dan tidak pula pengkhianatan. Pengorbanan yang benar yang tidak terhalang oleh tamak dan bakhil. Beriman dan memelihara dirinya dari kesalahan yang disengaja, penyimpangan, tawar-menawar, penghasutan, dan hal-hal negatif lainnya.”


Catatan Kaki

  1. Ahmad Musthafā al-Marāgī, Tafsīr al-Marāgī, (Mesir: Perusahaan Penerbitan Musthafa al-Halabi, Cet. Pertama 1365 H),  Jilid 20, hlm 32.
  2. Ahmad bin Hanbal al-Syaibani, Musnad al-Imam Ahmad, (Beirut: Muassatu al-RIsalah, Cet pertama, 1421 H ), Jilid 35, hlm 467, hadits no. 21590.
  3. Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, Cet. Pertama 1419 H), hlm 125.
  4. Abu Dawud al-Sijjistani, Sunan Abu Dawud, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah, tth), Jilid 4, hlm 280, hadits no, 4918.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Give us your opinion