Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Dakwah Tabligh



Dakwah tabligh melalui perkataan memiliki peran yang penting dalam upaya-upaya menyeru manusia kepada Allah ta’ala. Da’wah melalui perkataan dapat dilakukan melalui tulisan dan seruan lisan. Allah mensifati da’wah melalui perkataan sebagai sebaik-baik perkataan sebagaimana firman-Nya dalam surat al Fushilat ayat 33,

ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"

Ayat ini menegaskan bahwa seruan da’wah kepada Allah melalui perkataan merupakan tuntutan dalam Islam, petunjuk kepada kebaikan, keselamatan dan kesejahteraan. Az Zuhaili berkata, da’wah melalui perkataan adalah “منهاج أهل الحق، المحبين للإنسانية، السالكين ، فإن أهل الإيمان يصلحون أنفسهم أولا، ثم يحاولون إصلاح غيرهم”(1)  metode para pengikut kebenaran, para pecinta nilai-nilai kemanusiaan, para pencari jalan kepada Allah, karena sesungguhnya Ahlul Iman memperbaiki dirinya kemudian memperbaiki sesamanya.

Meski demikian tidaklah cukup seorang da’i menguasai ilmu syari’at semata, melainkan ia harus menguasai metode agar seruannya kepada Allah tersebut diterima oleh objek da’wahnya. Da’i yang bijaksana adalah mereka yang mempelajari situasi dan kondisi objek da’wahnya, serta memperhatikan kadar pemikiran nya, Ali bin Abu Thalib ra, pernah berkata,

حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ(2) 

“Ajaklah manusia berbicara sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki, atau kamu menuyukai mereka mendustakan Allah dan rasul-Nya.”

Abdullah bin Mas’ud ra, juga pernah berkata,

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً(3) 

“Jika ada diantara kamu ada yang berbicara dengan segolongan manusia yang akalnya tidak mampu menerima apa yang kamu bicarakan, pada masanya kelak akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka ”


URGENSI DA’WAH TABLIGH

Menurut Taufiq al Wa’iy perkataan yang terucap, tertulis atau disenandungkan merupakan sarana terbesar dalam tabligh pada masa ini dan yang akan datang. Perkataan merupakan sarana pencerahan, pendidikan, arahan dan evaluasi yang menyeluruh. Jika dipergunakan dengan baik ia lebih kuat dari ekspedisi pasukan. Perang pemikiran dan peradaban pada hari ini lebih efektif dari perang bersenjata.

Demikian pentingnya memberikan penjelasan perkara-perkara agama kepada manusia hingga Allah melaknat mereka yang menyembunyikan kebenaran bagi dirinya sendiri. Allah ta’ala berfirman dalam surat al Baqarah 159,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati ”

Demikian pula sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

مَنْ سُئِل عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ، أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ  (4)

Siapa yang ditanya tentang suatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat ia akan dikekang dengan kekangan yang terbuat dari api neraka. 

Da’wah tabligh melalui perkataan juga memiliki beberapa nilai penting yaitu memungkinkan tersebarnya pemahaman Islam yang universal, komprehensif menjangkau seluruh sisi kehidupan manusia serta, realistis dapat dipertanggung-jawabkan dalam hal praktek dan aplikasinya dalam kehidupan. 


KAIDAH – KAIDAH DA’WAH TABLIGH


1. Argumentasi yang berpengaruh

Tidak diragukan lagi bahwa dalam diri manusia terdapat sensitivitas tertentu yang dapat memengaruhi watak dan menumbuhkan nilai rasa tertentu serta menguatkan logika dalam diri mereka. Ada beberapa teknik mempengaruhi objek da’wah melalui argumentasi yaitu,

Pertama, mempengaruhi jiwa manusia melalui perasaan alamiah yang ada dalam diri mereka seperti gembira, sedih, marah, benci, rindu dsb. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah ra. Bahwasanya Rasulullah saw melewati pasar, sedangkan para sahabat ada disekitarnya. Kemudian beliau mendapati bangkai anak kambing kecil yang bertelinga bunting. Beliau memegang telinganya dan berkata

«أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟» فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: «أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟» قَالُوا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا، كَانَ عَيْبًا فِيهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ، فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: «فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ، مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ»(5)  

“Siapakah diantara kalian yang mau membeli anak kambing ini dengan harga satu dirham?” para sahabat menjawab, “sedikitpun kami tidak menyukainya. Apa yang bisa kami lakukan padanya?, Nabi bersabda, “Siapa yang suka aku berikan anak kambing ini kepadanya?, Mereka menjawab, Demi Allah, kalau ia hidup, ia cacat karena telinganya buntung, apalagi ia telah mati. Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah dunia itu lebih rendah nilainya disisi Allah dibandingkan anak kambing ini bagi kalian ”

Kedua, mempengaruhi manusia melalui akal, menggugah akal, mengajaknya untuk berfikir atau mengarahkannya kepada sebuah kesimpulan tertentu. Sebagaimana yang dicontohkan dalam firman Allah ta’ala pada surat al an Naml ayat 62

أمن يجيب المضطر إذا دعاه ويكشف السوء ويجعلكم خلفاء الأرض أإله مع الله قليلا ما تذكرون

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).”

Demikianlah tidak ada satupun rasul yang Allah utus melainkan memiliki kemampuan berargumentasi kepada manusia untuk mempengaruhi objek da’wahnya. Mengingat pentingnya permasalahan ini hendaknya pada da’i di masa sekarang tidak terlepas sendiri dengan kemampuan dan ilmu yang terbatas. Harus ada pusat kajian, penelitian dan perencanaan strategis yang memberikan kelengkapan bagi keberhasilan da’wah mereka.


2. Memberikan motivasi dalam kebaikan.

Pada dasarnya manusia mencintai perbuatan baik dan sebaliknya membenci kejahatan dan kerusakan pada jiwa, keluarga maupun masyarakat secara umum. Adanya unsure cinta pada kebaikan merupakan sebuah pintu masuk yang Allah berikan kepada para da’i untuk mengajak manusia ke jalan kebaikan dan menentang semua bentuk kejahatan.

Menurut said al Qathani, “metode ini dimaksudkan untuk mengajak manusia agar mentaati Allah sehingga mereka memperoleh keberuntungan di dunia dan akhirat”(6) . pemberian motivasi ini dapat kita bagi dalam dua bagian, yaitu

Pertama, pemberian motivasi dengan janji, misalnya janji tentang kemenangan dan kebahagiaan di dunia bagi orang-orang yang beriman, seperti dalam firman Allah ta’ala pada surat an Nahl ayat 97,

من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون

“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Kedua, memberikan motivasi dengan menyebutkan berbagai macam bentuk ketaatan kepada Allah. Motivasi ini dimaksudkan untuk mengajak objek da’wah agar berlomba-lomba dalam mengerjakan amal sholeh. Pemberian motivasi semacam ini juga banyak terdapat dalam al Qur’an maupun hadits. Misalnya dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr ra berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيثٍ، وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طُعْمَةٍ(7) 

“Empat hal yang jika kamu berpegang kepadanya, maka tidaklah mengapa jika engkau kehilangan yang lainnya di dunia, yaitu : menjaga amanah, berbicara benar, berakhlaq baik, menjaga diri dalam hal makanan.”


3. Da’wah dengan nasihat yang baik dan penuh hikmah

Nasihat adalah mengatakan sesuatu yang benar dengan cara yang dapat melunakkan hati dalam menerimanya. Nasihat adalah pengajaran yang berkesan dan mengikat jiwa dengan keimanan dan petunjuk.

Nasihat ini berisi pengajaran yang menerangkan masalah-masalah yang berkenaan dengan permasalahan kehidupan secara tematik, misalnya berkaitan dengan aqidah, akhlaq, halal dan haram, dan yang lainnya. Misalnya seorang da’i mengajarkan kepada objek da’wahnya tentang permasalahan haid dalam firman Allah ta’ala pada surat al Baqarah ayat 222,

ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: "Haid itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Al Mawardiy mengemukakan, “pertama “اعتزل جميع بدنها أن يباشره بشيء من بدنه” menjauhi seluruh tubuhnya secara mutlak, pendapat ini dikemukakan oleh ‘Ubaidah as Salmany. Kedua “ما بين السرة والركبة” menjauhi antara pusar dan lutut, pendapat ini dikemukakan oleh Syuraih. dan ketiga, “الَفرِج” menjauhi farj, pendapat ini dikemukakan oleh A’isyah, Maimunah dan Hafshah serta jumhur mufassirin.”(8) 

Penjelasan ini merupakan contoh memberikan nasihat tentang pengajaran keilmuan fiqh yang bersifat praktis dan mudah diterapkan. Demikian pula diantara bentuk nasihat yang baik dan penuh hikmah adalah menjauhkan objek da’wah dari pertentangan furu’iyyah dan mengikat mereka dalam persaudaraan dan cinta kasih. Menghilangkan khilaf tercela sehingga berubah menjadi ikhtilaf yang terpuji. Misalnya dalam permasalahan furu’iyyah seperti minum sambil berdiri, dll.


4. Mempertimbangkan situasi dan kondisi lingkungan da’wah.

Mempelajari lingkungan masyarakat sasaran da’wah adalah hal penting yang harus dilakukan oleh seorang da’i. Artinya secara ideal, seorang da’i harus mengetahui secara detail tentang kondisi lingkungan masyarakat penerima da’wahnya, baik ideologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, bahasa, kebudayaan hingga letak geografisnya. Pengetahuan ini akan membantu da’i dalam menyusun materi da’wahnya terkait hal-hal prioritas yang harus disampaikan dan yang dapat ditunda, serta teknik pendekatan yang akan digunakannya. 

Ibnu Zubair ra pernah bersabda bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda,

يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ - قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ - بِكُفْرٍ، لَنَقَضْتُ الكَعْبَةَ فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ: بَابٌ يَدْخُلُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُون

“Ya Aisyah, seandainya kaummu bukan orang-orang yang baru saja meninggalkan kekafiran, pasti aku akan membongkar Ka’bah dan menjadikannya dua pintu, satu untuk masuk dan satu lagi untuk keluar.”

Hadits ini mengajarkan kepada para da’i tentang perilaku Rasulullah saw menghindari kemungkinan-kemungkinan terjadinya penentangan yang tidak perlu karena diakibatkan aktifitas da’wah yang tidak termasuk dalam prioritas.


5. Penampilan yang menarik

Agama Islam menganjurkan kepada para pemeluknya untuk senantiasa berwajah yang ceria dan menjaga penampilan fisik. Sebagai seorang yang menyeru manusia kepada keimanan maka wajib bagi da’i untuk senantiasa mengamalkan hal-hal tersebut. Dari Abu Dzar al Ghifari ra,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ(9) 

“Senyummu dihadapan wajah saudaramu adalah shodaqoh”

Dari Jabir bin Abdullah ra, Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam datang menemui kami. Tiba-tiba beliau menyaksikan seorang lelaki yang berbaju kusut dan rambutnya tidak rapi. Kemudian beliau bersabda

أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ، وَرَأَى رَجُلًا آخَرَ وَعَلْيِهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ، فَقَالَ أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ (10),

“Apakah lelaki itu tidak memiliki sesuatu yang dapat menjadikan rambutnya rapi? kemudian beliau melihat lelaki lain yang berbaju kotor. lalu, Beliau bersabda: Apakah lelaki itu tidak memiliki sesuatu yang dapat ia gunakan untuk mencuci bajunya?” 


6. Metode yang beragam dan sesuai

Menurut al Qathah Metode da’wah ialah “العلم الذي يتصل بكيفية مباشرة التبليغ، وإزالة العوائق عنه”(11)  ilmu yang mempelajari bagaimana cara berkomunikasi secara langsung kepada objek da’wah dan mengatasi kendala-kendalanya.

Ada beberapa macam metode tabligh melalui perkataan, diantaranya khutbah, pengajaran, ceramah, diskusi, da’wah fardiyyah, fatwa, artikel, surat atau buku. Masing-masing metode ini memiliki tempat, waktu dan seni masing-masing dalam keberhasilannya. Sebagai contoh metode Rasulullah saw dalam khutbah, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الأَيَّامِ، كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا(12) 

“Bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memperhatikan bagi kami untuk memberikan nasihat, karena beliau takut akan merasa bosan” 

Hadits tersebut memberikan pelajaran bagi para da’i agar memperhatikan aspek waktu dalam memberikan nasihat. Al khattabi berkata demikianlah maksud dari hadits ini “كَانَ يُرَاعِي الْأَوْقَاتَ فِي تَذْكِيرِنَا وَلَا يَفْعَلُ ذَلِكَ كُلَّ يَوْمٍ لِئَلَّا نَمَلَّ” (13)  bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memperhatikan waktu dalam memberikan nasihat, Beliau tidak memberikan nasihat setiap hari agar kami tidak merasa bosan. Abu Ubaid al Harawi menceritakan dalam al gharibiin dari Abu Amru asy Syaibani bahwa yang benar adalah yatahawaluna dengan (ح) sehingga bermakna “يتطلب أحوالنا التي ننشط فيها للموعظة” memperhatikan kondisi kami ketika memberikan nasihat. Namun menurut al arnauth pendapat pertama lebih kuat.(14)  meskipun demikian memperhatikan kondisi pendengar ketika hendak menyampaikan sebuah nasihat juga harus diperhatikan.

Termasuk dalam pengertian ini adalah memilih waktu yang yang telah disepakati, makna ini disampaikan oleh al ‘Ainiy “أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم كَانَ يعظ الصَّحَابَة فِي أَوْقَات مَعْلُومَة” (15)   bahwasanya Nabi saw memberikan nasihat bagi para sahabatnya pada waktu yang telah umum disepakati.

Memperhatikan aspek waktu juga berarti singkat, padat dan mudah dalam memberikan nasihat. Dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata

كُنْتُ أُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَوَاتِ فَكَانَتْ صَلَاتُهُ قَصْدًا، وَخُطْبَتُهُ قَصْدًا(16) 

“aku shalat di belakang nabi saw, ternyata shalat dan khutbah beliau itu sedang-sedang saja.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan matan yang berbeda, dari Jabir bin Samurah ra, ia berkata 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُطِيلُ الْمَوْعِظَةَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِنَّمَا هُنَّ كَلِمَاتٌ يَسِيرَاتٌ(17) 

“Rasulullah saw tidak lama dalam memberi pelajaran pada hari jum’at namun hanya kalimat-kalimat yang ringan / mudah.”

Dari Amr bin al Ash ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda, 

لَقَدْ رَأَيْتُ، أَوْ أُمِرْتُ، أَنْ أَتَجَوَّزَ فِي الْقَوْلِ، فَإِنَّ الْجَوَازَ هُوَ خَيْرٌ(18)  

“sungguh aku lihat atau diperintah untuk singkat dalam berbicara, karena singkat dalam berbicara adalah yang terbaik.”


7. Kepribadian yang integral

Manusia selain membutuhkan para da’i yang ikhlas, giat dan dinamis juga membutuhkan para da’i yang dapat menjadi contoh atas perkataan yang mereka serukan. Karena da’i adalah seorang pendidik dan pembangun generasi, maka upaya-upaya tersebut jelas tidak akan mungkin berhasil jika da’i tidak memiliki kepribadian Islam yang integral.

Perbuatan da’i sesuai dengan jalan lurus yang digariskan. Gaya hidupnya merupakan aktualisasi perkataannya, yang terlihat darinya adalah cerminan hatinya. Jika ia mengajak kepada sesuatu ia berkomitmen dengan hal itu. Jika ia melarang sesuatu ia pula yang pertama meninggalkan hal tersebut.

Keberhasilan da’wah Rasulullah saw  membangun generasi yang berperadaban  menurut Jum’ah Amin adalah dikarenakan metode da’wahnya dibangun atas, “tarbiyyah dan keteladanan.” Sehingga para penerima da’wah dapat melihat, mendengar dan merasakan nilai-nilai da’wah itu secara utuh dari pribadi da’i.


KESIMPULAN

Sebagai sebuah aktifitas yang bersentuhan dengan manusia dan kemanusiaan, dakwah seringkali menyajikan permasalahan yang kompleks kepada para  da’i. Karenanya dibutuhkan pemahaman, metode dan teknik dalam menyampaikan Islam kepada objek da’wah. Dangkalnya pemahaman seorang da’i terkadang mengakibatkan penolakan terhadap da’wah bukan dikarenakan nilai-nilai yang diserukannya melainkan kesalahan sang da’i tersebut.

Sekelumit pembahasan tentang tabligh melalui perkataan memberikan beberapa kaidah-kaidah dasar bagi para da’i untuk dikembangkan dan dimatangkan melalui pengalaman da’wah secara langsung.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil


Catatan Kaki

  1. Wahbah bin Musthofa az Zuhaili, 1422 H, at Tafsiir al Wasith, Damaskus : Daar al Fikr, 3/2306.
  2. Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhari al Ju’fi, 1422H, Shahih al Bukhari, Beirut: Daar Thuuqa an Najah, 1/37, hadits no 127.
  3. Muslim bin al Hajjaj Abu al hasan al Qusyairy an Naisabury, tt, Shahih Muslim, Beirut: Daar ihyau At Turats al Araby, 1/11.
  4. Abu Dawud Sulaiman bin al Asy’ats as Sijistaaniy, tt, Sunan Abi Dawud, Beirut: al Maktabah al Ashriyah, 3/321 hadits no 3658. 
  5. Muslim bin Hajjaj, op.cit, 4/2272 hadtis no 2957.
  6. Sa’id bin Ali bin Wahf al Qathani, 1423 H, al Hikmatu fi Da’wati Ila Allah ta’ala, Saudi Arabia: Kementrian Agama Urusan Wakaf, Da’wah dan Penerangan, 2/482.
  7. Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad asy Syaibaniy, 1421 H, Musnad al Imam Ahmad bin Hanbal, Beirut : Muassasah ar Risalah, 11/ 233 hadits no 6652.
  8. Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Habib al Bashary al Baghdady al Mawardiy, tt, an Nukat wal ‘Uyun, Beirut: Daar al Kutub al Ilmiyyah, 1/283.
  9. Muhammad bin Isa at Tirmidzi, 1395 H, Sunan at Tirmidzi. Mesir : Syirkatu Maktabatu wa Mathba’atu Musthofa al Baaby al Halby, 4/399. 
  10. Abu Dawud, op.cit, tt, 4/51.
  11. Al Qathani, op.cit, 1/125.
  12. Al Bukhari, op.cit, 1/25 hadits no 68.
  13. Sebagaimana di kutip Ibnu Hajar al Asqalaani, 1379 H, Fath al Baari, Beirut : Daar al Ma’rifah, Juz 1, hlm 162.
  14. lihat penjelasan pada Musnad Imam Ahmad yang ditahqiq oleh Syu’aib al Arnauth. Ahmad bin Hanbal, op.cit, 6/59.
  15. Badruddin al ‘Ainiy : ‘Umdatu al Qaari Syarh Shahih al Bukhari, Beirut : Daar Ihya at Turats al ‘Arabiy, tt, 2/44. 
  16. Muslim, op.cit, 2/591.
  17. Abu Dawud, op.cit, 1/289. 
  18. Ibid, Juz 4/302.


Fungsi Iman Dalam Menyatukan Masyarakat Muslim



Bagi komunitas Muslim, konsep keimanan seharusnya mendasari makna hidup pribadi dan sosial, tidak hanya sekedar dalam tataran pemikiran dan nilai, namun juga dalam tataran fisik dan material. Sebagaimana alam semesta, merupakan sebuah ekosistem yang tertib, teratur, dan tunduk pada hukum-hukum Allah, dan mengejawantahkan keagungan-Nya.

Iman yang bukan sekedar diiucapkan dengan lisan, Iman yang merupakan sumber kebahagiaan manusia didunia dan akhirat, merupakan suatu realitas batin dan prinsip mendasar dari seluruh aspek hidup manusia. tentang kebenaran universal tentang pencipta dan pelindung alam semesta, tentang kemanusiaan, pengetahuan dan moral serta askatologi memberikan dimensi dan arti baru dalam kehidupan manusia sebagai pribadi dan sosial.

Salah satu contoh keterkaitan pemaknaan iman pribadi dan sosial adalah sebuah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari berikut,

حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»(1) 

Menuturkan Qatadah dari Anas bin Malik ra, dari Rasulullah saw telah bersabda: “tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (dalam kebaikan)”

Membahas hadits ini ibnu Bathal menuturkan, bahwa maksud hadit ini adalah tidak sempurna (cacat) iman seorang Muslim yang tidak mencintai saudara muslimnya. Selanjutnya ia mengatakan,

ظاهره التساوى وحقيقته التفضيل، لأن الإنسان يحب أن يكون أفضل الناس(2) 

Meskipun secara lahiriyah teksnya menuturkan kewajiban menyetarakan dalam hal-hal yang disukai, namun secara hakikat hadits ini mengajarkan untuk memuliakan saudaranya dari dirinya sendiri. Karena manusia menyukai dirinya dimuliakan.

Pakar hadits al-Munawi(3)  mengemukakan bahwa, kecintaan dalam hadits ini terkait berbagai kebaikan dan manfaat didunia, serta kecintaan dalam hal agama.(4)  Jadi seorang yang memiliki iman yang baik dalam hadits ini adalah selain kebaikan dalam hal dunia, orang-orang beriman juga menyukai saudaranya juga baik dalam hal-hal keagamaan.

Merujuk kepada al-Qur’an surat al Hujurat ayat 10, kita akan temukan sebuah aksioma tentang iman yang menyatukan. Ragam kajian para ulama menunjukkan bahwa persaudaraan dalam Islam itu dilandasi Iman yang kemudian membentuk persaudaraan secara lahiriyah dan batiniyah.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Muhammad Ali Ash-Shabuni menyatakan bahwa Ukhuwah Imaniyah direfleksikan menjadi Ukhuwah Islamiyah karena didasarkan pada ikatan iman, atau karena persamaan keimanan mereka kepada Allah SWT. Maka semua muslim, baik yang masih hidup, yang akan lahir dan yang sudah meninggal dunia adalah bersaudara. Oleh karena itu sangat tidak pantas jika terjadi permusuhan, pertikaian, saling membenci, saling memfitnah dan tidak pantas pula jika saling berselisih satu sama lain.(5) 

Imam An-Nasafi juga sama menerangkan bahwa imanlah yang menjadi perekat dan pengikat ukhuwah sesama muslim, baik karena keimanan  dan nasab, dan persaudaraan berlandaskan keimanan itulah yang hakiki.(6)  

Al Imam al-Maraghi menuturkan dalam tafsirnya tentang Iman yang menyatukan,

والإخوة فى النسب، والإخوان فى الصداقة، واحدهم أخ، وقد جعلت الأخوّة فى الدين كالأخوّة فى النسب وكأن الإسلام أب لهم(7). 

Persaudaraan karena nasab, dan persaudaraan karena persahabatan iman, merupakan satu saudara, karena telah dijadikan persaudaraan karena agama itu sebagaimana persaudaraan karena nasab, karena agama Islam itu adalah nenek moyang setiap Muslim.

Lebih lanjut al-Maraghi menguatkan bahwa orang-orang beriman itu bersaudara karena nasab keimanan, 

انهم منتسبون إلى أصل واحد وهو الإيمان الموجب للسعادة الأبدية(8) 

Orang-orang beriman terikat oleh sumber nasab yang satu yaitu iman yang memberikan kebahagiaan abadi.

Memerinci pendapat-pendapat di atas, Shihab melakukan analisanya terhadap penggunaan teks-teks dalam ayat tersebut, 

Kata (إِنَّمَا) digunakan untuk membatasi sesuatu. Di sini kaum beriman dibatasi hakikat hubungan mereka dengan persaudaraan. Seakan-akan tidak ada jalinan hubungan antar mereka kecuali persaudaraan itu. Kata innama biasa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang telah diterima sebagai suatu hal yang demikian itu adanya, dan telah diketahui oleh semua pihak secara baik. Penggunaan kata innama dalam konteks penjelasan tentang persaudaraan antara sesama mukmin ini, mengisyaratkan bahwa sebenarnya semua pihak telah mengetahui secara pasti bahwa kaum beriman bersau-dara, sehingga semestinya tidak terjadi dari pihak mana pun hal-hal yang mengganggu persaudaraan itu.(9) 

Kata (أخْ) yang berbentuk tunggal itu, biasa juga dijamak dengan kata (إخون) ikhwan. Bentuk jamak ini biasanya menunjuk kepada persaudaraan yang tidak sekandung. Berbeda dengan kata (إخوة) ikhwah yang hanya terulang tujuh kali dalam al-Qur’an, kesemuanya digunakan untuk menunjuk persaudaraan seketurunan, kecuali ayat al-Hujurat di atas. Hal ini agaknya untuk mengisyaratkan bahwa persaudaraan yang terjalin antara sesama muslim, adalah persaudaraan yang dasarnya berganda. Sekali atas dasar persamaan iman, dan kali kedua adalah persaudaraan seketurunan, walaupun yang kedua ini bukan dalam pengertian hakiki. Dengan demikian tidak ada alasan untuk memutuskan hubungan persaudaraan itu. Ini lebih-lebih lagi jika masih terikat oleh persaudaraan sebangsa, secita-cita, sebahasa, senasib dan sepenanggungan.(10) 

Ayat di atas memberikan pelajaran penting tentang iman yang menyatukan, merupakan dasar hubungan sesama ummat Islam, sumber keharmonisan dan kebahagiaan. Sebaliknya perselisihan dan perpecahan merupakan sumber kehancuran dan kesengsaraan yang meruntuhkan kekuatan Islam.

Demikianlah Iman difahami sebagai sebuah pondasi bagi tegaknya bangunan Islam, atau ruh kehidupan bagi manusia. Dengan iman seluruh sistem kehidupan menjadi tegak, kokoh dan memberikan arti. Komitmen keimanan, tidak sekedar mengatur hubungan individu secara vertikal kepada Allah ta’ala, melainkan juga mencakup hubungan horizontal dengan sesama manusia dan seluruh makhluk, dan hubungan-hubungan ini harus sesuai dengan kehendak Allah. Membangun kesatuan ummat Islam melalui persaudaraan merupakan gerak konstruktif yang memindahkan unsur keyakinan kepada perilaku praktis. Tentu saja hal ini tidak akan terwujud hanya dengan penjelasan lisan atau tabligh semata melainkan juga melalui membangun kesadaran melalui pewarisan nilai-nilai, pembiasan dan pendidikan.

Wujudnya kesatuan ummat Islam berdasarkan keimanan merupakan tahapan yang progresif bagi kekuatan masyarakat Islam.  Berdasarkan keimanan setiap Muslim selalu melakukan penilaian terhadap kualitas kehidupannya, etika, tradisi dan faham hidupnya. Tujuan hidupnya sangat jelas, ibadah, kerja keras dan bahkan jiwanya ditujukan kepada Allah. Sehingga setiap individu dalam masyarakat Islam tidak akan pernah terjerat pada nilai-nilai palsu atau bekerja tanpa nilai yang hakiki yaitu mencari keridhaan Allah. Maka hubungan dalam masyarakat Islam adalah hubungan bangsa berlandasakan keimanan, masyarakat terbentuk di atas satu pijakan yang sama dalam hubungan kasih sayang dimana ikatan tersebut terbentuk karena kekuatan hubungan mereka kepada Allah.


Catatan Kaki

  1. Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Riyadh: Dar Thuwaiq al-Najh, cet pertama, 1422 H), Jilid 1, hlm 12, hadits no 13.
  2. Ibnu Bathal, Syarh Shahih al-Bukhari il Ibn Bathal, (Riyadh: Maktabatu al-Rusyd, cet ke2, 1423 H), Jilid 1, hlm 65.
  3. Ia adalah Muhammad Abdurrauf al-Munawi, ulama keanamaan dari abad ke 11 H. Pernah menjadi guru di madrasah shalihiyah Mesir, Madrasah ini merupakan sebuah sekolah elit yang mengampu pewarisan keilmuan fiqh dalam 4 mazhab. banyak meninggalkan karya diantaranya yang paling popular adalah Faidh al-Qadir syarh al-Jami’ al-Shagir. 
  4. Zain al-din al-Munawi, al-itihafat al-saniyah bi al-Ahadits al-Qudsiyah, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, tth), jilid 1, hlm 34.
  5. Muhammad Ali Ash-Shabuni, Shafwah At-Tafasir, (Kairo: Dar Ash-Shabuni, tt), Jilid 3, hlm. 234 – 235.
  6. Abu al-Barkat al-Nasafi, Madariku al-Tanzil wa Haqaiqu al-Ta’wil, (Beirut: Dar Kalam al-Thayib, cet pertama 1998) ,Jilid 3, hlm 353.
  7. Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Mesir: Perusahaan penerbitan Musthafa al-halabi, cet pertama 1946), Jilid 26, hlm 130
  8. Ibid, hlm 131.
  9. Quraish Sihab, Tafsir al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, Cet ketiga, 2005), Jilid 13, hlm 247
  10. Ibid, hlm 248.

Pengertian Tajarrud (Kemurnian) Dalam Berdakwah


Sigit Suhandoyo. Da’wah yang benar adalah aktifitas menyeru manusia kepada Allah ta’ala. Allah menjadi pusat atas aktifitas da’wah. Da’wah bukan seruan yang bersifat ananiyah, yakni da’wah demi kepentingan pribadi seorang da’i. Dakwah bukan pula seruan kepada firqah, yakni da’wah demi kepentingan kelompok dan golongan tertentu. Apalagi bersifat inhiraf, yakni da’wah demi kepentingan musuh-musuh Allah.

Selain keikhlasannya, dituntut pula dari para da’i kemurnian pemikirannya, akhlaqnya, ibadahnya, mu’amalahnya dan seluruh aktifitas kehidupannya ia murnikan sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Nabi-Nya. Dengan demikian dapat diharapkan seruan da’wah seorang da’i berjalan dengan benar. Sebagaimana makna yang terkandung dalam surat ali Imran ayat 52,

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قالَ مَنْ أَنْصارِي إِلَى اللَّهِ قالَ الْحَوارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kami lah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

Al-Qusyairī, seorang da’i dari kalangan ulama Naisabur abad ke 5 H, menafsirkan bahwa makna pertanyaan Nabi ‘Isa “من أنصارى إلى الله ليساعدونى على التجرد لحقّه والخلوص فى قصده؟” adalah siapakah diantara kalian yang akan menolongku menegakkan agama Allah dengan bertajarrud terhadap hak-hak Allah dan tujuan yang ikhlas karena Allah.(1)  Pendapat semacam ini didukung pula oleh an-Nadawi. Menurutnya, diantara keutamaan para Nabi dan para da’i ilallah adalah “التجرد للدعوة والتفرغ لها” kemurnian da’wah dan kesungguhan mencurahkan tenaga, waktu dan fikirannya dalam da’wah.(2)  

Dalam mu’jam bahasa Arab kata tajarrud dapat ditemukan dalam bab jarada. Menurut pakar bahasa Ibnu Manzhur kata jarada berarti “قشر” yaitu menguliti.(3)  Tajarrud juga berarti “تعرّى” yaitu melepaskan pakaian. Sesuatu yang terbuka sehingga tampak jelas hal-hal yang sebelumnya disembunyikan juga dimaknai dengan tajarrud.(4)  Seorang yang bertajarrud dalam suatu amal ibadah berarti ia mengerjakannya dengan seksama dan sungguh-sungguh.(5)  Dalam sebuah riwayat tentang sifat-sifat Nabi saw digambarkan bahwa Rasulullah, “أَنْوَرَ الْمُتَجَرَّدِ مَوْصُولَ مَا بَيْنَ اللَّبَّةِ وَالسُّرَّةِ بِشَعْر”(6)  menampakkan cahaya antara leher hingga kepalanya dengan rambut yang berombak. Al-Baghawi, seorang pakar tafsir dan hadits dari kalangan syafi’iyyah mengemukakan bahwa makna kata “أَنْوَرَ الْمُتَجَرَّدِ” adalah terpancar dari tubuhnya cahaya, pada bagian yang terbuka maupun ketika tersingkap pakaiannya.(7)  Penggunaan teks tajarrud dalam hadits ini menjelaskan makna tajarrud sebagai kemurnian, cahaya yang terpancar itu memaknai kemurnian tubuh Nabi saw. 

Penggunaan teks tajarrud juga terdapat dalam sebuah hadits tentang sifat hati manusia, yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Sa’id, ra. Bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,

الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ: قَلْبٌ أَجْرَدُ فِيهِ مِثْلُ السِّرَاجِ يَزْهَرُ، وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غِلَافِهِ، وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ، وَقَلْبٌ مُصْفَحٌ، فَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَجْرَدُ: فَقَلْبُ الْمُؤْمِنِ سِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْأَغْلَفُ: فَقَلْبُ الْكَافِرِ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمَنْكُوسُ: فَقَلْبُ الْمُنَافِقِ عَرَفَ، ثُمَّ أَنْكَرَ، وَأَمَّا الْقَلْبُ الْمُصْفَحُ: فَقَلْبٌ فِيهِ إِيمَانٌ وَنِفَاقٌ، فَمَثَلُ الْإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا الْمَاءُ الطَّيِّبُ، وَمَثَلُ النِّفَاقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ يَمُدُّهَا الْقَيْحُ وَالدَّمُ، فَأَيُّ الْمَدَّتَيْنِ غَلَبَتْ عَلَى الْأُخْرَى غَلَبَتْ عَلَيْهِ.(8)  

“Hati itu ada empat macam: hati yang bersih ia seperti lentera yang bercahaya, hati yang tertutup yang terikat dengan tutupnya, hati yang sakit dan hati yang terbalik. Adapun hati yang bersih adalah hati orang beriman, ia seperti lentera yang bercahaya. Sedangkan hati yang tertutup adalah hatinya orang kafir. Hati yang sakit adalah hati orang munafik, ia mengetahui (kebenaran) tapi ingkar. Dan hati yang terbalik adala hati orang di dalamnya ada iman dan nifaq. Perumpamaan iman disini seperti tanah yang memberikan air bersih, sedangkan perumpamaan nifaq adalah seperti bisul didalamnya hanya nanah dan darah, maka yang paling kuat diantara keduanya akan mengalahkan yang lainnya”

Menurut al-makkī, hati orang beriman itu bersih karena dimurnikan dengan zuhud kepada dunia dan dimurnikan dari nafsu yang mengajak pada keburukan.(9)  Tidak ada pada hatinya khianat dan dusta, sebagaimana kemurnian fitrah, padanya ada keimanan yang bercahaya.(10)  

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata tajarrud secara bahasa bisa dimaknai dengan kemurnian atau genuin. Sesuatu yang murni digambarkan dengan cahaya yang memancar karena menunjukkan keindahan. Pada fisik menunjukkan keaslian bentuk, sedang pada psikis menggambarkan ketulusan pada kebaikan. Orang yang bertajarrud adalah orang yang bekerja dengan teliti dan sungguh-sungguh karena menginginkan hasil pekerjaannya tidak bercela.

Salah seorang pemikir Muslim mengemukakan bahwa tajarrud adalah, “أن تتخلص لفكرتك مما سواها من المبادئ والأشخاص، لأنها أسمى الفكر وأجمعها و أعلاها”(11)  membersihkan pemikiran dari pengaruh prinsip-prinsip dan orang lain, sebab ia adalah  pemikiran yang paling utama, paling lengkap dan paling tinggi.

Dapat dikemukakan, secara istilah tajarrud dalam da’wah adalah tuntunan bagi para da’i untuk memurnikan aktifitas da’wah dari berbagai nafsu tercela. Membebaskan diri dari pengaruh-pengaruh berbagai aliran, organisasi maupun ideologi yang tidak sejalan atau bertentangan dengan syari’at Allah. Menegakkan segala perbuatan karena Allah ta’ala dan berdasarkan aturan Allah ta’ala. Serta mengkhususkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk secara sungguh-sungguh menda’wahkan agama Allah.

Meskipun dimaknai sebagai kemurnian, tajarrud bukanlah aktifitas yang bertentangan dengan fitrah manusia. Sebagaimana sebuah kisah yang terjadi pada zaman Nabi saw yang dituturkan oleh Anas bin Malik ra. Ketika salah satu dari tiga orang sahabat berniat untuk tidak tidur dimalam hari dengan sholat sepanjang malam. Yang lain berniat menjauhi wanita dan tidak menikah seumur hidupnya. Adapula yang berniat berpuasa dan takkan pernah berbuka. Maka Nabi saw bersabda kepada mereka, 

أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنّي.(12) 

“Demi Allah aku adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan aku tidur dan aku menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku bukanlah golonganku”

Wallahu a’lam bishowwab


Catatan Kaki

  1. ‘Abdul Karim al-Qusayiri, Lathāif al-Isyarat, (Mesir: Haiah al-Mishriyah al-‘Ammah lil-Kitab, cet.ketiga, tth), Jilid 1, hlm 245.
  2. Abu al-Hasan an-Nadawi, Uridu an Atuhaditsa Ila al-Ikhwan, (Makalah Seminar, disampaikan di Cairo pada 9 Jumadil Akhir 1370 H), hlm 8.
  3. Ibnu Manzhur al-Anshari, Lisan al-‘Arab, (Beirut: Dar Shadr, cet. ketiga 1414 H), Jilid 3, hlm 115.
  4. Abu Bakar al-Anbarī, al-Zāhid fi Ma’ānī Kalimāt al-Nās, (Beirut: Muassasatu ar-Risalah, cet. Pertama 1412 H), Jilid 2, hlm 208.
  5. Zainuddin ar-Razy, Mukhtār ash-Shohāh, (Beirut: Maktabatu al-‘Ashriyah, cet. kelima 1420 H), hlm 56.
  6. Abū al-Qāsim ath-Thabrānī, al-Mu’jam al Kabir, (Cairo: Maktabah Ibnu Taimiyah, cet.ke2 1415 H), Jilid 22, hlm 155.
  7. Abu Muhammad al-Bagawi, Syarhu as-Sunnah, (Beirut: al-Maktab al-Islāmī, cet. kedua 1403 H), Jilid 13, hlm 278.
  8. Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, (Beirut: Muassasatu ar-Risalah, cet.pertama 1421 H), Jilid 17, hlm 208, no.11129. Menurut Syu’aib al-Arnauth hadits ini dhaif.
  9. Abu Thalib al-Makki, Qūt al-Qulūb Fi Mu’āmalati al-Mahbūb, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cet. kedua 1426 H), Jilid 1, hlm 170-171.
  10. Abu Sa’adat Ibnu al-Atsir, an-Nihayatu Fi Garib al-Hadits wa al-Atsar, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, 1399 H), Jilid 1, hlm 256.
  11. Hasan al-Banna, Kumpulan Risalah Da’wah, (Jakarta: I’tishom, cet. kesepuluh, 2012), Jilid 1, hlm 313.
  12. Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Saudi Arabia: Dar Thuwaiq an-Najah, cet. pertama 1422 H), Jilid 7, hlm 2, hadits no 5063.


Hikmah Dalam Da’wah Nabi Musa Kepada Bani Israil


Sigit Suhandoyo. Allah ta’ala mengutus nabi Musa as, untuk berda’wah kepada Fir’aun dan menyelamatkan bani Israil. Sebuah masyarakat yang lemah, tertindas dan terpecah belah kaena perbudakan diberbagai bidang perkerjaan, serta dimuliakannya sebagian kelompok masyarakat atas sebagian lainnya. Situasi ini tertera dalam surat al-Qashash ayat 4

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ.

“Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” 

Pakar tafsīr al-Marāgī (w. 1371 H) mengemukakan pendapatnya sebagai berikut,

فرقهم فرقا مختلفة، وأحزابا متعددة، وأغرى بينهم العداوة والبغضاء، كيلا يتفقوا على أمر ولا يجمعوا على رأى، ويشتغل بعضهم بالكيد لبعض، وبذا يلين له قيادهم، ولا يصعب عليه خضوعهم واستسلامهم(1). 

Fir’aun memecah belah bani Israil dalam berbagai firqah yang berbeda, dalam banyak golongan. Menghasut mereka dengan permusuhan dan kebencian, agar mereka tidak memiliki kesamaan isu serta tidak berkumpul dalam suatu kepemimpinan yang kuat. Kemudian Fir’aun juga menyibukkan sebagian mereka dengan makar sebagian yang lain, sehingga tidak sulit bagi Fir’aun untun menundukkan bani Israil.

Menghadapi siasat politik semacam ini, Musa as berseru kepada Bani Israil,

قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa".”

Musa as menyerukan hakikat yang terang benderang, tentang keyakinan, kesabaran dan kepemilikan Allah atas bumi serta balasan yang baik bagi al-muttaqin. Nilai penting ayat ini dalam perspektif da’wah adalah,


a. Setiap mukmin hendaklah bersungguh-sungguh untuk saling menasihati.

Nabi Musa as, mengunci nasihatnya yang berupa seruan umum tersebut dengan kata takwa. Bahwa dalam ujian berupa himpitan kesulitan maupun ujian dalam bentuk kelapangan hidup dunia, kesudahan yang baik hanyalah bagi mereka yang bertakwa. Dalam kondisi apapun seorang mukmin tidak boleh kehilangan tujuan utama perjalanan hidupnya.

Kegalauan orientasi, kerancuan militansi, mengendurnya kepercayaan terhadap institusi dan para penanggung jawab, adalah fenomena lepasnya komitmen seorang aktifis. Musthafa Masyhur menuturkan, bahwa diantara ujian bagi para aktifis da’wah adalah ujian kekuatan spiritualnya dalam memenuhi hak-hak ukhuwah, meskipun musuh berupaya memecah belah, menghasut dan memfitnah. Kesemua fenomana ini menunjukkan kepada kita akan keniscayaan untuk saling menasihati. Bersungguh-sungguh dalam memberi nasihat dan bersungguh-sungguh pula dalam menerima nasihat.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Zaid bin Tsabit ra, tentang tiga hal yang hati seorang Muslim tidak boleh berkhianat dengannya,

إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَمُنَاصَحَةُ وُلَاةِ الْأَمْرِ، وَلُزُومُ الْجَمَاعَةِ.(2) 

“mengikhlaskan seluruh perbuatannya hanya karena Allah, menasihati para pemimpin dan senantiasa menetapi jama’ah kaum Muslimin. 

Apalah yang menghalangi seorang muslim dari menasihati saudaranya, dan apapula yang menghalangi seorang muslim untuk mendengar nasihat dari saudaranya. Bagi mukmin saling menasihat adalah sebuah keniscayaan. Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra,

الْمُؤْمِنُ مَرْآةُ أَخِيهِ إِذَا رَأَى فِيهَا عيبا أصلحه.(3) 

“Seorang mukmin itu cermin dari saudara mukminnya, jika ia melihat kekurangannya maka ia akan memperbaikinya”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra,

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ.(4) 

“Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya, seorang mukmin itu saudara mukmin lainnya, ia menjaga hartanya dan melindunginya dari belakangnya (keburukan yang menimpanya).”

b. Setiap mukmin hendaklah senantiasa memohon pertolongan kepada Allah atas segala permasalahan hidupnya. 

Hidup tanpa kesadaran akan kebersamaan dengan Allah adalah ketertipuan dan kehampaan. Adapun ketergantungan kepada Allah semata adalah hakikat dan sumber dari kekuatan jiwa untuk terus berjuang dalam kehidupan. Adalah Musa as dan Harun as berdo’a kepada Rabbnya,

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ 

“Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih."” (yunus 88)

Setelah itu ada masa panjang 40-an tahun Musa as dan Harun as berda’wah dengan istiqomah dan keyakinan hingga Allah kabulkan do’a mereka berdua. Demikian pula Muhammad saw, menahan malaikat penjaga gunung agar tidak menimpakan “barang yang dijaganya itu” kepada para penentang Nabi, karena harapannya kepada Allah akan adanya generasi baru yang lebih baik.

Senantiasa mengutamakan memohon pertolongan kepada Allah adalah jalan yang benar untuk menguatkan kebersamaan dengan Allah, keikhlasan dan kekuatan dalam beramal. 


c. Sabar itu meringankan penderitaan dan solusi awal yang terpuji atas segala ujian.

Sabar merupakan sikap hidup yang selalu dibutuhkan manusia dalam utusan agama dan dunianya, sabar sangat diperlukan manusia ketika menunaikan perintah yang wajib dilaksanakan dan larangan yang wajib ditinggalkan dan terkadang diperlukan saat bersamaan. Sabar adalah persediaan bagi seorang pejuang dalam perjuangannya, persediaan bagi seorang da'i di saat manusia tidak menyambut seruannya, persediaan bagi seorang alim di zaman ilmu tak lagi diperhatikan, bahkan ia adalah bekal bagi semua orang. Jadi sabar merupakan sikap hidup yang bisa dijadian pegangan, benteng perlindungan dan langkah awal kesuksesan. Al-Munjid berkata,

ثبات على الدين إذا جاء باعث الشهوات ، وهو ثبات على الكتاب والسنة ، لأن من أخذ بهما فقد صبر على المصائب وصبر على العبادات وصبر على اجتناب المحرمات

Sabar adalah sikap tegar dan kukuh dalam menjalankan ajaran agama ketika muncul dorongan syahwat. Ia adalah ketegaran yang dibangun di atas landasan kitab dan sunnah. Karena hamba yang berpegang teguh dengan keduanya mampu bersabar terhadap beragam musibah, dalam beribadah dan menjauhi larangan.

Demikianlah bagi orang-orang yang sabar, selain kebersamaan dengan Allah swt, dan meraih kesuksesan dunia dan akhirat, kepemimpinan dan kekuasaan berkaitan erat dengan sabar dan yakin, sebagaimana firman Allah.

وجعلنا منهم أئمة يهدون بأمرنا لما صبروا وكانوا بآيتنا يوقنون

”Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan meyakini ayat-ayat Kami.” (as sajdah 24)


d. Setiap da’i hendaklah mampu menanamkan rasa tsiqah kepada Allah terhadap mad’unya. Bagi muslim yang mau meneladani hikmah atas segala peristiwa da’wah di masa lampau, yang mungkin sekali terulang lagi di masa kini. Tentu akan mendapati begitu banyak kisah yang sarat akan nilai-nilai semacam ini. Ketsiqohan ibunda musa as melarung bayinya kesarang musuh. Keteguhan ibunda Isma’il as, ditinggalkan suaminya di tanah tak bertuan hingga pada gilirannya terbukti pula ketsiqahan Isma’il untuk disembelih layaknya seekor hewan kurban. Demikian pula perilaku melawan arus Nabi Nuh as dan pengikutnya, yang tak masuk akal, dengan membangun bahtera di atas gunung. Kesemuanya adalah sebuah cetak biru keteladanan tentang ketsiqohan kepada Allah dan kebenaran da’wah.

Atau kisah yang belum lama berlalu, tentang kebobrokan sebuah pengadilan yang tak mampu membuktikan kesalahan seorang Sayyid Quthb. Menyodorkan kepadanya sebuah berkas pengakuan dosa dan permohonan maaf untuk ditanda-tanganinya. Berkas yang akan membebaskannya dari kematian itu ditepikannya seraya berkata, “telunjukku yang setiap hari bersaksi akan keesaan Allah ini terlalu hina untuk menulis suatu pengakuan yang tak pernah aku lakukan. Bila aku dihukum secara benar, aku ridho dengan kebenaran. Bila vonis dijatuhkan secara batil, terlalu hina bagiku memohon belas kasihan dari pelaku kebatilan.

Seorang ulama pernah mengatakan, “sungguh untuk mewujudkan cita-cita pembinaan ummat, membutuhkan segolongan manusia yang tak henti berusaha kearah itu. Memiliki keinginan yang tak kenal lemah, kesetiaan yang teguh dan tidak pula pengkhianatan. Pengorbanan yang benar yang tidak terhalang oleh tamak dan bakhil. Beriman dan memelihara dirinya dari kesalahan yang disengaja, penyimpangan, tawar-menawar, penghasutan, dan hal-hal negatif lainnya.”


Catatan Kaki

  1. Ahmad Musthafā al-Marāgī, Tafsīr al-Marāgī, (Mesir: Perusahaan Penerbitan Musthafa al-Halabi, Cet. Pertama 1365 H),  Jilid 20, hlm 32.
  2. Ahmad bin Hanbal al-Syaibani, Musnad al-Imam Ahmad, (Beirut: Muassatu al-RIsalah, Cet pertama, 1421 H ), Jilid 35, hlm 467, hadits no. 21590.
  3. Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, Cet. Pertama 1419 H), hlm 125.
  4. Abu Dawud al-Sijjistani, Sunan Abu Dawud, (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyah, tth), Jilid 4, hlm 280, hadits no, 4918.


Keutamaan Generasi Muda Dalam Islam



Sigit Suhandoyo. Generasi muda remaja merupakan asset yang potensial bagi sebuah bangsa, karena remaja merupakan generasi penerus bagi bangsa tersebut. Masa depan sebuah bangsa dapat terlihat dari kondisi remajanya pada saat ini.


Bagi bangsa Indonesia besarnya komposisi jumlah remaja merupakan sebuah tantangan yang dilematis.(1)  Remaja dapat dipandang sebagai sebuah asset potensial yang konstruktif jika mereka dapat dididik dan digerakkan guna mendukung program pembangunan bangsa, akan tetapi remaja akan menjadi potensi destruktif jika mereka bersikap pasif dan apatis dan hanya menjadi beban tanggungan bagi kelompok masyarakat lain. 


Jumlah remaja yang besar tersebut terkadang hanya dijadikan sebagai komoditas politik belaka, padahal remaja merupakan agen perubahan, dan generasi yang sangat diharapkan eksistensinya. Sementara itu, pengakuan nyata terhadap remaja dalam struktur sosial -- yang menjadi elemen penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan -- kurang mendapatkan tempat yang memadai.(2)  Remaja menjadi pragmatis, bersikap apatis, acuh tak acuh terhadap problematika yang berkembang di masyarakat, atau hanya aktif secara akademis untuk meraih prestasi yang tinggi tanpa peduli pada kehidupan orang lain. 


Lemahnya pengakuan masyarakat terhadap kalangan remaja, dapat menjadikan mereka mengalami problem identitas. Konteks ini berpotensi menggiring pada melemahnya ikatan-ikatan sosial di antara remaja dan masyarakat. Remaja saat ini mengalami disorientasi sosial terhadap fungsi dan perannya sebagai pelaku perubahan.(3)  Padahal, salah satu hal yang membuat peran remaja menjadi sangat penting adalah keberadaan remaja yang mengisyaratkan adanya semangat perubahan.(4)  Terutama perubahan positif yang membawa kemajuan bagi sebuah bangsa. 


Bangsa Indonesia membutuhkan adanya perubahan-perubahan yang positif. Bagi masyarakat yang mampu beradaptasi, perubahan menghadirkan peluang yang menawarkan kesempatan baru bagi kemajuan. Dalam konteks inilah, remaja perlu mendapatkan tempat dan perhatian dari berbagai elemen masyarakat, karena remaja merupakan asset yang penting bagi sebuah bangsa untuk meneruskan identitas bangsa tersebut.


Sebagai generasi harapan bangsa yang menjadi penerus identitas bangsa, remaja diharapkan memiliki semangat menempa hard skill dan soft skill. Remaja harus mempersiapkan diri untuk menjadi generasi yang berprestasi secara akademik, memiliki keterampilan tinggi serta berdaya saing dan harus memiliki mental dan moralitas yang baik agar dapat meneruskan estafeta kepemimpinan bangsa dalam berbagai bidang kehidupan. 


Untuk memenuhi harapan tersebut, para orang tua  mendukung pendidikan mereka; para pendidik bekerja keras dengan penuh dedikasi untuk membangun karakter mereka dan membekali mereka dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan; dan pemerintah terus membuat kebijakan-kebijakan pembangunan bidang pendidikan dan mengembangkan program-program pendidikan yang relevan dan bermutu, untuk menghantarkan para pelajar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Mengiringi para orang tua, guru-guru dan pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat terus aktif memberikan bimbingan-bimbingan, pengawasan, dan dukungan terhadap berbagai kebijakan atau program pendidikan.


Dalam Agama Islam masa remaja merupakan masa yang sangat penting untuk dimanfaatkan dalam kebaikan, sebagaimana nasihat Rasulullah saw kepada seorang pemuda yang tertera dalam hadits berikut,

 

أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ حَلِيمٍ الْمَرْوَزِيُّ، أَنْبَأَ أَبُو الْمُوَجَّهِ، أَنْبَأَ عَبْدَانُ، أَنْبَأَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي هِنْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: " اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ(5)  


Dari Ibnu ‘Abbas ra telah berkata, Rasulullah saw telah berkata kepada seorang pemuda;“Rebut lima perkara sebelum datang lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.”


Menurut al Qāri masa muda merupakan sebuah fase terpenting dalam fase kehidupan seorang manusia. Pada fase ini seseorang manusia berada dalam kondisi fisik yang prima untuk mewujudkan keta’atan kepada Allah.(6)  Masa remaja sebagai masa terbaik dikemukakan pula oleh Ikrimah dan Ibnu Abbas ra, sebagaimana dikemukakan oleh ath-Thabarī dalam menafsirkan firman Allah ta’ala yang tertera dalam surat at Tiin ayat ke 4, “لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم” yang berarti “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Menurut ath-Thabadi yang dimaksud sebaik-baik bentuk  atau ahsani taqwīm adalah masa muda yang kuat ketika awal pertumbuhannya.(7)  


Demikian hebat potensi masa muda ini diterangkan pula dalam sebuah riwayat dari sahabat nabi saw berikut,


عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ السُّلَمِيِّ، وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الشَّابَّ الْمُؤْمِنَ لَوْ يُقْسِمُ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ»(8)  

Dari ‘Utbah bin ‘Abdin as Salamiy, bahwasanya sahabat nabi saw telah berkata “Sesungguhnya seorang pemuda yang beriman bersumpah dengan nama Allah niscaya Allah akan menerimanya”. 


Riwayat tersebut di atas menerangkan bahwa potensi potensi fisik dan akal pemuda jika digabungkan dengan potensi keimanan (spiritual) maka merupakan modal yang sangat besar bagi pemuda untuk dapat memenuhi semua keinginannya.


Urgensi masa muda juga diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa masa muda merupakan salah satu perkara yang akan Allah swt minta pertanggung-jawabannya kepada setiap manusia kelak di hari kiamat. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,


حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا حُصَيْنُ بْنُ نُمَيْرٍ أَبُو مِحْصَنٍ قَالَ: حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ قَيْسٍ الرَّحَبِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ، عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ.(9) 


“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya”


Menurut Syaifuddin at-Thibi, sebagaimana dikutip oleh al Qāri, maksud dari pertanyaan tentang masa muda adalah terkait evaluasi Allah atas kualitas keta’atan seorang hamba pada saat ia berada dalam kondisi yang prima untuk beribadah kepada-Nya.(10)  


Keutamaan masa muda sebagai masa terbaik juga tertera dalam hadits berikut, bahwa Allah mensifati para penghuni surga dengan kemudaan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw telah bersabda,


أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الرِّفَاعِيُّ، حَدَّثَنَا مُعَاذٌ يْعَنِي ابْنَ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَامِرٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَهْلُ الْجَنَّةِ شَبَابٌ، جُرْدٌ، مُرْدٌ، كُحْلٌ، لَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ، وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ»(11) 

“Penghuni surga adalah pemuda, yang halus kulitnya, tidak memiliki rambut pada jenggotnya, tampan lagi memakai celak, pakaiannya tidak pernah usang dan kemudaannya tidak pernah pudar.”


Hadits-hadits tersebut di atas menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap hal-hal yang mendatangkan kebaikan bagi seorang remaja muslim sekaligus menjelaskan keutamaan mereka untuk memanfaatkan segenap potensi mereka dalam kebaikan. Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Āmir ra, bahwasanya Rasulullah telah bersabda,


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ أَبِي عُشَّانَةَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ.(12) 

“Sesungguhnya Allah benar-benar kagum terhadap seorang anak muda yang tidak memiliki shabwah”


Maksud dari anak muda yang tidak memiliki shabwah, adalah anak muda yang tidak memperturutkan kecenderungan syahwat masa mudanya yang mengajak untuk berbuat keburukan.(13)  Karakter remaja muslim yang dikagumi oleh Allah ta’ala adalah remaja yang kuat menundukkan dan mengarahkan gejolak syahwatnya hingga ia tidak terjerumus dalam kehidupan yang nista. 


Relevan dengan hadits di atas, diriwayatkan dari ‘Abdullah ibnu Umar bahwasanya Nabi saw telah bersabda,


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ سَلَّامٍ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ الْجَعْدٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ عَطِيَّةَ، عَنْ سَالِمٍ الْأَفْطَسِ، عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الشَّابَّ الَّذِي يُفْنِي شَبَابَهُ فِي طَاعَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ»(14) 

“Sesungguhnya Allah mencintai anak muda yang menghabiskan masa mudanya dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla”


Remaja yang memanfaatkan masa mudanya dengan ketaatan juga disifati sebagai hamba Allah yang sejati, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَيْرُوزَ الْأَنْمَاطِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نَافِعٍ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ، ثنا عُمَرُ بْنُ صُبْحٍ، عَنْ أَبِي حَبَّانَ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ أَحَبَّ الْخَلَائِقِ إِلَى اللَّهِ شَابٌّ حَدَثُ السِّنِّ، جَمِيلٌ فِي صُورَةٍ حَسَنَةٍ، جَعَلَ شَبَابَهُ وَجَمَالَهُ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، فَذَاكَ الَّذِي يُبَاهِي بِهِ الرَّحْمَنُ مَلَائِكَتَهُ، يَقُولُ: هَذَا عَبْدِي حَقًّا "(15) 


“Sesungguhnya mahluk yang paling dicintai diantara makhluk Allah adalah anak muda yang sedang menjalani usia mudanya,indah perangainya,menjadikan usia muda dan keindahan perangainya untuk beribadah kepada Allah, maka dengan segala kebaikannya itu Allah yang Maha Rahman berkata kepada malāikat-Nya; inilah hambaku yang sejati.”


Demikianlah profil remaja muslim yang diharapkan. Dalam hadits-hadits tersebut di atas menggambarkan remaja sebagai sebuah pribadi yang mampu mengendalikan gejolak syahwatnya yang mengajak kepada keburukan, menghabiskan waktu dalam keta’atan kepada Allah, serta memiliki kemuliaan secara sosial.


Catatan Kaki

  1. Komposisi generasi muda merupakan jumlah terbesar dari penduduk Indonesia, yaitu sebesar 37% dari total Penduduk Indonesia yang 220 juta. Lihat BPS. (n.d.), “Data Statistik Indonesia”, dalam Retrieved Mei 2008, from http:// www.datastatistik indonesia.com
  2. Pandu Dewanata & Saifullah, Rekonstruksi Pemuda (Jakarta: Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, 2008), hlm. 13
  3. Aziz Syamsudin, 23 Karakter Pemuda Pilihan (Jakarta: RMBOOKS, 2009), hlm. xiii.
  4. Ibid, hlm 3.
  5. Abu Abdullah al Hakim an Naisabury, al Mustadrak ‘Ala ash Shahihain, (Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1411 H), Juz 4, hlm 341, hadits no. 7846. Hadits ini shahih menurut syarat ash shahihain.
  6. Ali bin Muhammad Abul Hasan Nuruddin al Qari, Mirqatul Mafatih Syarh Miskatul Mashabih, (Beirut: Daar al Fikr, 1422 H),  Juz 8, hlm 3239.
  7. Muhammad bin Jarir Abu Ja’far ath Thobary, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, (Beirut: Muassasatu ar Risalah, 1420H), Juz 24, hlm 508.
  8. Abu Abdurrahman Abdullah Ibnul Mubarak, az-Zuhdu wa ar-Raqāiq li Ibn al-Mubarak , (Beirut: Dār al-Kutub al ‘Ilmiyah, tth),  Juz 1, hlm 117.
  9. Muhammad bi ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, (Mesir: Penerbit Musthofa al Halabi, 1975), Juz 4, hlm 612. hadits no 2416. Hadits ini hasan shahih, lihat kanzul ‘ummal 14/372 dan Majma’uz Zawaid 10/346.
  10. Nuruddin al Qari, op.cit, juz 4, hlm 3254.
  11. Abu Muhammad ad Dārimī, Musnad ad Dārimī, (Saudi Arabia: Dār al Mughnī, 2000), cet 1,  Juz 3, hlm 1866, hadits no 2868. Menurut Husain Salim Asad hadits ini hasan. 
  12. Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal asy-Syaibaniy, Musnad al Imam Ahmad, (Beirut: Muassasatu ar Risalah, 2001), Juz 28, hlm 600, hadits no 17.730. Menurut Syu’aib al Arnauth hadits ini hasan lighairihi.
  13. Zainuddin Muhammad al Manawi, at Taisir bi Syarhil Jami’ush Shagīr, (Riyadh: Maktabah al Imam asy-Syafi’i, 1998), Juz 1, hlm 262.
  14. Abu Nu’aim al Ashbahānī, Hilyatu al-Auliyā wa Thobaqātu al-Ashfiyā, (Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyah, 1409), cet 1, juz 5, hlm 360. Hadits ini Gharīb, lihat Jāmi’ al-Ahadīts li asy-Suyuti 8/236 no 7206.
  15. Abu Hafs Umar Ibn Sahin, at Targhību fī Fadhāili al-a’māl, (Beirut: Dār al Kutub al Ilmiyyah, 2004), cet 1, hlm 78, hadits no 230. hadist ini dha’īf. lihat Kanzul ‘Umal 15/785 no 43103 dan Jāmi’ al-Ahadīts li asy-Suyuti, 7/125 no 5957.