Pembahasan Tentang Adab-Adab Hati Dalam Zakat



Pasal Mengenai Adab-Adab Batin Dalam Membayar Zakat
فَصْلُ فِي دَقاَئِقِ الآدَابِ البَاطِنَةِ فيِ الزَكَاةِ

Pertama, Memahami maksud zakat yang meliputi tiga hal:
- Ujian bagi mereka yang mengaku mencintai Allah dengan mengeluarkan sesuatu yang dicintainya
- menghilangkan sifat kikir yang merusak
- mensyukuri nikmat harta
أَنْ يَفْهَمَ المُرَادُ مِنَ الزَكَاةِ ، وَهُوَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ ‏:‏
- اِبْتِلاَءُ مَدعُى مَحَبَّةُ اللهِ تَعَالَى بِإِخْرَاجِ مَحْبُوْبِهِ،
- اَلتَّنَزُّهُ عَنْ صِفَةِ الْبُخْلِ اْلمَهْلِ،
- شُكْرُ نِعْمَةَ الْمَالِ‏.‏


kedua, merahasiakan zakat yang dikeluarkan, agar dia dijauhkan dari riya dan mencari ketenaran.
اَلْإِسْرَارُ بِإِخْرَاجِهَا لِكَوْنِهِ أَبْعَدَ مِنَ الِريَاءِ وَالسُمْعَةِ،

ketiga, tidak merusak zakat dengan menyebut-nyebut zakat yang dia keluarkan dan menyakiti hati orang yang diberi zakat.
أَنْ لَا يُفْسِدُهَا الْمَنُّ وَاْلأَذَى

keempat, Menganggap kecil perbuatannya mengeluarkan zakat (tidak berbangga diri / merasa hebat)
أَنْ يَسْتَصْغِرَ الْعَطِيَةَ

kelima, Memilih hartanya yang paling halal, paling baik dan paling dicintai.
أَنْ يَنْتَقَى مِنْ مَاِلهِ أَحَلَّهُ وَأَجْوَدَهُ وَأَحَبَّهُ إِلَيْهِ

keenam, mencari orang-orang yang paling menerima zakatnya, terutama adalah delapan ashnaf (golongan) yang berhak menerima zakat dan shadaqoh, terutama yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
أَنْ يَطْلُبَ لِصَدَقَتِهِ مِنْ تَزْكُو بِهِ ، وَهُمْ خُصُوصٌ مِنْ عُمُومِ اْلأَصْنَافِ الثَّمَانِيَّةِ، وَلَهُمْ صِفَاتٌ:

- Taqwa, Dengan mengkhususkan shodaqoh kepada orang bertaqwa dapat meningkatkan kualitas ketaqwaannya kepada Allah
اَلتَّقْوَى ، فَلْيَخُصَّ بِصَدَقَتِهِ الْمُتَّقِيْنَ ، فَإِنَّهُ يُرَدُّ بِهَا هِمَمُهُمْ إِلَى اللهِ تَعاَلىََ

- Ilmu. Karena dengan memberi kepada orang berilmu membantu tersebarnya ilmu dan menolong agama sehingga memperkokoh hukum Islam.
اَلْعِلْمُ، فَإِنَّ فِي ِإعْطَاءِ الْعَاِلمِ ِإعَانَةٌ عَلَى الْعِلْمِ وَ نَشْرُ الدِّينِ، وَذَلِكَ تَقْوِيَةٌ لِلشَرِيْعَةِ‏.‏

- Orang yang mempunyai tanggungan keluarga, sedang sakit atau terjerat hutang.
أَنْ يَكُونَ ذَا عَائِلَةٍ ، أَوْ مَحْبُوساً لِمَرَضٍ أَوْ دَيْنٍ
- termasuk kerabat atau sanak saudara.
أَنْ يَكُونَ مِنَ اْلأَقَارِبَ وَذَوِى اْلأَرْحَامٍ

Disarikan secara bebas dari Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah al Maqdisy

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar