Da’i dan Kompetensi Moral


Sigit Suhandoyo. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap Muslim yang mukallaf adalah pelaku da’wah “dā’ī” yang mempunyai kewajiban untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia. Meskipun pada saat yang sama bisa saja berpredikat sebagai mitra dakwah. Secara khusus, orang yang seharusnya berperan lebih intensif sebagai dā’ī adalah mereka yang memang mempunyai keahlian ataupun memang secara sengaja mengkonsentrasikan dirinya dalam tugas mempelajari serta mengajarkan ajaran agama Islam untuk disampaikan kepada orang lain sehingga ilmu dan ajaran agamanya tersebut dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku obyek dakwah tersebut.


Da’wah dan dā’ī merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Tanpa dā’ī tidak akan ada kegiatan da’wah Islam. Da’wah memerlukan para da’i yang memiliki kompetensi moral “akhlaq” yang unggul karena mereka adalah para pendidik dan pembangun generasi. Akhlaq merupakan unsur yang sangat penting bagi keberhasilan da’wah. Penerimaan mad’u terhadap nilai-nilai da’wah terkait erat keselarasan dan kesesuaian akhlaq sang da’i terhadap da’wahnya. Semakin sesuai pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sang da’i maka akan semakin memudahkan mad’u mengikuti seruan da’wah. Oleh karenanya naskah ini akan membahas tentang pengertian dā’ī dan kompetensi moral yang idealnya dimiliki oleh para penyeru ke jalan Allah.

PENGERTIAN DĀ’Ī


Menurut al-Wurī, dā’ī adalah, “من يمارس الدعوة إلى الله على الدوام” (1) orang yang senantiasa mengusung da’wah kepada Allah. Tidak hanya sebagai sebuah bentuk aktifitas menyampaikan semata, dā’ī juga menyerukan kepada janji setia “bai’at” kepada sebuah agama.(2)  Sebagai sebuah agama yang paripurna mengatur seluruh sendi kehidupan manusia, maka seruan kepada “bai’at” berarti, janji setia untuk menerapkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan. 


Dā’ī dengan demikian merupakan penyeru ke jalan Allah, pengibar panji-panji Islam dan pejuang yang mengupayakan terwujudnya sistem Islam dalam realitas kehidupan ummat manusia.(3)  Secara profesional dā’ī melakukan tugas-tugas dakwah bukan saja dalam bentuk ceramah atau khutbah semata, melainkan juga menerapkan sistem Islam dalam kehidupan manusia.(4)  Pengertian-pengertian semacam ini sebagaimana pendapat al-Bayānūnī. Menurutnya dā’ī adalah, “المبلّغُ للإسلام، و المعلّم له، و السّاعي إلى تطبيقه”(5)  yaitu orang yang menyampaikan dan mengajarkan Islam serta bekerja dalam upaya menerapkannya dalam kehidupan. Demikian pula menurut Jum’ah Amin, dā’ī adalah orang yang berusaha untuk mengajak manusia melalui perkataan dan perbuatannya kepada Islam, menerapkan manhajnya, memeluk aqidahnya dan melaksanakan syari’atnya.(6)  Ahmad ‘Īsāwī mendefinisikan bahwa da’i adalah,


الإنسان المؤهل روحيا، و وجدانيا و عقليا، و جسديا للإضطلاع بمهمة التبليغ و الدعوة لرسالة الله تعالى إلى الأفراد و المجتمعات و الأمم بقصد حملهم طواعية على اتباع تعاليمة، و العمل على ما جاءت به من: عقائد و تصورات و عبادات و معاملات و أخلاق و آداب.(7) 

Ragam pengertian tentang dā’ī tersebut di atas memberikan pemahaman bahwa dā’ī selain penceramah agama, juga merupakan pendidik masyarakat. Selain itu dā’ī juga pembina masyarakat, melalui gagasan, tingkah laku, keteladanan serta kepemimpinannya menyebabkan tersampaikan dan teraplikasikannya Islam dalam kehidupan manusia. 


KOMPETENSI MORAL DĀ’Ī


Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memilih nabi Muhammad saw, mendidiknya dengan sebaik-baik pendidikan hingga beliau memiliki Akhlaq yang agung. Sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah ra, “كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآن”(8)  bahwasanya akhlaq Nabi adalah al-Qur’an. Tak dapat dipungkiri bahwa dā’ī yang berakhlaq sesuai dengan apa yang dida’wahkannya, tershibgah dengan apa yang didakwahkannya, akan membantu bagi keberhasilan da’wahnya. Berikut ini akhlaq-akhlaq utama yang idealnya dimiliki oleh para dā’ī;


Ikhlas


Wajib bagi para dā’ī untuk menghiasi dirinya dengan keikhlasan. Da’wah adalah seruan kepada Allah, bukan kepada golongan tertentu, bukan pula bagi kepentingan dā’ī itu sendiri. Allah ta’ala hanya mewajibkan setiap muslim mukallaf untuk berda’wah. Adapun hidayah adalah merupakan hak Allah. Hal ini menjelaskan urgensi keikhlasan dalam da’wah. Para dā’ī harus senantiasa melakukan segala aktifitasnya karena Allah dan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Yusuf 108,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".”


As-Sa’dy mengemukakan bahwa jalan da’wah merupakan jalan yang menyeru kepada Allah ta’ala. Jalan da’wah ini menghimpun ilmu dan amal yang benar serta keikhlasan karena Allah ta’ala. Jalan da’wah ini mengumpulkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya serta rasa takut untuk menjauhkan diri dari Allah.(9) 


Musthafa Masyhur bahkan mengemukakan bahwa tujuan da’wah adalah semata-mata karena Allah. Segala kepentingan lain selain Allah dalam da’wah adalah bentuk penyimpangan da’wah. Allah menghendaki segala amal itu ikhlas karena-Nya.(10)  Menurutnya lagi bahwa sifat riya, lupa diri, sombong, ego-sentris dan gila popularitas merupakan pembusukan terhadap da’wah. Oleh karenanya penting bagi para da’i untuk senantiasa memperhatikan niatnya dalam berda’wah agar tidak rusak amalnya. Hasan al-Bashri mengatakan,

لا يَزَالُ العَبْدُ بِخَيْرٍ ما عَلِمَ الذي يُفْسِدُ عليهِ عَمَلهُ.(11) 

“Seorang hamba akan selalu berada dalam kebaikan, selama ia mengetahui hal-hal yang akan merusak amalnya.”


Selain bukan untuk kepentingan pribadi, da’wah juga bukan untuk kepentingan golongan tertentu. Da’wah bukanlah seruan kepada sebuah kelompok, organisasi ataupun partai politik tertentu. Kelompok, organisasi maupun partai politik idealnya hanyalah merupakan sarana semata dan bukan tujuan. Para da’i adalah mereka yang menyeru hanya kepada Allah semata, bukan untuk tujuan-tujuan yang parsial. Kebenaran adalah milik Allah, bukan klaim sekelompok orang tertentu seraya mendeskreditkan kelompok lain. Ibnu Hajar mengutip perkataan an-Nawawi ketika mensyarah hadits tentang kelompok ummat yang senantiasa dalam kebenaran(12)  adalah untuk senantiasa saling melengkapi, menguatkan dan memenuhi kebutuhan seluruh ummat dengan segala bidangnya, dan bukan untuk saling merasa benar sendiri.


هَذِهِ الطَّائِفَةُ فِرْقَةً مِنْ أَنْوَاعِ الْمُؤْمِنِينَ مِمَّنْ يُقِيمُ أَمْرَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ مُجَاهِدٍ وَفَقِيهٍ وَمُحَدِّثٍ وَزَاهِدٍ وَآمِرٍ بِالْمَعْرُوفِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ أَنْوَاعِ الْخَيْرِ وَلَا يَلْزَمُ اجْتِمَاعُهُمْ فِي مَكَانٍ وَاحِدٍ.(13)  

Kelompok ini merupakan kelompok dari berbagai bagian kaum mukminin yang melaksanakan perintah Allah, dari kalangan para pejuang, ahli fiqih, ahli hadits, ahli zuhud dan orang-orang memerintahkan yang ma’ruf dan berbagai kebaikan lainnya. Mereka tidak harus berhimpun di satu tempat yang sama.


Sabar


Sabar merupakan sikap hidup dibutuhkan manusia terutama para da’i. Dalam usuran agama dan dunia, sabar sangat diperlukan para da’i ketika menunaikan perintah da’wah. Ia memerlukan sabar bagi dirinya sendiri dan sabar dalam menghadapi mitra da’wahnya. Secara pribadi seorang da’i harus senantiasa bersabar dalam menjalankan kewajibannya, melawan hawa nafsunya. Sedangkan dalam hubungannya dengan mitra da’wahnya ia harus bersabar dalam mendidik dan membina mereka. Seorang da’i juga dituntut untuk sabar menghadapi gangguan orang-orang yang memusuhi da’wah. Dalam surat al-Mudatsir Allah ta’ala mengiringi perintah da’wah dengan perintah bersabar,


يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.


Pakar tafsir al-Maragi mengemukakan bahwa kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini melingkupi dua hal, sabar dalam menta’ati dan beribadah kepada Allah serta sabar dalam permusuhan dan penolakan terhadap da’wah.(14)  Perintah bersabar dalam ayat ini adalah wasiat bagi para da’i, sabar adalah persenjataan utama dalam medan pertempuran yang berat. Sayyid Quthb mengatakan, da’wah adalah medan pertempuran dengan musuh ganda, melawan penyakit hati dan syahwat pribadi serta penolakan terhadap da’wah. Pertempuran da’wah merupakan pertempuran panjang yang membutuhkan kesabaran prima.(15) 


Secara bahasa sabar berarti menahan, sebagaimana firman Allah swt, dalam surat al-Kahfi 28,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا


“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”


al-Maragi mengemukakan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk bersabar. Dalam artian menahan, menetapkan diri dan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang menyeru kepada Allah dengan mengharap keridhoan-Nya.(16)  Perintah sabar dalam berda’wah juga terdapat pada surat al-Ahqaf ayat 35. Allah mengaitkan kesabaran dengan sifat tergesa-gesa ”isti’jal”.


فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”


Kesabaran dan larangan tergesa-gesa merupakan keniscayaan bagi jalan da’wah. Karena janji Allah adalah sesuatu yang pasti, maka para da’i hendaklah bersabar dan tidak tergesa-gesa menginginkan perubahan prilaku secara instan pada mitra da’wahnya. Dalam ayat ini ketergesa-gesaan merupakan gambaran putus asanya seorang da’i atas hasil da’wahnya hingga meminta disegerakan azab bagi mereka. Menurut Sayyid Muhammad Nuh, isti’jal dalam perspektif da’wah berarti sikap ketergesaan untuk mengubah kondisi kehidupan ummat Islam dalam waktu sekejap. Tanpa memperhatikan akibatnya, tanpa menghiraukan situasi dan kondisi dan tanpa persiapan yang matang metode dan sarananya.(17)  


Dari kajian ayat-ayat di atas dapat dikatakan bahwa sabar dalam da’wah adalah menertibkan diri untuk senantiasa berada di jalan da’wah bersama-sama orang-orang yang menyeru ke jalan Allah, serta menahan diri dari perbuatan dan perkataan mitra da’wah. Tidak tergesa-gesa dalam menilai keberhasilan maupun kegagalan dalam da’wah. Termasuk dalam kesabaran adalah menahan diri dari fitnah orang-orang yang memusuhi da’wah. Sabar untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Sabar untuk tidak berhenti berda’wah ketika jenuh. Sabar untuk tidak putus asa ketika belum menuai keberhasilan.

Shidiq


Shidq adalah kejujuran dan kebenaran. Shidiq merupakan kesesuaian antara apa yang diniatkan dengan apa yang diucapkan dan dikerjakan. Akhlaq ini merupakan akhlaq yang penting bagi da’i, karena seharusnyalah da’i menjadi teladan bagi mitra da’wahnya. Dalam al-Qur’an surat al Baqarah ayat 44, Allah subhanahu wa ta’ala mensifati Bani Israil dengan ketidak-jujuran mereka,


أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”


Menjelaskan ayat ini, pakar tafsir hukum al-Qurthubi mengutip sya’ir abu al-athiyah,

“وَصَفْتَ التُّقَى حَتَّى كَأَنَّكَ ذُو تُقًى ... وَرِيحُ الْخَطَايَا مِنْ ثيابك تَسْطَعَ”.(18)  

Engkau menjelaskan ketaqwaan seakan-akan engkaulah pemiliknya, sementara aroma dosa-dosa terpancar terang dari pakaianmu.


Sementara itu dalam literatur seorang mukmin, tak mungkin ia berdusta. Kata Nabi, “bukanlah golongan kami mereka yang berdusta”.(19)  Wajib hukumnya setiap muslim beramal sholeh dan wajib pula bagi mereka menda’wahkannya. Sebaliknya wajib bagi setiap muslim menyampaikan dari Rasul-Nya walaupun 1 ayat yang dimilikinya, wajib pula mengamalkan 1 ayat yang di da’wahkannya. 


Dalam ayat ini Allah mengecam mereka yang melalaikan diri sendiri dengan da’wahnya, bukan mengecam mereka yang berda’wah. Kecaman tersebut adalah wujud kasih sayang Allah agar para juru da’wah selamat sebagaimana keselamatan yang diperoleh mitra da’wahnya. Sa’id bin Zubair ra, berkata, “لَوْ كَانَ الْمَرْءُ لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا يَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ حتى لا يكون فيه شي، ما أمر أَحَدٌ بِمَعْرُوفٍ وَلَا نَهَى عَنْ مُنْكَرٍ”(20)  seandainya seseorang tidak menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang melakukan kemungkaran agar dia tidak dikecam (karena melalaikan diri sendiri), tentu tak seorangpun yang akan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar.


Ibnu Katsir berkata, “فَكُلٌّ مِنَ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَفِعْلِهِ وَاجِبٌ، لَا يَسْقُطُ أَحَدُهُمَا بِتَرْكِ الْآخَرِ”(21)  Melakukan amar ma’ruf dan perbuatan ma’ruf hukumnya wajib, masing-masing dari keduanya tidak gugur karena tidak melakukan yang lainnya. 


Sa’id Hawwa berkata, “Wajib setiap muslim berda’wah, wajib pula bagi mereka agar tidak melalaikan dirinya sendiri.”(22)  Itulah rahasia keberhasilan da’wah, nilai-nilai itu harus tegak pada diri da’i sebelum tegak pada mad’u. Sia-sialah seruan da’i tentang zuhud terhadap kehidupan dunia, sedang dunia memenuhi segenap hatinya, menyelimuti gaya hidupnya dan mengorientasi cara berfikirnya tentang ukuran kemuliaan bagi seorang manusia. 


Terbaik dari para penyeru adalah mereka yang memadukan kata dan perbuatan, memadukan amal dan keyakinan, membuktikan kebenaran imannya dengan jihad dan pengorbanan “مَنْ ذَكَّرَكُمُ اللَّهَ رُؤْيَتُهُ وَزَادَ فِي عَمَلِكُمْ مَنْطِقُهُ وَذَكَّرَكُمْ بِالآخِرَةِ عَمَلُهُ”(23)  melihatnya menjadikanmu mengingat Allah, ucapannya meningkatkan amalmu dan amalnya membuatmu merindui akhirat.


Da’wah seharusnya lahir dari kebersihan hati seorang da’i, menginginkan kebaikan bagi ummat, ia bukan ambisi dan nafsu pribadi. Perbuatan da’i sesuai dengan jalan lurus yang digariskan. Gaya hidupnya merupakan aktualisasi perkataannya, yang terlihat darinya adalah cerminan hatinya. Jika ia mengajak kepada sesuatu ia berkomitmen dengan hal itu. Jika ia melarang sesuatu ia berkomitmen pula untuk meninggalkan hal tersebut. Da’i semacam ini meninggalkan jejak kebaikan bagi diri dan sesamanya.


نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ.(24)  

“Allah menyinari orang yang telah mendengar ucapanku, lalu dia memahaminya dengan baik dan menyampaikannya kepada orang lain persis seperti apa yang didengarnya, maka betapa banyak orang yang menyampaikan itu lebih mengerti dari pada orang yang mendengar saja.


Cinta dan Kasih Sayang


Seorang da’i wajib mengetahui bahwa risalah Islam adalah risalah kasih sayang yang dengan hal itu pula Rasulullah saw diutus,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-anbiya 107)


Demikian pula bagi para da’i, hendaknya berkasih sayang dengan mitra da’wahnya. Allah ta’ala berfirman dalam surat ali Imran 159,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ


Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.


Dalam ayat ini terdapat sejumlah prinsip besar dalam ungkapan yang singkat. Akhlaq Nabi yang mulia, pengasih dan lemah lembut merupakan rahmat ilahiyyah bagi manusia sebagai mitra da’wahnya. Menurut Sayyid Quthb kasih sayang merupakan karakter yang harus dimiliki para da’i guna menyatukan hati mitra da’wahnya. Demikian pula bermusyawarah adalah dasar atas penggerakan dan pengorganisasian masyarakat untuk mencapai kebaikan bersama.(25) 


Menurut Jum’ah Amin, termasuk keburukan seorang da’i terhadap dirinya sendiri adalah apabila ia memberat-beratkan manusia. Seakan ia melihat mereka dengan penglihatan yang hina, hingga seakan-akan ia mengatakan kepada manusia, “kalian adalah orang-orang yang fasik dalam amal kalian, kafir dalam I’tiqad serta ahli bid’ah dengan segala kebiasaan kalian.(26)  Da’i yang demikian ini pada hakikatnya bukan sedang berda’wah menyatukan ummat Islam dalam kebaikan, melainkan ia dengan sengaja memecah belah persatuan ummat. Membuat manusia lari dari da’wah, menjadikan kesulitan dalam berislam, serta menanamkan kebencian. 


Dari Anas bin Malik ra, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,

يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا، وَلاَ تُنَفِّرُوا.(27) 

“permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat jera”

Menurut an-Nawawi bahwa yang dimaksud mempermudah dalam hadits adalah pentahapan “tadarruj” dalam pembebanan. Sedangkan kabar gembira adalah berita tentang luasnya karunia dan kasih sayang Allah kepada seluruh makhluqnya.(28)  Bagi mitra da’wah pentahapan dalam pemberian beban adalah bentuk kasih sayang. Sebagaimana Allah ta’ala mentahapkan pengharaman khamr. Demikian pula Ahli maksiat yang berharap kasih sayang dan ampunan Allah, ia memerlukan pertaubatan dan menjalankan ajaran Islam sedikit demi sedikit.


Demikianlah diantara sifat cinta kasih Allah ta’ala, Ia jaga hamba-Nya agar terhindar bermaksiat, hingga hamba itu menjadi dekat kepada-Nya. Ibnu Abi Hatim bahkan mengatakan makna asma-Nya Gafur dan Rahim adalah, “غَفُورٌ لِمَا كَانَ مِنْهُمْ قَبْلَ التَّوْبَةِ رَحِيمٌ بِهِمْ بَعْدَ التَّوْبَةِ”(29)  Allah mengampuni mereka sebelum bertaubat dan melimpahkan cinta kasih-Nya kepada mereka setelah taubat. 


Demikian pula kasih sayang para da’i terhadap mitra da’wahnya adalah dalam bentuk saling menjaga diantara mereka, saling menasihati diantara mereka, ruhama-u baynahum. Menginginkan kebaikan bagi sesamanya. “kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus kehormatan ummat ini, jika memang tebusan itu yang dibutuhkan, atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita mereka, jika memang itu harga yang harus dibayar. Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap demikian selain rasa cinta yang mengharu biru hati kami, menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.”(30) 


Bahkan jika Allah menguji dengan keburukan seorang muslim, maka pertolongan pertama seorang da’i padanya adalah menyelamatkan hatinya dengan berlapang dada. Demikian pula seorang da’i dituntut kesanggupannya menggapai tangga teratas ukhuwwah -itsar- bagi saudara muslimnya yang memerlukan pertolongan. Perkataan yang baik, nasihat dengan haq dan sabar, senyum ramah dan simpati yang dalam adalah peredam bagi keburukan dan kesulitan mitra da’wah. Tiadalah kebaikan yang ringan itu menjadi sulit dan berat melainkan bagi orang-orang yang ada nifaq di hatinya.


Rasulullah saw mencontohkan bahwa keberhasilan da’wahnya diraih dengan memenuhi  kasih sayang atas nama Allah, berpegang teguh kepada tali Allah dengan menjadikan al-Qur’an dan hadits sebagai jalan hidup, menjauhi perpecahan dan menyatukan hati atas cinta kepada Allah. Atas dasar itulah seruan kejalan Allah dilakukannya.

 

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا.(31)  


Kalian bersama prasangka kalian, sesungguhnya prasangka itu seburuk-buruk perkataan, janganlah saling mencari-cari keburukan, janganlah saling mengadu domba, janganlah saling mendengki, janganlah saling bermusuhan, janganlah saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.


Bagi para da’i adalah keniscayaan untuk menjalani hidup bersama saudara muslimnya dengan mawaddah, lemah lembut, belas kasih, saling pengertian dan tolong-menolong dalam kebaikan dengan hati yang bening dan nasihat. Tidakkah kesempurnaan iman juga terukur dari kadar cinta pada sesama muslim.


KESIMPULAN

Demikianlah akhlak merupakan asas utama keteladanan dalam da’wah, ia adalah hujjah yang sanggup melawan keragu-raguan orang-orang yang bimbang, mematahkan serangan orang-orang yang membenci, serta penentram hati mereka yang mengikuti seruan da’wah. Jika para da’i ingin menang tanpa perang, tanpa melukai, tanpa rasa sakit, tanpa dendam dan permusuhan maka akhlaq adalah senjata yang harus diproduksi. Menyenangkan jika sosok da’i itu terkenal karena fitrahnya yang bersih, hatinya penyayang, jiwanya tenang, ikhlas, santun dan pembuat kebaikan.


Demikianlah akhlaq mulia para da’i, da’i yang demikian bagai mata air, mereka yang dahaga pasti meminumnya. bagai cahaya, mereka yang merasakan kegelapan pada jiwanya akan mencarinya.

 

Catatan Kaki

  1. Adam ‘Abdullah al-Wuri, Tārīkh ad-Da’wah Ilallah Baina al-Ams wa al-Yaum, (Cairo: Maktabah Wahbah, cet ke 2, 1979), hlm 18.
  2. Taufiq al-Wa’i, Da’wah ke Jalan Allah, edisi terjemah, (Jakarta: Rabbani Press, cet pertama, 2010), hlm 11. 
  3. A Ilyas Isma’il, Paradigma Dakwah Sayyid Quthb; Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Harakah, (Jakarta: Penamadani 2008), hlm 271.
  4. Menurut al-Qahthani da’wah adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Dalam bentuk da’wah fardiyyah, pelaku da’wah dituntut sesuai kesanggupannya, kapasitas dan keilmuannya. Sedang dalam bentuk da’wah jama’iyyah, pelaku da’wah dituntut bekerjasama dalam pencapaian tujuan-tujuan da’wah yang lebih luas untuk menerapkan Islam dalam seluruh sistem kehidupan manusia. Lihat Sa’id bin Wahf al-Qahthani, al-Hikmatu Fi Dawah Ilallah, (Saudi Arabia: Kementrian Urusan Islam, wakaf, da’wah dan penerangan, cetakan pertama 1423 H), hlm 120. 
  5. Muhammad Abul Fath al Bayanūnī, al Madkhal ilā Ilmi ad-Dakwah, (Beirut: Muassasatu ar-Risalah, cet 2, 1993), hlm 40.
  6. Jum’ah Amin ‘Abdul ‘Aziz, Fiqh Da’wah, edisi terjemah, (Solo: Era Intermedia, cet 3, 2000), hlm 27.
  7. Ahmad ‘Īsāwī, Manhajiyatu al-Bahts Fi al-Ittishal al-Da’wah, (Cairo: Dār al-Kitāb al-Hadīts, 2012), hlm 100.
  8. Ahmad ibn Hanbal asy-Syaibani, Musnad al Imam Ahmad, (Beirut: Muassasatu ar-Risalah, cet pertama, 2001), jilid 42, hlm 183, hadits no 25302. Shahih menurut Syua’ib al-Arnauth.
  9. ‘Abdurrahman as-Sa’di, Taysir al-Karim ar-Rahman, (Beirut: Muassasatu ar-Risalah, cet. pertama, 2000), hlm 406.
  10. Musthafa Masyhur, Fiqh Da’wah, edisi terjemah, (Jakarta: al-Itisham, cet. Ke-8, 2017), jilid 1, hlm150.
  11. ‘Abdul ‘Aziz Salman, Mawarid al-Dhoman Lidurus az-Zaman, (cet. Ke-3, 1424 H), jilid 1, hlm 183.
  12. Hadits yang dimaksud adalah “لاَ يَزَالُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ” suatu kelompok dari ummatku akan tetap berada dalam kebenaran yang nyata dan kemenangan hingga datang ketentuan Allah. Lihat Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, (Saudi Arabia: Dar Thuwaiq an-Najah. Cet. Pertama 1422 H), Jilid 4, hlm 207, hadits no 3640.
  13. Ibnu Hajar al-asqalani, Fath al-Bari, (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379 H), Jilid 1, hlm 164.
  14. Ahmab bin Musthafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi, (Mesir: perusahaan penerbitan al-Halabi, cet. Pertama, 1946), Jilid 29, hlm 127.
  15. Sayyid Quthb, Fi Dzilal al-Qur’an, (Beirut: Dar asy-Syuruq, cet. ke-17, 1412 H), Jilid 6, hlm 3755.
  16. Al-Maragi, op.cit, jilid 15, hlm 142.
  17. Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental Aktifis Harakah, edisi terjemah, (Solo: Pustaka Mantiq, cet.ke-5, 1995), hlm 81.
  18. Abu Abdullah al-Qurthubi, al-Jami’ li ahkam al-Qur’an, (Cairo: Dar al Kutub al Mishriyah, 1384 H), jilid 1, hlm 366.
  19. Teks hadits ini adalah “مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا”. Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihyau Turats al-Arabi, tth), Jilid 1, hlm 99, hadits no 164.
  20. Sa’id Hawwa, al Asas fi Tafsir, (Yordania: Dar as Salaam, 1985), jilid 1, hlm 129.
  21. Imaduddin ibn Katsir, Tafsir al Qur’an al Adzhim, (Beirut: Dar thayyibah li annashr wa attauzi’, 1420 H), jilid 1, hlm247.
  22. Sa’id Hawwa, op.cit, hlm 129.
  23. Atsar dari Ibnu Abbas ra. Lihat, Abu Ya’la al-Musholli, Musnad Abi Ya’la al Musholli, (Damaskus: Dar al Ma’mun li atturats, 1404 H), jilid 4, hlm 326, no. ke 2437. 
  24. Muhammad bin Isa at Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, (Mesir, 1395 H), jilid 5, hlm 34 hadits ke 2657, shahih menurut al Albany.
  25. Lihat Sayyid Quthb, op.cit, jilid 1, hlm 500-501.
  26. Jum’ah Amin  ‘Abdul ‘Aziz, op.cit, hlm 103.
  27. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, op.cit, jilid 1, hlm 25, hadits no 69. 
  28. Abu Zakaria an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihyau Turats al-Arabi, cet. ke-2, 1392 H),Jilid 12, hlm 41.
  29. Ar-Razi Ibnu Abi Hatim, Tafsir al-Qur’an al-Adhim, (Saudi Arabia: Maktabah Nazar, cet. ke-3, 1419 H), Jilid 7, hlm 2159.
  30. Hasan al Banna, Kumpulan Risalah Dakwah, edisi terjemah, (Jakarta: al-I’tisham, cet.ke-7, 2011), hlm 14-15. 
  31. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, op.cit, jilid 8, hlm 19 hadits ke 6064.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Give us your opinion