Tafsir Surat An-Nazi’at ayat 27-33



Sigit Suhandoyo. Setelah menjelaskan kisah tentang kesombongan Fir'aun, kelompok ayat 27-33 ini menjelaskan beberapa argumentasi tentang kekuasaan Allah atas berbagai mahluk yang diciptakan-Nya. Betapapun adikuasanya manusia, manusia hanyalah ciptaan Allah, tidak mungkin dibandingkan dengan-Nya. Penuturan tentang penciptaan manusia, langit dan bumi, siang dan malam, serta sarana kehidupan bagi manusia, menunjukkan adanya hakikat hukum-hukum Allah yang mengatur dan mengendalikan keserasian fungsi dan keberadaan ciptaan-Nya. Sementara penafsir mengemukakan bahwa kesemuanya itu menunjukkan pentingnya manusia menyadari bahwa begitu mudah dirinya dibangkitkan kembali, dan dimintai pertanggung-jawaban atas segala yang pernah dilakukannya. (tafsir al-Munir 30/44)

   

أَأَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ بَنَاهَا (27) رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا (28) وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا (29) وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا (30) أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا (31) وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا (32) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (33)


Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.


Langit yang Sempurna. Allah ta’ala berfirman, menanyakan dengan tujuan mengecam keingkaran manusia kepada-Nya. Manakah penciptaan yang lebih sulit antara manusia dan langit. Tentu dalam pandangan manusia penciptaan langit adalah jauh lebih sulit. Meski pada hakikatnya semua itu mudah bagi Allah.


Kata (السمك) dari segi bahasa berarti sesuatu yang tinggi dan jauh, dan dapat pula diartikan jarak. Pengertian ini menjadikan sementara ulama memahami kata tersebut sebagai bermakna jarak antara berbagai benda-benda langit. Menurut Shihab, Allah ta’ala menetapkan ukuran yang teliti tentang jarak benda-benda langit yang menjadikan kehidupan di bumi menjadi nyaman.(tafsir al-Misbah 15/44) 


Kemudian Allah ta’ala menyempurnakan penciptaan langit, yang tak ada padanya ketidak serasian, tidak ada kerusakan dan tidak ada kesia-siaan pada fungsinya dan keberadaannya, ((لَا تَفَاوُتَ فِيهِ، وَلَا شُقُوقَ، وَلَا فُطُورَ)). (al-Jami li Ahkam al-Qur’an 19/204).


Pakar tafsir ath-Thobari menambahkan bahwa maksud ayat ke 28 ini adalah,  

فسوّى السماء، فلا شيء أرفع من شيء، ولا شيء أخفض من شيء، ولكن جميعها مستوي الارتفاع والامتداد

Yaitu Allah  membentangkan langit, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi dari yang lain dan tidak pula yang lebih rendah dari yang lain, akan tetapi semuanya sama tinggi dan terbentang. (Jami’ al-Bayan 24/206)


Kesamaan dalam hal ketinggian dan terbentang dimungkinkan karena seluruh benda-benda langit itu beredar dan saling mengitari, peristiwa ini yang kemudian menyebabkan terjadinya siang dan malam di bumi.


Ibrah bagi orang-orang yang takut kepada Allah. Sesungguhnya kisah Musa a.s. bersama Fir'aun dan bala tentaranya merupakan pelaiaran bagi orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang yang mau mengambil nasihat. 


Dalam kisah ini dan penderitaan yang diberikan Allah kepada Fir'aun serta terwujudnya kemenangan bagi Musa a.s., terdapat sebuah pelajaran dan nasihat bagi orang yang takut kepada Allah. Di dalam kisah tersebut, terdapat penjelasan siksa yang setimpal serta sebab-sebabnya. Dengan kisah tersebut, jelaslah bagi setiap orang yang berakal pentingnya meninggalkan sifat membangkang perintah Allah SWT dan mendustakan para Nabi-Nya. Demikian juga, harus diketahui bahwa Allah SWT akan senantiasa menolong para Nabi, Rasul dan para pengikut mereka.


Adapun kata (نَكَالَ) pada ayat 25 berasal dari kata (نَكَلَ) yang berarti menghalangi atau mejadikan contoh untuk menakuti orang lain. sebagaimana dikemukakan oleh al-Alusi,

التعذيب الذي ينكل من رآه أو سمعه ويمنعه من تعاطي ما يفضي إليه

Siksaan dinamai demikian karena ia dapat menghalangi siapapun yang melihat ataupun mendengarnya serta mencegahnya untuk mengikuti hal yang menuntun kepada siksa tersebut (ruhul ma’ani 15/231). Wallahu a’lam bisshowab


Daftar Pustaka

  • Zanuddin al-Razi, Mukhtar Ash-Shahah, (Beirut: Al-Maktabah Al-‘Ashriyah, cet kelima, 1999)
  • Ar Raghib al Ashfahani, al Mufradat fi Gharib al Qur’an, (Damaskus: Daar al Qalam, 1412 H),
  • Sa’id Hawwa, al Asas fi Tafsir, (Yordania: Daar as Salam, 1405 H) 
  • Shihabuddin al-Alusi, Ruhul Ma’ani, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cet pertama, 1415 H)
  • Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Singapura: Pustaka Nasional Singapura, 1989)
  • Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Tafsir Asy-Sya’rawi, (Medan: Duta Azhar, 2016)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Give us your opinion