Senandung Para Pejuang 1



لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الحَقِّ ظَاهِرِينَ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ يَخْذُلُهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
Segolongan orang dari kalangan umatku masih terus menerus “berperang” membela perkara yang benar, orang-orang yang menentang mereka tiada membuat kemudaratan kepadanya hingga datang ketentuan Allah. (sunan at tirmidzi 4/504 hadits ke 2229, )
Kekuatan Iman, Bagi mereka yang mengetahui tujuan utama jalan hidup akan membayar tiketnya berapapun harga yang diminta. Kesulitan menjadi gairah, beban menjadi kehormatan, anugrah menambahi kekuatan dan ujian itu menjadi kemenangan. Manusia macam ini tak takut masuk angin karena mereka terbiasa selamat mengarungi badai. Jika keteguhan komitmen itu berarti perjumpaan dengan kekasih sejati maka untuk apa mencari jalan untuk berpaling.
Sungguh jika kita telah beriman dengan keimanan yang tidak diragukan lagi, tidak ada tuduhan atasnya dan tiada kebutuhan lain bagi jiwa kita selain keimanan itu, niscaya ia akan menjadi rasa dalam amal, tashawur atas akal dan bashirah atas hati. Tenang di atas jalan keselamatan.
Iman itu mengungkapkan rasa manis yang begitu nyata atas amal mereka, kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan hati. Kelezatan hati dalam menunaikan ketaatan dan kesabaran yang indah dalam menahan derita. Manis karena Allah menjadi poros segala cinta di hatinya.
Iman itu menembus batas kemampuan indera lahiriahnya. Adalah kecerdasan yang menembus batas meyakini sesuatu yang abstrak menjadi nyata dan beramal atasnya, meski tak semua itu rasional bagi akalnya. Hakikat atas wujud dan hakikat kekuatan-kekuatan yang bergerak di dalam entitas wujud adalah bukti nyata kelemahan peradaban akal manusia. “orang beriman itu cerdas dan pandai”, karena akal mereka mampu merasionalisasi hakikat di balik realita itu.
Jika bashirah -- bukti yang nyata seakan terlihat -- adalah derajat tertinggi dalam mengungkap dalil iman, maka  Para pemiliknya adalah mereka yang Rasul mulia saw gambarkan, beribadah seakan-akan melihat Allah, surga dan neraka. Dimana perbandingan apa yang diketahui padanya kepada hati adalah sebagaimana benda yang terlihat oleh pandangan mata. Hati itu ”melihat” Allah, surga dan neraka sebagaimana pandangan mata mereka melihat benda lahiriah. Sungguh pengungkapan dalil iman yang tak terbantahkan.
Seorang mukmin itu pejuang yang ahli ibadah atau ahli ibadah yang pejuang, janganlah sekali-kali engkau hanya menjadi salah satu dari keduanya. “الْمُؤْمِنُ هو الُمَتَحَامِلُ وَالمُؤْمِنُ هُوَ الْمُتَقَوِّى وَالمُؤْمِنُ هُوَ الْمُتَشَدِّدُ وَإِنَّ الْمُؤْمِنِينَ هُمُ الْعَجَاجُونَ اِلَى اللهِ اللَّيْلَ وَالنَّهَارِ” mukmin itu penjaga amanah, mukmin itu kuat, mukmin itu berkemauan keras, dan sesungguhnya mereka senantiasa mesra dalam memohon kepada Allah siang dan malam. (Qatadah)
Nenek moyang kami adalah darah dan air mata
Darah itu kami tanam pada tiap jengkal kemuliaan tanah kelahiran
Air mata itu kami bentang di atas sajadah takut, harap dan cinta.
Duhai Sang Pemilik semua jalan kembali, ijinkan kami meraih kemenangan dan gugur di jalan itu

...bersambung

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Give us your opinion