Tadabbur surat al baqarah ayat ke 28
ÙَÙْÙَ تَÙْÙُرُÙÙَ ØšِاÙÙَّÙِ ÙَÙُÙْتُÙ
ْ Ø£َÙ
ْÙَاتًا ÙَØ£َØْÙَاÙُÙ
ْ Ø«ُÙ
َّ ÙُÙ
ِÙØªُÙُÙ
ْ Ø«ُÙ
َّ ÙُØْÙِÙÙُÙ
ْ Ø«ُÙ
َّ Ø¥ِÙَÙْÙِ تُرْجَعُÙÙَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, Lalu Allah menghidupkan kamu, Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, Kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.
Pemahaman Kalimat
kalimat tanya: bagaimana. ÙَÙْÙَ : Ø§ÙØ¥Ø³ØªÙÙØ§Ù
Tidak beriman terhadap keesaan Allah, kenabian, syari'at atau kepada ketiganya. تَÙْÙُرُÙÙَ : ÙَÙَرَ – ÙَÙÙُرُ –ÙُÙْراً
Yang memisahkan kehidupan Ø£َÙ
ْÙَاتًا(ج) :Ù
َاتَ – ÙَÙ
ُÙØªُ – Ù
َÙْتاً
Bertumbuh, hidup Ø£َØْÙَا : ØَÙِÙَ – ÙَØْÙَ – ØَÙَاةً
kembali تُرْجَعُÙÙَ : رَجَعَ – Ùَرْجِعُ – رُجُÙØ¹ًا
Kandungan Ayat
a. Kecaman Terhadap Pengingkaran Manusia
Ayat ini merupakan kecaman Allah terhadap manusia yang mengingkari-Nya. Bagaimana mungkin manusia akan kafir kepada Allah padahal Dia lah yang menghidupkan dan mematikan mereka.
Muhammad Ali as Shobuni berpendapat,
استÙÙØ§Ù
ÙÙØªÙØšÙØ® Ù Ø§ÙØ¥ÙÙØ§Ø± ٠اÙÙ
عÙÙ ÙÙÙ ØªØ¬ØØ¯ÙÙ Ø§ÙØ®Ø§ÙÙ، ٠تÙÙØ±ÙÙ Ø§ÙØµØ§Ùع
Ini adalah kalimat tanya yang berfungsi untuk menghinakan dan kecaman yang artinya bagaimana mungkin kamu mengingkari Allah Penciptamu.
Hal ini sebagaimana dikemukakan pula oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya,
ÙÙÙ٠تعاÙÙ Ù
ØØªØ¬ًا عÙÙ ÙØ¬Ùد٠ÙÙØ¯Ø±ØªÙ، ÙØ£ÙÙ Ø§ÙØ®Ø§Ù٠اÙÙ
تصر٠Ù٠عؚادÙ: { ÙَÙْÙَ تَÙْÙُرُÙÙَ ØšِاÙÙَّÙِ } Ø£Ù: ÙÙÙ ØªØ¬ØØ¯ÙÙ ÙØ¬Ùد٠أ٠تعؚدÙÙ Ù
Ø¹Ù ØºÙØ±Ù!
Allah ta'ala memberikan alasan atas wujud dan kekuasaan-Nya, bahwasanya Dialah pencipta yang berhak melakukan apa saja terhadap hambanya (mengapa kamu kafir kepada Allah) bagaimana mungkin kamu sekalian menyangkal wujud Allah atau hendak beribadah kepada-Nya dengan menyembah pula kepada selain-Nya.
{ ÙَÙُÙْتُÙ
ْ Ø£َÙ
ْÙَاتًا ÙَØ£َØْÙَاÙُÙ
ْ } Ø£Ù: ÙØ¯ ÙÙØªÙ
عدÙ
ًا ÙØ£Ø®Ø±Ø¬ÙÙ
Ø¥Ù٠اÙÙØ¬Ùد، ÙÙ
ا ÙØ§Ù تعاÙÙ: { Ø£َÙ
ْ Ø®ُÙِÙُÙØ§ Ù
ِÙْ غَÙْرِ ØŽَÙْØ¡ٍ Ø£َÙ
ْ ÙُÙ
ُ اÙْØ®َاÙِÙُÙÙَ } [Ø§ÙØ·Ùر: 35]
(padahal kamu tadinya mati kemudian Allah menghidupkan kamu) dahulunya kmu sekalian tidak ada, kemudian Allah menjadikanmu menjadi berwujud. Sebagaimana firman Allah ta'ala " apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?
Dalam tafsir al manar dituliskan kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya yang juga merupakan kecaman bagi orang-orang yang ingkar,
اÙْÙَÙَاÙ
ُ Ù
ُتَّصِÙٌ ØšِÙ
َا ÙَØšْÙَÙُ ÙَÙ
ُرْتَØšِØ·ٌ ØšِÙِ ارْتِØšَاطًا Ù
ُØْÙَÙ
ًا ، ÙَاÙْØ®ِØ·َاُؚ ÙِÙْÙَاسِÙِÙÙَ اÙَّذِÙÙَ ÙَضِÙُّÙÙَ ØšِاÙْÙ
َØ«َÙِ
Kalam ini berhubungan dengan sebelumnya dan berkaitan secara hukum. Ia adalah kecaman bagi orang-orang fasik yang tersesat karena perumpamaan yang Allah berikan dalam alQur'an.
ÙَØ¥ِÙَّÙُ ÙَصَÙَÙُÙ
ْ Ø£َÙَّÙًا ØšِÙَÙْضِ اÙْعَÙْدِ اÙْØ¥ِÙَÙِÙِّ اÙْÙ
ُÙَØ«َّÙِ ، ÙَÙَØ·ْعِ Ù
َا Ø£َÙ
َرَ ØšِÙِ سُØšْØَاÙَÙُ Ø£َÙْ ÙُÙØµَÙَ ،
Maka sesungguhnya telah mensifati mereka dengan kefasikan kerena mereka telah melanggar perjanjian Allah setelah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka untuk menghubungkannya.
Ø«ُÙ
َّ Øšَعْدِ Ùَذَا اÙْØšَÙَاÙِ جَاءَ ØšِÙَذَا اÙِاسْتِÙْÙَاÙ
ِ Ø§ÙØªَّعَجُّØšِÙِّ عَÙْ صِÙَØ©ِ ÙُÙْرِÙِÙ
ْ Ù
ُÙْتَرِÙًا ØšِاÙْØšُرْÙَاÙِ اÙÙَّاصِعِ عَÙَ٠أَÙَّÙُ Ùَا ÙَجْÙَ ÙَÙُ ÙَÙَا ØŽُØšْÙَØ©َ تُسَÙِّغُ اÙْØ¥ِÙَاÙ
َØ©َ عَÙَÙْÙِ
Setelah adanya penjelasan ini datanglah ayat yang berisi pertanyaan yang mengejutkan (kecaman) tentang sifat kekafiran mereka yang berkaitan dengan petunjuk yang nyata bahwa tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan tidak ada sesuatupun yang sanggup berdiri sejajar atau melebihi Allah.
Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam fi dzilalil qur'an,
ÙØ¹Ùد ÙØ°Ø§ Ø§ÙØšÙا٠اÙÙØ§ØŽÙ ÙØ¢Ø«Ø§Ø± اÙÙÙØ± ÙØ§ÙÙØ³ÙÙ ÙÙ Ø§ÙØ£Ø±Ø¶ ÙÙÙØ§ ÙØªÙج٠إÙ٠اÙÙØ§Ø³ ؚاستÙÙØ§Ø± ÙÙØ±ÙÙ
ؚاÙÙ٠اÙÙ
ØÙ٠اÙÙ
Ù
ÙØª Ø§ÙØ®Ø§ÙÙ Ø§ÙØ±Ø§Ø²Ù اÙÙ
دؚر Ø§ÙØ¹ÙÙÙ
Ditengah penjelasan yang mengungkapkan berbagai dampak kekafiran dan kefasikan di muka bumi tersebut, disampaikan kecaman (istinkar) terhadap kekafiran manusia kepada Allah yang Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mengatur dan Maha Mengetahui.
Kekuasaan Allah menghidupkan yang mati adalah bukti yang seharusnya tidak terbantahkan oleh orang-orang kafir akan rububiyyahnya, namun orang kafir tetap saja mengingkarinya. Lebih lanjut Sayyid Quthb menjelaskannya,
ÙØ§ÙÙØ±Ø¢Ù ÙÙØ§Ø¬Ù Ø§ÙØšØŽØ± ØšÙ
ا ÙØ§ ؚد ÙÙÙ
Ù
Ù Ù
ÙØ§Ø¬Ùت٠، ÙØ§Ùاعترا٠ؚ٠، ÙØ§ÙتسÙÙÙ
ØšÙ
ÙØªØ¶ÙاتÙ
Al Qur'an menghadapkan manusia kepada sesuatu yang mau tidak mau harus dihadapi, harus diakui dan harus diterima segala konsekuensinya.
ÙÙØ§Ø¬ÙÙÙ
ØšÙ
ÙÙØš ØÙاتÙÙ
ÙØ£Ø·Ùار ÙØ¬ÙدÙÙ
. ÙÙØ¯ ÙØ§ÙÙØ§ Ø£Ù
ÙØ§ØªØ§ً ÙØ£ØÙاÙÙ
Al Qur'an menghadapkan mereka kepada rangkaian proses kehidupan mereka dan fase-fase keberadaan mereka sebelumnya mereka mati kemudian Allah menghidupkan mereka.
ÙØ§ÙÙØ§ ÙÙ ØØ§ÙØ© Ù
ÙØª ÙÙÙÙÙÙ
Ù
ÙÙØ§ Ø¥ÙÙ ØØ§ÙØ© ØÙاة ÙÙØ§ Ù
ÙØ± Ù
Ù Ù
ÙØ§Ø¬ÙØ© ÙØ°Ù Ø§ÙØÙÙÙØ© Ø§ÙØªÙ ÙØ§ ØªÙØ³Ùر ÙÙØ§ Ø¥ÙØ§ ؚاÙÙØ¯Ø±Ø© Ø§ÙØ®Ø§ÙÙØ©
Sebelumnya mereka berada dalam keadaan mati kamudian Allah mengalihkannya kepada keadaan hidup, tidak ada alasan untuk mengelak dari hakikat yang tidak bisa ditafsirkan kecuali dengan kekuasaan Maha Pencipta ini.
ÙØ§ÙÙÙØ± ؚاÙÙÙ ÙÙ Ù
ÙØ§Ø¬ÙØ© ÙØ°Ù Ø§ÙØ¯ÙØ§ØŠÙ ÙØ§ÙØ¢ÙØ§Ø¡ ÙÙØ± ÙØšÙØ ØšØŽØ¹ ، Ù
جرد Ù
Ù ÙÙ ØØ¬Ø© Ø£Ù Ø³ÙØ¯
Maka kekafiran kepada Allah dihadapan berbagai bukti dan limpahan nikmat adalah merupakan kekafiran yang sangat buruk, keji dan tidak didukung hujjah atau sandaran apapun.
Ø¥ÙÙÙ
Ø£ØÙاء ، ÙÙÙÙ
ØÙاة . ÙÙ
Ù Ø§ÙØ°Ù Ø£ÙØŽØ£ ÙÙÙ
ÙØ°Ù Ø§ÙØÙØ§Ø©؟ Ù
Ù Ø§ÙØ°Ù Ø£ÙØ¬Ø¯ ÙØ°Ù Ø§ÙØžØ§Ùرة Ø§ÙØ¬Ø¯Ùدة Ø§ÙØ²Ø§ØŠØ¯Ø© عÙÙ Ù
ا ÙÙ Ø§ÙØ£Ø±Ø¶ Ù
٠جÙ
اد Ù
ÙØª؟ Ø¥Ù Ø·ØšÙØ¹Ø© Ø§ÙØÙØ§Ø© ØŽÙØ¡ آخر ØºÙØ± Ø·ØšÙØ¹Ø© اÙÙ
ÙØª اÙÙ
ØÙØ· ØšÙØ§ ÙÙ Ø§ÙØ¬Ù
ادات . ÙÙ
٠أÙ٠جاءت؟
Sesungguhnya mereka adalah mahluk hidup. Pada diri mereka ada kehidupan. Lalu siapakah yang menciptakan kehidupan mereka?
Siapakah yang menambahkan fenomena baru pada benda mati yang ada di muka bumi ini?
Sesungguhnya karakter kehidupan tidak sama dengan karakter kematian yang meliputi benda-benda mati. Lalu darimana datangnya kehidupan itu?
Ø¥ÙÙ ÙØ§ جدÙÙ Ù
٠اÙÙØ±ÙØš Ù
Ù Ù
ÙØ§Ø¬ÙØ© ÙØ°Ø§ Ø§ÙØ³Ø€Ø§Ù Ø§ÙØ°Ù ÙÙØ عÙÙ Ø§ÙØ¹ÙÙ ÙØ§ÙÙÙØ³؛ ÙÙØ§ سؚÙÙ ÙØ°ÙÙ ÙØªØ¹ÙÙÙ Ù
Ø¬ÙØŠÙا ØšØºÙØ± ÙØ¯Ø±Ø© خاÙÙØ© ذات Ø·ØšÙØ¹Ø© Ø£Ø®Ø±Ù ØºÙØ± Ø·ØšÙØ¹Ø© اÙÙ
Ø®ÙÙÙØ§Øª .
Sungguh tidak ada gunanya mengelak dari pertanyaan yang terus mendesak akal dan jiwa ini. Tidak ada jalan untuk memberikan alasan bahwa kehidupan itu berasal bukan dari kekuasaan Maha Pencipta yang memiliki sifat lain bukan sifat mahluk.
Ù
٠أÙ٠جاءت ÙØ°Ù Ø§ÙØÙØ§Ø© Ø§ÙØªÙ تسÙÙ ÙÙ Ø§ÙØ£Ø±Ø¶ سÙÙÙØ§ آخر Ù
تÙ
ÙØ²Ø§ً ع٠ÙÙ Ù
ا Ø¹Ø¯Ø§ÙØ§ Ù
٠اÙÙ
ÙØ§Øª؟ . . ÙÙØ¯ جاءت Ù
Ù Ø¹ÙØ¯ اÙÙÙ . . ÙØ°Ø§ ÙÙ Ø£ÙØ±Øš Ø¬ÙØ§Øš
Darimana datangnya kehidupan yang menempuh jalan lain dan berbeda dari benda-benda mati di dunia ini? Sesungguhnya kehidupan itu berasal dari sisi Allah. Itulah jawaban yang paling dekat.
b. Pendapat-Pendapat Tentang Dua Kematian & Dua Kehidupan.
Beberapa riwayat dalam tafsir jami’ul bayan fi ta’wilil ayatil Qur’an mengungkapkan makna ini,
Pertama, kematian pertama adalah ketika manusia masih menjadi tanah dan kedua di alam kubur, kehidupan pertama adalah di dunia dan kedua di hari kebangkitan.
Telah diceritakan kepadaku dari al Minjab, ia berkata: berkata kepadaku Bisyr bin Imarah, dari Abi Rauq, dari ad Dhohak, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah ta’ala( ya Rabb Kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kamu dua kali pula) {al mukmin ayat 11)
ÙØ§Ù: ÙØªÙ
تُراًؚا ÙØšÙ Ø£Ù ÙØ®ÙÙÙÙ
، ÙÙØ°Ù Ù
ÙØªØ©، Ø«Ù
Ø£ØÙاÙÙ
ÙØ®ÙÙÙÙ
، ÙÙØ°Ù Ø¥ØÙاءة. Ø«Ù
ÙÙ
ÙØªÙÙ
ÙØªØ±Ø¬Ø¹Ù٠إÙ٠اÙÙØšÙر، ÙÙØ°Ù Ù
ÙØªØ© أخرÙ. Ø«Ù
ÙØšØ¹Ø«ÙÙ
ÙÙÙ
اÙÙÙØ§Ù
Ø©، ÙÙØ°Ù Ø¥ØÙاءة.ÙÙÙ
ا Ù
ÙØªØªØ§Ù ÙØÙØ§ØªØ§Ù، ÙÙÙ ÙÙÙÙ:"ÙÙ٠تÙÙØ±Ù٠ؚاÙÙÙ ÙÙÙØªÙ
Ø£Ù
ÙØ§Øªًا ÙØ£ØÙاÙÙ
Ø«Ù
ÙÙ
ÙØªÙÙ
Ø«Ù
ÙØÙÙÙÙ
، Ø«Ù
Ø¥ÙÙ٠ترجعÙÙ"
Ia berpendapat: Pada saat itu kamu sekalian adalah debu (tanah) sebelum (kemudian) Allah menciptakan kamu sekalian, dan ini disebut fase kematian. Kemudian Allah menghidupkan kamu sekalian maka diciptakanlah kamu, ini disebut fase kehidupan. Kemudian Allah mematikan kamu lalu kamu sekalian dikembalukan kedalam kubur (tanah) inilah fase kematian berikutnya. Kemudian Allah berkehendak membangkitkan kamu sekalian pada hari kiamat, inilah fase kehidupan berikutnya. Dan kedua peristiwa ini dinamakan dua kematian dan dua kehidupan. Demikianlah yang dimaksud dengan firman Allah ta’ala : “ mengapa kamu ingkar….”
Kedua, kematian pertama adalah ketika manusia masih berada pada rusuk bapak mereka.
Berkata kepada kami tentang ayat tersebut Bisyr bin Mu’adz, ia berkata: berkata kepada kami Yazid bin Zurai’, dari Sa’id dari Qatadah tentang firman Allah, “mengapa kamu kafir…” ia berpendapat:
ÙØ§ÙÙØ§ Ø£Ù
ÙØ§Øªًا ÙÙ Ø£ØµÙØ§Øš آؚا؊ÙÙ
، ÙØ£ØÙاÙÙ
اÙÙÙ ÙØ®ÙÙÙÙ
، Ø«Ù
Ø£Ù
اتÙÙ
اÙÙ
ÙØªØ© Ø§ÙØªÙ ÙØ§ ؚد Ù
ÙÙØ§، Ø«Ù
Ø£ØÙاÙÙ
ÙÙØšØ¹Ø« ÙÙÙ
اÙÙÙØ§Ù
Ø©، ÙÙÙ
ا ØÙاتا٠ÙÙ
ÙØªØªØ§Ù
Mereka itu mati ketika masih berada pada rusuk bapak mereka, kemudian Allah menghidupkan mereka dengan cara menciptakan mereka, kemudian Allah mematikan mereka dengan kematian yang sudah seharusnya (kematian di dunia) kemudian Allah menghidupkan mereka untuk bangkit pada hari kiamat. Dua peristiwa ini disebut dua kehidupan dan dua kematian.
Ketiga, yang dimaksud kematian dan kehidupan adalah terkait dengan mati dan hidupnya daya ingat dalam proses tersebut.
Ibnu Jarir ath Thobari berpendapat makna ini adalah yang paling utama. Terkait dengan penjelasan ayat ini sebagaimana telah kami kemukakan pendapat dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud “padahal kamu tadinya mati”.
Ø£Ù
ÙØ§Øªَ Ø§ÙØ°Ùر، Ø®Ù
ÙÙØ§ ÙÙ Ø£ØµÙØ§Øš آؚا؊ÙÙ
ÙØ·Ùًا، ÙØ§ تُعرÙÙÙ ÙÙØ§ تُØ°ÙØ±ÙÙ: ÙØ£ØÙاÙÙ
ØšØ¥ÙØŽØ§ØŠÙÙ
ؚ؎رًا سÙÙًّا ØØªÙ ذُÙِرتÙ
ÙØ¹ُرِÙØªÙ
ÙØَÙِÙØªÙ
،
Adalah matinya daya ingat, yang tiada mengingat apapun ketika dalam keadaan menjadi nutfah dalam tulang rusuk bapakmu, pada kondisi ini mereka semua tidak mengetahui dan mengingat sesuatupun sampai kemudian Allah menghidupkan kamu sekalian dengan menjadikanmu seorang manusia yang sempurna yang dapat mengingat sesuatu, mengetahuhi sesuatu dan hidup
Ø«Ù
ÙُÙ
ÙØªÙÙ
ØšÙØšØ¶ Ø£Ø±ÙØ§ØÙÙ
ÙØ¥Ø¹Ø§Ø¯ØªÙÙ
رُÙØ§Øªًا ÙØ§ تُعرÙÙÙ ÙÙØ§ تُØ°ÙØ±ÙÙ ÙÙ Ø§ÙØšØ±Ø²Ø® Ø¥ÙÙ ÙÙÙ
تؚعثÙÙ،
Kemudian Allah mematikan kamu dengan mengambil kembali nyawamu dan mengambalikanmu kembali pada kehancurran yakni kamu sekalian kembali tidak mengetahui dan mengingat sesuatupun di alam barzah sampai saatnya kamu sekalian dibangkitkan pada hari kiamat.
Ø«Ù
ÙØÙÙÙÙ
ؚعد ذÙÙ ØšÙÙØ® Ø§ÙØ£Ø±ÙØ§Ø ÙÙÙÙ
ÙØšØ¹Ø« Ø§ÙØ³Ø§Ø¹Ø© ÙØµَÙØØ© اÙÙÙØ§Ù
Ø©
Kemudian Allah kembali menghidupkan kamu sekalian setelah peristiwa yang demikian itu dengan meniupkan kembali nyawamu kepadamu untuk waktu berbangkit dan untuk memenuhi seruan hari kiamat.
c. Isyarat Allah Agar Manusia Mamanfaatkan Kehidupannya Yang Pertama.
Syaikh Muhammad Rasyhid Ridho memberikan hikmah dalam tafsirnya terkait dengan ayat ini,
Ø¥ِÙَّا Ù
َا تَÙُÙÙُ ØšِÙِ اÙْØَÙَاةُ Ø§ÙØ«َّاÙِÙَØ©ُ Ø£َرْÙَÙ ÙِÙ Ù
َرْتَØšَØ©ِ اÙْÙُجُÙØ¯ِ ÙَØ£َÙْÙ
َÙَ ÙِÙ
َÙْ ÙُزَÙُّÙÙَ Ø£َÙْÙُسَÙُÙ
ْ Ùِ٠تِÙْÙَ ، ÙَØ£َدْÙَÙ Ù
ِÙْÙَا ÙَØ£َسْÙَÙَ ÙِÙÙ
َÙْ ÙَدُسُّÙÙَÙَا ÙَÙُÙْسِدُÙÙَ ÙِØ·ْرَتَÙَا
Dalam kehidupan yang kedua ini martabat manusia dapat lebih tinggi dan lebih sempurna ketika seseorang itu membersihkan (mensucikan) diri mereka dan sebaliknya keadaan mereka pada kehidupan yang kedua dapat lebih rendah makanala mereka mengotori kehidupan (pertama) tersebut dan merusak fitrah kehidupan itu sendiri.
Sebagaimana firman Allah dalam surat asy syams,
(Ùَدْ Ø£َÙْÙَØَ Ù
َÙْ زَÙَّاÙَا ÙَÙَدْ Ø®َاَؚ Ù
َÙْ دَسَّاÙَا)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.
Demikian pula Allah mengutus para Rasul untuk melakukan tugasnya menyeru manusia kepada-Nya. Agar manusia selamat dalam kehidupan keduanya.
ÙَÙَØšْعَØ«ُ ÙِÙÙُÙ
ْ رَسُÙÙًا Ù
ِÙْÙُÙ
ْ ÙَتْÙُ٠عَÙَÙْÙُÙ
ْ Ø¢ÙَاتِÙِ ÙَÙُزَÙِّÙÙُÙ
ْ ÙَÙُعَÙِّÙ
ُÙُÙ
ُ اÙْÙِتَاَؚ ÙَاÙْØِÙْÙ
َØ©َ ، ÙَÙُعَÙِّÙ
ُÙُÙ
ْ Ù
َا ÙَÙ
ْ تَÙُÙÙُÙØ§ تَعْÙَÙ
ُÙÙَ Ù
ِÙْ ÙِÙَاÙ
ِ Ù
َصَاÙِØِÙُÙ
ْ ÙِÙ ØَÙَاتِÙُÙ
ُ اÙْØ£ُÙÙَÙ ، ÙَسَعَادَتِÙُÙ
ْ ÙِÙ ØَÙَاتِÙُÙ
ُ اÙْØ£ُØ®ْرَÙ ؟
Dan Allah mengutus seorang rasul dari golongan mereka sendiri untuk membacakan ayat-ayat Allah lalu kemudian mereka dapat mensucikan diri mereka dan diajarkan kepada mereka kitab dan hikmah dan diajarkan pula kepada mereka hal-hal yang tidak mereka ketahui agar menjadi kemaslahatan bagi kehidupan mereka yang pertama dan untuk kebahagiaan hidup mereka yang lain (akhirat).
d. Kepada Allah Manusia Kembali
Sesungguhnya inilah permasalahan terbesar kehidupan manusia, bahwa ia akan dikembalikan kepada Allah, sehingga dengan demikian dirinya akan dihisab dan dibalasi sesuai dengan amalannya. Hisab adalah sebuah keniscayaan, karenanya kehidupan menjadi baik dan teratur, jika tidak ada hisab maka merugilah manusia yang taat dan beruntunglah manusia yang diperbudak nafsunya selama di dunia.
Syaikh Muhammad Ali Ash Shobuni menegaskan tentang hal ini dalam tafsirnya,
Ø«Ù
ّ Ø¥ÙÙ٠ترجعÙÙ ÙÙØØ³Ø§Øš Ù Ø§ÙØ¬Ø²Ø§Ø¡ ÙÙÙ
اÙÙØŽÙر
Kemudian kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan adalah untuk dihisab dan diberikan balasan di hari berbangkit.
Demikian pula dikemukakan oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridho,
ÙَÙُÙَØšِّØŠُÙُÙ
ْ ØšِÙ
َا عَÙ
ِÙْتُÙ
ْ ، ÙَÙُØَاسِØšُÙُÙ
ْ عَÙَÙ Ù
َا ÙَدَّÙ
ْتُÙ
ْ ، ÙَÙُجَازِÙÙُÙ
ْ ØšِÙِ
Kemudian kepada Allahlah mereka dikembalikan maka pada hari itu diberitakan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat, dan dihitung apa yang telah mereka kerjakan, dan diberikan balasannya kepada mereka.
Al Imam Ibnu Jarir ath Thobari lebih jelas menggambarkan kondisi manusia ketika dibangkitkan,
ÙØ£Ù اÙÙÙ Ø¬Ù Ø«ÙØ§Ø€Ù ÙØÙÙÙÙ
ÙÙ ÙØšÙرÙÙ
ÙØšÙَ ØØŽØ±ÙÙ
، Ø«Ù
ÙØØŽØ±ÙÙ
ÙÙ
ÙÙÙ Ø§ÙØØ³Ø§Øš، ÙÙ
ا ÙØ§Ù Ø¬Ù Ø°ÙØ±Ù
Karena sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung akan menghidupkan mereka dalam kuburan mereka sebelum mereka dihimpunkan. Kemudian Allah mengumpulkan mereka semua ke suatu tempat untuk dihitung segala amalannya, sebagaimana firman Allah dalam surat al ma’arij.
( ÙَÙْÙ
َ ÙَØ®ْرُجُÙÙَ Ù
ِÙَ Ø§ÙØ£Ø¬ْدَاثِ سِرَاعًا ÙَØ£َÙَّÙُÙ
ْ Ø¥ِÙَÙ ÙُصُØšٍ ÙُÙÙِضُÙÙَ ) [Ø³ÙØ±Ø© اÙÙ
عارج: 43]
Yaitu pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia) . Dan firman Allah dalam surat yasin.
ÙÙØ§ÙL ÙَÙُÙِØ®َ ÙِÙ Ø§ÙØµُّÙØ±ِ ÙَØ¥ِذَا ÙُÙ
ْ Ù
ِÙَ Ø§ÙØ£Ø¬ْدَاثِ Ø¥ِÙَ٠رَØšِّÙِÙ
ْ ÙَÙْسِÙُÙÙَ ) [Ø³ÙØ±Ø© ÙØ³: 51]
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) Tuhan mereka.
Sayyid Quthb menutup pembahasan ayat ini dengan sebuah kesimpulan yang indah,
ÙÙ
ا ؚدأÙÙ
ØªØ¹ÙØ¯ÙÙ ، ÙÙÙ
ا ذرأÙÙ
ÙÙ Ø§ÙØ£Ø±Ø¶ ØªØØŽØ±ÙÙ ، ÙÙÙ
ا Ø§ÙØ·ÙÙØªÙ
ؚإرادت٠Ù
٠عاÙÙ
اÙÙ
ÙØª Ø¥Ù٠عاÙÙ
Ø§ÙØÙØ§Ø© ، ترجعÙ٠إÙÙÙ ÙÙÙ
ض٠ÙÙÙÙ
ØÙÙ
Ù ÙÙÙØ¶Ù ÙÙÙÙ
ÙØ¶Ø§Ø¡Ù . .
Seperti pertama kali Allah menciptakan kamu, demikian pula kamu akan dikembalikan. Sebagaimana Allah menciptakan kamu di muka bumi, demikian pula kamu akan dikumpulkan. Sebagaimana kamu beralih dengan kehendak-Nya dari alam kematian ke alam kehidupan, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya untuk menerima keputusan dan ketentuan-Nya.
ÙÙÙØ°Ø§ ÙÙ Ø¢ÙØ© ÙØ§ØØ¯Ø© ÙØµÙرة ÙُÙØªØ Ø³Ø¬Ù Ø§ÙØÙØ§Ø© ÙÙÙØ§ ÙÙُØ·ÙÙ ، ÙØªُعرض ÙÙ ÙÙ
ضة ØµÙØ±Ø© Ø§ÙØšØŽØ±ÙØ© ÙÙ ÙØšØ¶Ø© Ø§ÙØšØ§Ø±ØŠ : ÙÙØŽØ±Ùا Ù
Ù ÙÙ
ÙØ¯ اÙÙ
ÙØª Ø£ÙÙ Ù
رة ، Ø«Ù
ÙÙØšØ¶Ùا ØšÙØ¯ اÙÙ
ÙØª ÙÙ Ø§ÙØ£ÙÙÙ ، Ø«Ù
ÙØÙÙÙØ§ ÙØ±Ø© أخر٠، ÙØ¥ÙÙÙ Ù
Ø±Ø¬Ø¹ÙØ§ ÙÙ Ø§ÙØ¢Ø®Ø±Ø© ، ÙÙ
ا ÙØ§Ùت Ù
ÙÙ ÙØŽØ£ØªÙا ÙÙ Ø§ÙØ£ÙÙÙ
Demikianlah dalam satu ayat yang pendek lembaran kehidupan seluruhnya dibuka dan dilipat, dan dalam sekilas dipaparkan gambaran manusia yang tengah berada dalam genggaman Tuhan Yang Maha Pencipta. Dia membangkitkan pertama kali dari benda-benda mati, kemudian Dia menggenggamnya dengan tangan kematian yang pertama, kemudian Dia menghidupkannya lagi, lalu kepada-Nya mereka dikembalikan lagi di akhirat, Sebagaimana penciptaannya yang pertama kali berasal dari-Nya
. . ÙÙÙ ÙØ°Ø§ Ø§ÙØ§Ø³ØªØ¹Ø±Ø§Ø¶ Ø§ÙØ³Ø±Ùع ÙØ±ØªØ³Ù
؞٠اÙÙØ¯Ø±Ø© اÙÙØ§Ø¯Ø±Ø© ، ÙÙÙÙÙ ÙÙ Ø§ÙØØ³ Ø¥ÙØØ§Ø¡Ø§ØªÙ Ø§ÙÙ
؀ثرة Ø§ÙØ¹Ù
ÙÙØ© .
Dalam penjelasan singkat ini tergambarkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, dan tergores kesan yang mendalam di dalam jiwa.
Diadaptasi secara bebas dari:
Mushofa, Ibrahim et.al, Mu’jam al Wasith., Maktabah Islamiyyah Turki. tt.
Ath-Thobari, Muhammad bin Jarir, Jami’ul Bayan fi Tafsiril Ayatil Qur’an, Maktabah Syamilah.
Ibnu Katsir, Imaduddin, Tafsir al Qur’anul Adzhim, Maktabah Syamilah.
As Shobuni, Muhammad Ali, Shofwatu at Tafaasir, Daarus Shobuni, Makkah al Mukarramah, tt
Rasyid, Muhammad, Tafsir al Qur’anul Hakiim (Tafsir al Manar), maktabah syamilah.
Quthb, Sayyid, Fii Dzilal al Qur’an, Darus Syuruq, Mesir, Cet 10 1982M.
