Keutamaan Dakwah Kepada Allah



Sigit Suhandoyo

Pendahuluan

Da’wah adalah sebuah aktifitas yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Ia adalah keniscayaan bagi kemaslahatan bangsa. Melalui da’wah maka dengan ijin Allah ummat Islam akan sampai pada kejayaan, keagungan dan kepemimpinan. Demikian agungnya aktifitas da’wah, dalam banyak ayat dan ḫadits Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya menjanjikan kepada para pelaku da’wah (dā’i) kemuliaan di dunia dan akhirat.


Pembahasan tentang keutamaan da’wah menjadi penting dalam rangka memotivasi ummat Islam agar tidak mengabaikan perintah da’wah, bersemangat dalam berda’wah serta bersabar di atas jalan da’wah.


Pembahasan

A. Da’wah Merupakan Sebaik-Baik Aktifitas.


Allah ta’ala mensifati da’wah sebagai sebaik-baik aktifitas, sebagaimana firman-Nya dalam surat al Fushilat ayat 33,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"” 


Ayat ini dimulai dengan bentuk pertanyaan (istifhām) yang bermakna al-nafī al-mutaqarir, Sehingga maksudnya adalah tidak ada sesuatu perkataan pun yang lebih baik kecuali da’wah. Sedangkan teks “qaulan” berarti “kalām, tharīqah dan ḫāl”(1)  atau  perkataan, metode maupun keadaan. Dengan demikian dapatlah diartikan bahwa seluruh aktifitas da’wah merupakan sebaik-baik aktifitas.


Menurut para pakar tafsir, yang dimaksud orang yang menyeru kepada Allah dalam ayat ini adalah, Nabi Muhammad saw, para Nabi Allah, para da’i, Imam ummat Islam dan Mu’adzin.(2)  Karena mereka inilah orang-orang yang menyeru kepada perbuatan baik (ibadah) dan kemudian bersama-sama melaksanakannya. 


Pakar tafsir Abdurrazaq ash-shan’ānī (w. 211 H) mengemukakan bahwa para pelaku da’wah adalah wakil Allah, orang-orang pilihan terbaik yang Allah cintai. Mereka menjawab panggilan Allah untuk menyeru kejalan Allah dengan berda’wah kepada seluruh manusia dengan senantiasa beramal sholeh dalam da’wahnya. Mereka itu adalah para khalifah Allah yang sesungguhnya.(3)  Allah juga mensifati mereka sebagai da’i sejati, yang sesuai perkataan dan amalnya, baik dalam keramaian maupun ketika sendirian.(4)  Allah lapangkan hati mereka dengan keikhlasan, Allah mudahkan segala perkara kehidupan mereka dengan keridho’an-Nya.(5) 


Demikian mulianya kedudukan mereka disisi Allah, hingga Sayyid Quthb mengemukakan, ” و على الداعية أن تتلقى كلمته بالإعراض، أو بسوء الأدب، أو بالتبجح في الإنكار. فهو إنما يتقدم بالحسنة. فهو في المقام الرفيع”(6)  Tidaklah pantas seruan seorang da’i disikapi dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dengan membawa kebaikan, mereka itu berada dalam kedudukan yang amat mulia.


Demikianlah ayat ini merupakan penetapan dan sanjungan bagi para dā’i bahwa tidak ada seorangpun yang lebih baik aktifitasnya dari mereka, terutama para Nabi dan Rasul, kemudian para pengikutnya sesuai tingkatan mereka dalam berperan di jalan da’wah.


B. Pahala yang Besar


Allah ta’ala menetapkan balasan pahala yang besar bagi para da’i. Hal ini sebagaimana sebuah riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw telah bersabda,

«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»(7) 

“Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, ia berhak mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, ia berhak mendapat dosanya seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun”


Hadits ini seharusnya bisa menjadi motivasi yang kuat “targibun ‘adhīm”, bagi para dā’ī di jalan Allah karena mereka telah meneruskan tugas para Nabi dan Rasul. al-Khaulī mengemukakan, “بيّن الرسول صلى الله عليه وسلم أن الداعي إلى الهدى له من الأجر والثواب مثل من اتبعه مع استيفاء التابعين أجورهم كاملة”(8)  bahwa Rasulullah telah menjelaskan bagi para dā’ī dijalan Allah tersedia ganjaran dan pahala yang besar sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, termasuk pula pahala dari para pengikut selanjutnya secara sempurna. Dengan demikian selama masih ada orang-orang yang mengerjakan kebaikan yang pernah diajarkannya, maka masih mengalir pahala baginya.


Keterangan semacam ini juga tertera dalam hadits berikut yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ.(9)  

“Jika seorang manusia wafat terputuslah amalnya kecuali tiga hal; shodaqoh jariyah, ilmu yang  bermanfaat dan anak shaleh yang senantiasa mendo’a baginya.


Bagi para da’i yang meninggalkan ilmunya diantara manusia, memberikan petunjuk kepada kebaikan, petunjuk menuju surga Allah dan mencintai-Nya, maka tidak akan terputus kebaikan yang mengalir kepadanya. Setiap perbuatan orang yang beramal sholeh, atau belajarnya seorang pelajar maka Allah tuliskan bagi mereka pahala atas investasi kebaikan yang pernah mereka tanamkan.


Penjelasan selanjutnya tentang pahala bagi para dā’ī terdapat dalam sebuah ḫadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad, bahwasanya pada saat perang khaibar Rasulullah saw telah berkata kepada ‘Ali,

«انفذ على رسلك حتى تنزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام، وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلاً واحداً خير لك من أن يكون لك حمر النعم»(10) 

“Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah”


Menurut Ibnu al-Anbarī, yang dimaksud “ḫumru an-ni’am” atau unta merah dalam hadits ini adalah sebuah kiasan yang menunjukkan “كرامها وأعلاها منزلة”(11)  yaitu kemuliaan dan ketinggian kedudukan bagi dā’ī yang melaluinya Allah memberikan hidayah kepada mitra da'wahnya. Dikatakan pula bahwa kata ini merupakan kiasan  dari kebaikan yang melebihi dunia dan seisinya “كناية عَنْ خَيْرِ الدُّنْيَا كُلِّهِ”(12) . 


Dapatlah dikatakan bahwa unta merah pada masa itu merupakan harta kendaraan yang paling berharga bagi orang Arab. Pakar ḫadits an Nawawi menjelaskan penggunaan kata unta merah ini merupakan analogi perkara akhirat dengan gejala-gejala keduniaan ”تَشْبِيهُ أُمُورِ الْآخِرَةِ بِأَعْرَاضِ الدُّنْيَا”.(13)  Unta merah sebagai kendaraan dunia yang paling berharga digunakan untuk mendekatkan pemahaman akan keutamaan balasan di akhirat. Meski demikian --masih menurut an-Nawawi--, analogi apapun yang Allah berikan tentang keadaan akhirat, sesungguhnya manusia tidak akan sanggup membayangkannya karena keadaan akhirat pasti lebih baik dan manusia memang memiliki keterbatasan akan hal tersebut. 


Para dā’ī juga dimuliakan Allah dengan memerintahkan makhluq-Nya untuk mendo’akan mereka. Hal ini tertera dalam sebuah riwayat dari Abū Umamah al Bahilī, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ (14). 

“Sesungguhnya Allah swt, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu bershalawat bagi orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”


Teks “layushollūna” pada hadits ini adalah mendo’akan kebaikan.(15)  Al-Munawi menuliskan bahwa Allah menurunkan kasih-sayang, para malaikat dan berbagai mahluk Allah memohonkan ampunan dan berdo’a bagi kebaikan para dā’ī.(16) 


C. Ummat Terbaik


Da’wah adalah tugas terbesar Nabi Muhammad SAW, yang merupakan keberadaan para nabi dan utusan, dan setelah mereka para ulama, para da’i, pemimpin ummat, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kecerdasan. Allah ta’ala mensifati mereka yang bekerjasama dalam da’wah sebagai khairu ummah. Allah berfirman dalam surat ali Imran 104,


كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. 


Sayyid Quthb menafsirkan masyarakat terbaik adalah masyarakat da’wah yang memiliki kedudukan khusus disisi Allah, “إنها حركة خفية المسرى، لطيفة الدبيب. حركة تخرج على مسرح الوجود أمة. أمة ذات دور خاص. لها مقام خاص، ولها حساب خاص”(17)   Ia adalah suatu gerakan yang halus yang rahasia, suatu gerakan yang indah yang merayap perlahan, namun gerakan ini sanggup mengeluarkan ummat kepentas dunia, ummat yang memiliki peranan khusus, maqam khusus dan hisab yang khusus pula.


Karena dalam perspektif Sayyid Quthb da’wah tak mesti harus melalui podium-podium, disambut oleh banyaknya pendengar atau gebyar kegiatan yang meriah. Melainkan da’wah merayap secara masif melalui keluhuran akhlaq setiap da’inya. Senantiasa berwajah ceria, memuliakan tetangga, menghormati yang tua, menyayangi yang muda, menutup aib saudaranya, meringankan beban orang lain, dsb adalah gerakan da’wah indah yang merayap perlahan namun masif.


Al mawardi mengatakan, “أَصْلِحْ نَفْسَك لِنَفْسِك يَكُنْ النَّاسُ تَبَعًا لَك”(18)  perbaikilah dirimu niscaya manusia akan mengikutimu. Muhammad Mahmud al Hijazi berkata “أصلح نفسك ثم ادع غيرك، ولا شك أن مرتبة دعوة الغير إلى الهدى والخير مرتبة عالية، ولا يلقاها إلا أفراد قلائل زكت نفوسهم وطهرت أرواحهم وامتلأت إيمانا ويقينا”(19)  perbaikilah dirimu kemudian serulah kepada orang lain, dan jangan ragu sesungguhnya berda’wah kepada orang lain hingga mendapatkan petunjuk dan kebaikan adalah dejarat yang tinggi, dan derajat yang mulia itu tidak diberikan Allah kecuali kepada sebagian kecil manusia yang mensucikan jiwa dan ruhnya serta memenuhi dirinya dengan iman dan keyakinan.


Pendapat lain tentang masyarakat terbaik adalah yang dikemukakan oleh al Qurthubi. Penyebab generasi pertama disebut sebagai masyarakat terbaik adalah karena kerapihan mereka bekerjasama dalam kebaikan, bahwasanya Abu Hurairah ra berkata, “نَحْنُ خَيْرُ النَّاسِ لِلنَّاسِ نَسُوقُهُمْ بِالسَّلَاسِلِ إِلَى الْإِسْلَامِ”(20)  Kami manusia terbaik diantara manusia karena mengajak manusia secara terkoordinir kepada Islam.”


Hamzah Manshur berkata,” إن الرسالة العظيمة تحتاج إلى قدر عال من الالتزام للنهوض بها” (21) . “Sesungguhnya risalah yang agung ini membutuhkan semua kekuatan terbaik dari komitmen untuk kebangkitannya. Demikianlah da’wah membangun masyarakat Islam, ia merupakan sebuah kerja besar yang membutuhkan banyak sumber daya. Selanjutnya Hamzah Manshur menambahkan, “da’wah merupakan kepentingan mulia yang mendesak, jalan yang tidak terukur, jalur sulit pendakian yang banyak. Hal ini akan menumbuhkan keragu-raguan bersikap dan keinginan menarik diri dari aktifitas amal.” Lemahnya perencanaan, minimnya keteladanan, serta tujuan yang samar adalah bukti pentingnya pengorganisasian da’wah.


Miqdad Yaljan menguraikan bahwa masyarakat terbaik yang dijanjikan memiliki beberapa karakteristik yaitu, Pertama, Masyarakat yang senantiasa memiliki semangat meyebarkan kebaikan. Kedua, masyarakat yang memilki semangat ukhuwwah insaniyyah. Ketiga, masyarakat yang senantiasa memperluas persatuan dan kekuatan. Keempat, masyarakat yang berorientasi kepada kemaslahatan bersama. Kelima, masyarakat yang memiliki semangat tunduk pada peraturan. Keenam, masyarakat yang semangat meraih kemajuan di berbagai bidang. (22) 


D. Terhindar dari Azab Allah.


Allah ta’ala berfirman dalam surat al-A’rāf ayat 165,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.”


Pakar tafsir al-Wahidi mengutip pendapat Ibnu Zaid, bahwa ayat ini merupakan peringatan yang keras bagi mereka yang meninggalkan da’wah(23).   Menurut ‘Ikrimah keberadaan “Firqatu an-Nāhiyah” golongan yang melarang dari berbuat mungkar adalah fardhu kifāyah.(24)  Artinya harus selalu ada sekelompok ummat Islam yang senantiasa berda’wah, dan fardhu kifāyah itu tetap menjadi fardhu ‘ain hingga ia di tegakkan. Demikianlah Allah selamatkan golongan yang berda’wah dan Dia azab golongan yang membangkang. Aktifitas da’wah adalah kontrol sosial yang harus dilakukan untuk mendominasi kehidupan agar Allah melimpahkan keberkahan.


Da’wah adalah kebutuhan masyarakat. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan keamanan bersama. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda,


مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا، وَنَجَوْا جَمِيعًا.(25) 


“Perumpamaan orang-orang yang senantiasa melaksanakan hukum-hukum Allah dan orang yang terperosok di dalamnya adalah laksana orang-orang yang membagi tempat dalam suatu bahtera, sebagian orang diatasnya dan sebagian dibawahnya. ketika orang-orang yang berada dibawah memerlukan air, tentu mereka harus melintasi orang-orang yang dibagian atas. kemudian mereka berkata, “kami akan lubangi saja bagian bawah ini.” jika mereka membiarkan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang dibagian bawah, niscaya akan binasalah semua. Namun bila mereka mencegah perbuatan tersebut, maka akan selamat dan selamatlah semuanya”


Melalui hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memberikan sebuah perumpaan yang indah tentang da’wah sebagai sebuah kebutuhan sosial. Sebab sebuah kesalahan sebagian pihak tidak hanya berdampak negatif pada lingkup individu semata melainkan juga pada lingkup sosial yang lebih luas. Terlaksananya tugas da’wah bagi masyarakat berbanding lurus dengan keselamatan dan eksistensi masyarakat tersebut. 


Keselamatan masyarakat karena da’wah juga tertera pada sebuah riwayat dari Hudzaifah ibn al-Yaman, bahwasanya Rasulullah telah bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ.(26) 

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian”


Hadits ini merupakan peringatan atas pengabaian da’wah. Menurut al-Qari, Rasulullah saw bersumpah, demi Allah jika salah satu perkara dari menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran diabaikan, niscaya Allah akan menurunkan Azab seraya menutup pintu bagi do’a-do’a yang dipanjatkan sebagai hukuman karena mengabaikan da’wah.(27) 


Kesimpulan

Demikianlah da’wah merupakan tuntutan terbesar dalam agama. Ia adalah keniscayaan yang diilhamkan kepada semua Nabi dan Rasul. Diantara rintangan permasalahan ummat yang kompleks maupun tantangan dari kalangan yang membenci da’wah, Allah menetapkan berbagai keutamaan dan pahala yang besar bagi para da’i di dunia dan akhirat.

Nilai penting dari kajian keutamaan-keutamaan da’wah adalah sebagai motivasi untuk senantiasa bersabar melakukan aktifitas da’wah. 

 

Catatan Kaki

  1. ‘Abdurrahmān as-Sa’dī, Taisīr al-Karīm ar-Rahmān, (Beirut: Muassasatu ar-Risālah, cet pertama, 2000), Jilid 1, hlm 796.
  2. Lihat Abū Ja’far ath-Thobarī, Jāmi’ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān, (Beirut: Muassasatu ar-Risālah, cet pertama, 2000), Jilid 21, hlm 468. Lihat Juga   Abū Ishāq ats-Tsa’labī, al-Kasyfu wal Bayān ‘an Tafsīr al-Qur’an, (Beirut: Dār Ihyāu Turats al-Arabī, cet pertama, 2002), Jilid 8, hlm 296. Lihat Juga Abū Muhammad al-Bagawī, Ma’ālim at-Tanzīl Fī Tafsīr al-Qur’ān, ( Beirut: Dār Ihyāu Turats al-Arabī, cet pertama, 1420 H), Jilid 4, hlm 132.
  3. Abdurrazaq ash-shan’ānī, Tafsīr Abdurrazaq, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. pertama, 1419 H), Jilid 3, hlm 155. 
  4. Abū Ja’far ath-Thobarī, Op.cit, Jilid 21, hlm 469.
  5. ‘Abdul Karīm al-Qusyairī, Lathāifu al-Isārāt, (Mesir: al-Haiatu al-Mishriyatu al-‘Āmah lil Kitab, tth ), Jilid 3, hlm 331.
  6. Sayyid Quthb, Fī Dzilāl al-Qur’ān, (Beirut: Dār asy-Syurūq, 1412 H), Jilid 5, hlm 3121.
  7. Muslim bin Hajjaj an Naisabūry, Shahīh Muslim, (Beirut: Dār Ihyāu Turats al-‘Arabiy, tth), Jilid 4, hlm 2060, hadits no 2674.
  8. Muhammad ‘Abdul ‘Azīz al-Khaulī, al-Adab an-Nabawī, (Beirut: Dār al-Ma’rifah, Cet. Ke-4, 1423 H), hlm 211.
  9. Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, (Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa al-Baaby al-Halaby, cet kedua 1975), Jilid 3, hlm 652, hadits no 1376. Tirmidzi menshahihkan hadits.
  10. Muhammad bin Isma’il al Bukhari, Shahīh al-Bukhārī, (Riyadh: Dār Thuwaiq an-Najah, cet. pertama 1422 H), Jilid 4, hlm 60, hadits no. 3009.
  11. Sebagaimana dikutip oleh Ibnu bathāl, Syarh Shahīh al-Bukhārī li Ibn Bathāl, (Riyadh: Maktabatu ar-Rusyd, cet. ke-2, 2003), Jilid 5, hlm 166. 
  12. ‘Abdurrahmān al-Mubārakfūrī, Tuḫfatu al-Aḫwadzi bi Syarh Jāmi’ at-Tirmidzī, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, tth), Jilid 10, hlm 157.
  13. Abu Zakariya an-Nawawi, al-Minḫāj Syarḫ Shaḫīḫ Muslim, (Beirut: Dār Ihyāu Turats al-‘Arabiy, cet. ke-2 1392 H), Jilid 15, hlm 178. 
  14. Muhammad bin ‘Isya at-Tirmidzī, al-Jāmi’ al-Kabīr, (Beirut: Dār al-Garb al-Islāmī), Jilid 4, hlm 347, hadits no 2685. Tirmidzi menshahihkan ḫadits.
  15. Al-Malā ‘Alī al-Qārī, Mirqāt al-Mafātīh Syarh Misykāt al-Mashābīh, (Beirut: Dār al-Fikr, Cet. Pertama, 1422 H), Jilid 1, hlm 298.
  16. Zainuddin al Munawi, at-Taysīr bi Syarh al-Jāmi’ ash-Shagīr, (Riyadh: Maktabah al-Imām asy-Syāfi’ī, cet ke-3, 1988),Jilid 2, hlm 170.
  17. Sayyid Quthb, op.cit, jilid 1, hlm 447.
  18. Al Mawardi, Adab ad-Dunya wa ad-Diin, (Dar al-Maktabah al-Hayah,1986), hlm 358.
  19. Muhammad Mahmud al Hijazy, at Tafsir al Wadhih, (Beirut: Dar al-Jalil al-Jadid, 1413 H), jilid 3, hlm 340.
  20. yamsuddin al-Qurthubi, al Jami’ li Ahkam al Qur’an, (Qahirah: Daar al Kutub al Mishriyah, 1384 H), jilid 4, hlm 170.
  21. Hamzah Manshur, Hakadza ‘Alimtuny Da’wah al Ikhwan al-Muslimin, (Libanon: Dār al Furqān, 1419 H),  hlm 24.
  22. Miqdad Yaljan, Peranan Pendidikan Akhlaq Islam dalam Pembentukan Individu, Masyarakat dan Peradaban manusia, terjemahan Dr. Azra’ie Zakaria, MA. (Jakarta: LP2M Universitas Islam Asy Stafi’iyyah, 2011), hlm .87. 
  23. Abū al-Hasan ‘Alī Al-Wahīdī, al-Wasīth fī Tafsīr al-Qur’ān al Majīd, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. pertama, 1994), Jilid 2, hlm 420.
  24. Sebagaimana dikutip Aḫmad Ibnu ‘Ajībah, al-Bahru al-Madīd Fi Tafsīr al-Qur’ān al-Majīd, (Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, 2009) Jilid 2, hlm 274.
  25. Muhammad bin Isma’il al Bukhāri, op.cit,  Jilid 3, hlm 139, hadits no 2493.
  26. Muhammad bin ‘Isya at-Tirmidzī, op.cit, Jilid 4, hlm 38, hadits no 2169. Tirmidzi menghasankan ḫadits.
  27. Al-Malā ‘alî al-Qāri, op.cit, Jilid 8, hlm 3211.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »
Give us your opinion